Teknologi smart fabric BRIN, kain sensor fleksibel untuk mengidentifikasi bahan kimia berbahaya pada sampel.(Foto: BRIN)
TANGSEL, NP — Peneliti Pusat Riset Fotonika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kain pintar (smart fabric) berlapis nanopartikel perak yang mampu mendeteksi keberadaan zat pewarna berbahaya secara cepat, sensitif, dan praktis. Inovasi yang dikembangkan oleh Prof. Isnaeni ini dihadirkan sebagai jawaban atas masih ditemukannya penggunaan pewarna sintetis berbahaya pada produk pangan, tekstil, maupun limbah industri.
Prof. Isnaeni menjelaskan bahwa kebutuhan akan metode deteksi yang cepat, sederhana, dan dapat digunakan di lapangan menjadi dasar utama pengembangan teknologi tersebut. Ia menegaskan bahwa zat seperti malachite green dan methylene blue diketahui memiliki risiko kesehatan serius. “Kami ingin menghadirkan teknologi sensor yang tidak hanya memiliki sensitivitas tinggi, tetapi juga mudah digunakan di lapangan dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan demikian, proses deteksi bahan berbahaya dapat dilakukan secara lebih cepat tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang kompleks,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (25/6/2026).
Ia memaparkan bahwa sensor tersebut dibuat dari lembaran fiberglass fleksibel yang dilapisi nanopartikel perak (AgNPs) melalui metode sintesis gelombang mikro. Proses pembuatannya berlangsung sangat singkat, yakni hanya sekitar 30 detik untuk menghasilkan lapisan nanopartikel yang optimal.
Lapisan nanopartikel perak itu berfungsi memperkuat sinyal cahaya pada teknik Surface Enhanced Raman Spectroscopy (SERS), sehingga mampu mendeteksi molekul pewarna dalam konsentrasi sangat rendah. Pendekatan ini, kata dia, menawarkan keunggulan berupa biaya yang lebih efisien, proses yang ramah lingkungan, serta potensi produksi massal.
Hasil penelitian menunjukkan sensor tersebut memiliki sensitivitas tinggi dengan batas deteksi hingga 10⁻⁷ M untuk pewarna malachite green. Selain itu, perangkat ini juga mampu mendeteksi beberapa jenis pewarna sekaligus dalam satu kali pengukuran, sehingga efektif digunakan pada sampel yang kompleks.
“Keunggulan sensor ini tidak hanya terletak pada sensitivitasnya, tetapi juga pada kemampuannya mengenali beberapa jenis pewarna secara bersamaan serta mempertahankan performa yang stabil meskipun digunakan berulang kali,” jelasnya.
Lebih lanjut, penelitian tersebut menunjukkan sensor dapat digunakan kembali hingga delapan siklus pemakaian tanpa penurunan kinerja yang signifikan. Sifat fleksibelnya juga memungkinkan alat ini diaplikasikan langsung pada berbagai permukaan, termasuk bahan pangan segar.
Dalam pengujian, sensor berhasil mendeteksi keberadaan pewarna pada permukaan sayuran seperti mentimun, pare, terong, dan labu siam hanya melalui teknik usap sederhana. Temuan ini membuka peluang penggunaan perangkat Raman portabel untuk inspeksi keamanan pangan secara langsung di lapangan tanpa harus membawa sampel ke laboratorium.
Dengan demikian, proses pengawasan kualitas pangan berpotensi dapat dilakukan lebih cepat, praktis, dan efisien. Isnaeni menambahkan bahwa inovasi ini memiliki prospek pengembangan luas untuk berbagai sektor.
Ia berharap platform sensor berbasis nanoteknologi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendeteksi kontaminan lain seperti residu pestisida, bahan kimia berbahaya, mikroplastik, hingga biomarker kesehatan. “Inovasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi hadirnya perangkat sensor portabel generasi baru yang murah, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya. (red)







Be First to Comment