Press "Enter" to skip to content

FORWAN Dukung Pameran Seni Rupa Nasional 2026 Hadir di Lippo Mall Nusantara Semanggi, Dekatkan Seni dengan Generasi Muda

Social Media Share

Forwan dukung penuh Pameran Seni Rupa 2026 yang bertajuk Merajut Asa Menghidupkan Kreativitas Bangsa”, pameran tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif seperti workshop, live painting, diskusi seni, hingga kolaborasi pertunjukan tari dan seni lukis. Pameran akan berlangsung dari 17–30 Juni 2026 di Lippo Mall Nusantara. Foto: Forwan

 

JAKARTA, NP — Seni rupa kini semakin terbuka dan hadir lebih dekat dengan masyarakat luas. Melalui Pameran Seni Rupa Nasional 2026, para seniman, komunitas seni, hingga organisasi kemasyarakatan berkolaborasi menghadirkan ruang kreatif di pusat perbelanjaan agar seni tidak lagi dianggap eksklusif.

Pameran yang akan berlangsung pada 17–30 Juni 2026 di Lippo Mall Nusantara Semanggi, Jakarta, menjadi kali ketiga penyelenggaraan kegiatan tersebut. Acara ini digagas Yayasan Kartika Art Indonesia bersama Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (PPPAD), dan Lippo Mall Nusantara Semanggi.

Ketua PPPAD DKI Jaya, Tri Dira Yofika, SE mengatakan, pameran sengaja digelar di mal agar masyarakat dari berbagai kalangan, khususnya anak muda, lebih mudah menikmati karya seni.

“Selama ini pameran lukisan identik dengan ruang eksklusif dan lebih banyak dinikmati kalangan tertentu. Kami ingin seni bisa hadir di tengah masyarakat dan dinikmati semua kalangan,” ujar Tri Dira Yofika saat konferensi pers di Jakarta, Senin (26/5/2026).

Dalam pameran tersebut, sebanyak 70 hingga 80 karya lukis dari seniman lintas generasi akan ditampilkan. Beberapa nama pelukis yang turut berpartisipasi antara lain Abdul Rahman, Novandin, dan Carsilah.

Ketua Kartika Art Indonesia, Drs. Pustanto, M.M., menegaskan bahwa seni budaya memiliki peran penting dalam membangun kedekatan sosial sekaligus memberi inspirasi kepada masyarakat.

“Seni itu harus kembali ke masyarakat. Ketika dipamerkan di ruang publik seperti mal, masyarakat bisa langsung berinteraksi dengan pelukis, berdiskusi, bahkan ikut memahami proses kreatif di balik karya,” kata Pustanto.

Ia juga menilai para seniman memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan energi positif di tengah situasi sosial yang penuh tantangan.

“Seniman harus menjadi sumber motivasi dan semangat bagi lingkungan sekitar,” tambahnya.

Pembina Kartika Art Indonesia, Farid Ardiwichahya, S.E., menyebut pusat perbelanjaan dipilih karena menjadi tempat berkumpul masyarakat dari berbagai latar belakang. Menurutnya, konsep ini menjadi cara efektif untuk memperluas apresiasi terhadap seni rupa Indonesia.

“Kita punya kekayaan budaya dan karya seni luar biasa. Jangan sampai masyarakat lebih banyak mengenal karya luar dibanding karya anak bangsa sendiri,” ujarnya.

Mengusung tema “Merajut Asa Menghidupkan Kreativitas Bangsa”, pameran tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif seperti workshop, live painting, diskusi seni, hingga kolaborasi pertunjukan tari dan seni lukis.

Salah satu peserta pameran, Novandi, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi media edukasi agar masyarakat memahami nilai artistik sebuah lukisan.

“Masyarakat perlu diajak memahami kenapa sebuah lukisan dibuat seperti itu, apa maknanya, sampai kenapa nilainya bisa berbeda. Dari situ apresiasi terhadap seni akan tumbuh,” ungkapnya.

Selain menjadi ruang apresiasi, pameran juga diharapkan mampu membuka peluang bagi pelukis muda untuk berkembang. Para seniman senior menilai regenerasi sangat penting agar budaya seni rupa Indonesia tetap hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.

Meski era digital menghadirkan berbagai bentuk karya visual modern, para pelukis tetap percaya karya manual memiliki karakter dan nilai emosional tersendiri.

“Lukisan yang dibuat langsung dengan tangan punya tekstur, rasa, dan proses yang berbeda dibanding hasil cetak digital,” kata salah satu pelukis.

Abdul Rahman, pelukis lainnya yang ikut dalam pameran, mengaku senang dapat memamerkan karyanya di pusat perbelanjaan karena pengunjungnya lebih beragam dibanding galeri seni.

“Kalau di galeri biasanya pengunjung tertentu saja, sedangkan di mal semua orang bisa menikmati karya seni secara langsung,” ujarnya.

Karya yang dipamerkan didominasi tema budaya Nusantara, mulai dari tarian tradisional, bunga, kuda, hingga simbol kehidupan masyarakat Indonesia.

Farid Ardiwichahya sendiri mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang di dunia seni. Namun, setelah mendapat kesempatan mengadakan pameran di Aston Kartika Grogol, ia mulai membangun wadah bagi para pelukis yang membutuhkan ruang berkarya.

“Kami ingin membantu pelukis Indonesia mendapatkan tempat pameran yang layak dan terjangkau agar mereka bisa hidup dari karya seninya,” jelas Farid.

Sementara itu, Ketua Umum FORWAN Indonesia, Sutrisno Buyil, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai sinergi antara organisasi wartawan, veteran, dan komunitas seni menjadi langkah penting dalam mendukung perkembangan seni budaya nasional.

“FORWAN tentu mendukung kegiatan positif seperti ini, apalagi melibatkan organisasi besar seperti LVRI dan PPPAD. Ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap dunia seni Indonesia,” ujar Sutrisno Buyil.

Melalui Pameran Seni Rupa Nasional 2026, para penyelenggara berharap seni lukis semakin dikenal masyarakat luas dan mampu menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya Indonesia di kalangan generasi muda.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *