Press "Enter" to skip to content

Mesin Fraksinasi Minyak Nilam Bantuan BPPT di Unsyiah Optimalkan Pendapatan Ekspor Petani Nilam Aceh

Social Media Share

BANDA ACEH, NP –  Tanaman nilam ( Pogostemon cablin ) dapat diolah untuk menghasilkan minyak nilam atau patchouli oil sebagai larutan fiksatif (pengikat aroma) untuk berbagai campuran parfum. Indonesia yang menyediakan sekitar 90 persen minyak nilam mentah saat ini ditargetkan dapat lebih banyak mengekspor minyak nilam terfraksinasi berkat alat distilasi molekuler dan fraksinasi buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diberikan kepada Atsiri Research Center Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (ARC PUI-PT Nilam Aceh Unsyiah).

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan apresiasi kepada BPPT karena tidak hanya mampu mempelajari teknologi distilasi (penyulingan) dan fraksinasi (pemisahan senyawa larutan) sebagai upaya reverse engineering tetapi juga mampu menciptakan inovasi dengan membuat alat tersebut bagi minyak nilam mentah unggulan dari Aceh.

“Yang kami harapkan dari Kemenristek/BRIN kepada BPPT adalah lebih mengarah pada inovasi. Teknologi transfer dan reverse engineering yang dilakukan sekarang kita harapkan tidak hanya bisa menguasai teknologi yang tadinya barangkali asing bagi kita tapi lebih dari itu harus ada nilai tambahnya. Nilai tambahnya adalah inovasi yang kita harapkan bisa menyertai proses alih teknologi atau reverse engineering tersebut,” ungkap Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat Penyerahan Rumusan Hasil Rapat Kerja BPPT 2020 dan Peresmian Unit Distilasi Molekuler dan Fraksinasi Atsiri Research Center Pusat Unggulan Iptek Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh pada Jumat (28/2).

Dalam kesempatan ini, Menteri Bambang berharap mesin distilasi dan fraksinasi ini menjadi berkah bagi petani nilam Aceh karena daun nilam yang mereka dulu jual sebagai minyak nilam mentah kini dapat diolah langsung menjadi minyak nilam yang sudah difraksinasi dengan harga jual tidak terlalu fluktuatif dan lebih tinggi. Dengan mengolah daun nilam langsung di Unsyiah, Indonesia dapat menjual larutan dasar parfum langsung ke merk parfum dunia tanpa melalui pengolahan di luar negeri.

“Ini adalah suatu berkah karena sebagai petani hanya satu yang mereka harapkan, ada yang membeli produk mereka. Ada jaminan pembeli karena minyak nilam itu menjadi begitu berharga, begitu dicari oleh banyak pelaku bisnis tidak hanya di Aceh dan Indonesia tapi juga global. Adanya pembeli ini membuat hidup mereka lebih nyaman, lebih sejahtera, dan membuat mereka lebih serius dalam mengembangkan tanamannya dan menjaga kualitas dari tanaman yang akan dipanen tersebut,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Selama ini minyak nilam mentah Indonesia diekspor ke beberapa negara lain untuk diolah oleh negara tersebut menjadi minyak nilam terfraksinasi. Dengan alat distilasi dan fraksinasi BPPT ini Unsyiah diharapkan mampu mengolah 24 ton daun nilam per tahun langsung menjadi minyak nilam terfraksinasi, baik fraksinasi berat (kandungan 60 persen) untuk larutan fiksasi atau larutan dasar parfum maupun fraksinasi ringan (antara satu hingga dua persen) untuk larutan dasar minyak oles atau medicated oil, sabun cair, dan produk kesehatan berbasis larutan aromatik lainnya.

“Saya berterima kasih kepada rekan peneliti terutama dari Universitas Syiah Kuala dan didukung oleh BPPT yang tidah pernah lelah untuk selalu meningkatkan nilai tambah dan kualitas dari hilirisasi riset tersebut dan kami harapkan semangat itu juga menular untuk berbagai komoditas lain yang saya yakin masih banyak terdapat di Aceh, tidak hanya di sekitar Banda Aceh tapi di seluruh Provinsi Aceh. Semakin banyak komoditas yang bisa dihilirkan, saya yakin perekonomian Aceh juga semakin baik,” harap Menteri Bambang.

Atsiri Research Center Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (ARC PUI-PT Nilam Aceh Unsyiah) yang juga mengelola Nilam Innovation Park (Nino Park) saat ini tidak hanya mampu mengolah daun nilam menjadi minyak nilam terfraksinasi tetapi juga mengembangkan bibit unggul tanaman nilam dan membudidaya nilam tersertifikasi organik yang permintaannya mulai meningkat dari negara Eropa.

Turut hadir dalam kesempatan ini Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Samsul Rizal, Kepala Atsiri Research Center Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (ARC PUI-PT Nilam Aceh Unsyiah) Syaifullah Muhammad, serta para eselon dan pegawai Kemenristek/BRIN, BPPT, dan Unsyiah.(rls)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan