Press "Enter" to skip to content

Presiden Prabowo Minta Menteri Kaji WFH dan Pengurangan Hari Kerja untuk Hemat BBM

Social Media Share

Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. (Foto: Bakom)

JAKARTA, NP – Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menteri di Kabinet Merah Putih mengkaji sejumlah langkah efisiensi bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah antisipasi jika terjadi krisis energi global.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) serta pengurangan hari kerja.

Permintaan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3).

“Kita menghadapi perkembangan global di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Hal ini tentunya memberi dampak kepada kita karena akan memengaruhi harga BBM.

Harga BBM juga bisa memengaruhi harga makanan,” ujar Prabowo.

Menurutnya, situasi geopolitik global berpotensi memicu kenaikan harga energi dunia yang pada akhirnya dapat berdampak pada perekonomian nasional, termasuk harga pangan.

Meski demikian, Prabowo menyebut pemerintah telah mengamankan sejumlah aspek fundamental, terutama terkait ketahanan pangan nasional.

Namun ia menegaskan langkah antisipasi tetap perlu dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan tekanan pada sektor energi.

“Tapi tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif.

Artinya, kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apa pun yang terjadi kita aman,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, Prabowo menyinggung kebijakan penghematan energi yang diterapkan di Pakistan dalam menghadapi potensi krisis energi.

Menurutnya, pemerintah Pakistan menerapkan kebijakan kerja dari rumah bagi sebagian pegawai serta memangkas hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.

“Mereka melaksanakan work from home untuk semua kantor pemerintah maupun swasta. Lima puluh persen bekerja dari rumah, kemudian hari kerja mereka dipotong menjadi hanya empat hari,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga disebut melakukan pengurangan gaji pejabat negara, membatasi penggunaan BBM kendaraan pemerintah, hingga menghentikan belanja negara yang tidak mendesak.

Meski demikian, Prabowo menegaskan kebijakan tersebut hanya menjadi bahan kajian bagi pemerintah Indonesia.

Ia meminta para menteri dan kepala lembaga membahas berbagai opsi efisiensi energi secara lebih mendalam.

Prabowo juga menyinggung pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi COVID-19, ketika pola kerja dari rumah mampu menekan mobilitas masyarakat dan konsumsi energi.

“Nah, jadi ini saya minta dibicarakan nanti. Dulu kita atasi COVID, dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien,” ujarnya.

Karena itu, Presiden meminta seluruh jajaran pemerintah menyiapkan berbagai skenario sebagai langkah antisipasi jika situasi global memburuk.

“Kita tidak panik, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk,” pungkasnya. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *