Ilustrasi – Di balik setiap perjalanan yang aman, ada insan perkeretaapian yang disiplin, teliti, dan berdedikasi.(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Setiap hari, jutaan pelanggan mempercayakan perjalanan mereka kepada moda transportasi kereta api. Di balik kelancaran operasional yang kerap terlihat tepat waktu dan tertib, terdapat sistem kerja yang kompleks serta dijalankan secara disiplin oleh ribuan insan perkeretaapian di berbagai lini.
Operasional kereta api berlangsung melalui koordinasi yang saling terhubung setiap detik perjalanan. Mulai dari awak sarana, pengatur perjalanan kereta api, pengendali perjalanan, petugas pemeriksa jalur, tenaga perawatan sarana dan prasarana, hingga penjaga perlintasan, seluruh unsur tersebut memiliki tanggung jawab langsung terhadap aspek keselamatan perjalanan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan bahwa keselamatan perjalanan kereta api tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang kompeten dan disiplin. Ia menyebut, seluruh proses operasional menuntut ketelitian tinggi serta kepatuhan penuh terhadap prosedur yang telah ditetapkan. “Kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki sistem operasional sangat detail. Setiap petugas memegang peran penting dan seluruh proses harus berjalan presisi. Karena itu setiap insan perkeretaapian wajib memiliki kompetensi, kesiapan, dan disiplin tinggi sebelum menjalankan tugas operasional,” ujar Anne dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/5/2026).
Sebagai bagian dari penguatan kompetensi SDM, KAI terus meningkatkan jumlah pekerja tersertifikasi dari tahun ke tahun. Tercatat pada 2022 terdapat lebih dari 14.150 pekerja tersertifikasi, meningkat menjadi lebih dari 15.983 pekerja pada 2023, kemudian 16.186 pekerja pada 2024, dan mencapai 19.167 pekerja tersertifikasi pada 2025.
Memasuki 2026, KAI merencanakan sebanyak 18.297 pekerja tersertifikasi yang tersebar di berbagai bidang operasional strategis. Jumlah tersebut mencakup 4.129 Awak Sarana Perkeretaapian (ASP), 440 Awak Sarana Perkeretaapian Khusus, 2.260 Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), 229 Pengendali Kereta Api, serta 1.542 Asisten PPKA tersertifikasi.
Selain itu, terdapat pula 1.482 tenaga perawatan prasarana bidang jalan rel dan jembatan, 1.437 tenaga perawatan fasilitas operasi kereta api, 1.854 tenaga pemeriksa prasarana jalan rel dan jembatan, 119 tenaga pemeriksa fasilitas operasi kereta api, 2.652 pemeriksa sarana, 1.990 tenaga perawatan sarana, serta 163 Penjaga Jaga Lintas (PJL) tersertifikasi.
Anne menjelaskan bahwa setiap pekerja operasional wajib melalui rangkaian pendidikan, pelatihan, uji kompetensi, hingga sertifikasi sebelum ditugaskan di lapangan. Selain sertifikasi dari lembaga berwenang termasuk Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), KAI juga secara berkelanjutan menggelar diklat, workshop, forum diskusi, simulasi operasional, hingga refreshment kompetensi guna menjaga kesiapan SDM.
“Dalam operasional kereta api, keputusan yang diambil petugas harus cepat, tepat, dan sesuai prosedur. Karena itu proses pembentukan kompetensi dilakukan secara berkelanjutan agar setiap petugas selalu siap menghadapi berbagai kondisi operasional di lapangan,” jelasnya.
Di sisi lain, KAI juga melakukan pemeriksaan rutin terhadap sarana dan prasarana untuk memastikan keandalan operasional. Pengecekan dilakukan secara berkala sesuai prosedur, mencakup jalur rel, wesel, sinyal, jembatan, sistem operasi, hingga kondisi sarana kereta api melalui inspeksi langsung di lapangan, pengamatan jalur secara detail, bordes ride, hingga lok ride oleh petugas bersertifikasi.
Untuk memperkuat aspek keselamatan, KAI turut memanfaatkan aplikasi Safety Railway Information (SRI) yang memungkinkan pegawai melaporkan potensi bahaya atau kondisi tidak aman yang berpotensi mengganggu perjalanan. Setiap laporan kemudian ditindaklanjuti sebagai bagian dari mitigasi risiko dan pencegahan kecelakaan.
Selain faktor internal, operasional kereta api juga menghadapi tantangan eksternal, mulai dari ketidakdisiplinan di perlintasan sebidang, pelemparan terhadap kereta, pencurian aset perkeretaapian, bangunan liar di sekitar jalur, hingga faktor alam seperti banjir, longsor, dan gempa bumi.
Karena itu, KAI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, regulator, aparat kewilayahan, komunitas, serta masyarakat untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api secara menyeluruh.
“Setiap perjalanan kereta api yang berjalan aman sesungguhnya dijaga oleh banyak insan yang bekerja penuh disiplin selama 24 jam. Keselamatan dibangun dari ketelitian, kepatuhan terhadap prosedur, kompetensi SDM, serta kolaborasi bersama stakeholder dan masyarakat. KAI akan terus memperkuat seluruh aspek tersebut agar kepercayaan jutaan pelanggan tetap terjaga dalam setiap perjalanan,” tutup Anne.(red







Be First to Comment