Press "Enter" to skip to content

Reuni Alumni Sekolah Tionghoa, Ajang Temu Kangen Bukan Bangun Relasi Bisnis

Social Media Share

Prof. Satyanegara (ketiga dari kiri), Alam Surjaputra (keempat dari kanan), bersama para alumni salah satu sekolah Tionghoa angkatan 1940–1960-an saat menggelar reuni kecil yang berlangsung secara spontan di Jakarta. (Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Reuni alumni sekolah Tionghoa di Indonesia, khususnya angkatan 1940–1960-an, termasuk alumni sekolah Tionghoa di Semarang, Jawa Tengah, tidak selalu identik dengan ajang membangun business networking atau mengungkit kenakalan masa sekolah. Sebaliknya, sebagian besar alumni mengaku mengikuti reuni semata-mata untuk melepas rindu dan bersenang-senang bersama.

“Setiap kali reuni, kami tidak lagi bercerita soal masa lalu, termasuk berkelahi atau dihukum guru. Kami sudah lanjut usia, rata-rata di atas 80 tahun. Kami hanya mengobrol ringan, misalnya cucunya sudah berapa. Kadang reuni juga diselingi karaoke,” kata pengusaha nasional Alam Surjaputra kepada redaksi, Minggu (28/6/2026).

Pengakuan serupa disampaikan ahli bedah saraf Prof. Satyanegara. Menurutnya, ia rutin menghadiri reuni, baik dalam skala kecil maupun reuni akbar. Selain berbincang santai, acara biasanya diisi dengan bernyanyi bersama.

Alam Surjaputra (kiri), Prof. Satyanegara (kanan), bersama seorang diaspora Amerika. Persahabatan Alam Surjaputra dan Prof. Satyanegara yang terjalin sejak masih bersekolah pada era 1940-an tetap terjaga hingga kini. (Foto: Ist)

“Reuni kecil biasanya berlangsung setiap dua hingga tiga bulan sekali. Kali ini alumni sekolah Tionghoa di Semarang yang tinggal di Jakarta berkumpul di sebuah restoran. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 20 orang atau dua meja. Kami hanya temu kangen,” ujar Prof. Satyanegara yang juga Direktur Senior Tzu Chi Hospital PIK.

Secara psikologis, flashback atau ingatan terhadap masa lalu dipengaruhi oleh cara otak menyimpan memori dan kondisi emosional seseorang saat ini. Namun, bagi para alumni tersebut, reuni bukanlah ajang membangun relasi bisnis.

“Kalau reuni, kami jarang membicarakan bisnis karena usia kami sudah lanjut. Kalaupun saat mengobrol ternyata ada kesamaan bidang usaha, itu hanya pembicaraan ringan. Saya pendiri PT Star Cosmos sejak September 1976 yang memproduksi peralatan elektronik rumah tangga. Bidang usaha saya tidak berkaitan dengan keahlian Profesor Satyanegara. Paling kalau saya sakit, saya minta saran untuk pemulihan kesehatan, bukan berbisnis,” kata Alam Surjaputra yang memiliki nama Tionghoa Ye Rong Nan.

Alam Surjaputra (kanan), Prof. Satyanegara (tengah), bersama seorang diaspora Amerika. Persahabatan keduanya yang terjalin sejak masih bersekolah pada era 1940-an tetap awet dan langgeng hingga sekarang. (Foto: Ist)

Menurut Alam, reuni kecil biasanya digelar secara spontan. Salah seorang alumni menghubungi teman-temannya untuk menentukan tempat dan waktu berkumpul. Sebagian besar peserta merupakan alumni kelahiran 1940–1950-an yang kini telah berstatus lanjut usia dan bahkan sudah memiliki cucu.

“Kalau reuni besar biasanya diselenggarakan di Semarang karena bekas bangunan sekolah kami masih ada. Yang hadir bisa kakak kelas, adik kelas, maupun teman seangkatan. Kami menikmati saja kebersamaan itu,” kata Alam Surjaputra. (Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *