Press "Enter" to skip to content

Runutan Sejarah Cheng Ho Abad ke-14 sampai Persembahyangan Kimsin Suci di Tay Kak Sie

Social Media Share

Para pengurus Klenteng Tay Kak Sie, generasi remaja belasan tahun berfoto bersama di tengah rangkaian acara kedatangan Kimsin (Dewa Pengobatan) sambil melestarikan peninggalan sejarah.(Ist)

 

JAKARTA, NP – Masyarakat dari berbagai berbagai etnis, agama tumpah ruah di komplek klenteng Tay Kak Sie di Jl. Lombok, Semarang mengikuti serangkaian acara kedatangan Kimsin yang Suci Poo Seng Tay Tee (Dewa Pengobatan) ke-164 selama tujuh hari (2 – 9 Juni). Rangkaian acara, mulai dari para sukarelawan Tay Kak Sie membersih-bersihkan dan memindahkan Kimsin sampai dengan pentas panggung malam kesenian serta kirab budaya. Selain dari Semarang, para peserta datang dari Kudus, Surabaya, Tegal, Bojonegoro, Tuban dan lain-lain. Para pengurus dan umat juga melakukan persembahyangan kebesaran dalam rangka hari kedatangan Kimsin (Dewa Pengobatan). Upacara ini yang sudah menjadi kekayaan budaya diadakan secara turun-temurun sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat, khususnya umat Buddha.

“Saya ikut acara ini di Tay Kak Sie sejak saya masih muda, tahun 1970-an. Tapi suasananya, waktu itu berbeda dengan yang sekarang,” kata umat Buddha dari Kudus, Jawa Tengah, Sie Cing Yoe (74) di Semarang, Sabtu (8/6/2024).

Pada tahun 1970-an, acara serupa berlangsung di komplek Klenteng Gedung Kuno Sam Poo Kong di daerah Simongan, sebelah barat daya kota Semarang. Kerumunan masyarakat di dalam dan seputar komplek Sam Poo Kong lebih massif. Komplek klenteng ini disebut juga Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang tokoh besar Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah.

“Bagi kami yang percaya (proses pendewaan terhadap tokoh besar seperti Cheng Ho), kami ikut persembahyangan. Banyak masyarakat yang tidur di bawah pohon-pohon, beralas tikar. Kami menunggu waktu tengah malam untuk mulai persembahyangan. waktu itu, belum ada gedung yang megah seperti sekarang ini,” kata Sie Cing Yoe.

Kilas balik, tahun 1406, armada pelayaran Cheng Ho pertama kali tiba di pulau Jawa. Tahun 1416, untuk ke-5 kalinya armada Cheng Ho mengunjungi pulau Jawa, merapat di Semarang. Saat itu Simongan masih berupa pantai. Tahun 1417, Wang Jing Hong mendirikan patung Cheng Ho di goa tersebut, untuk dihormati dan dikenang masyarakat sekitar. Ini awal mula pembangunan klenteng Sam Poo Kong. Tahun 1965, Yayasan Sam Poo Kong didirikan, dan tahun 2002, Yayasan melakukan renovasi besar-besaran untuk mengatasi masalah banjir. “Dari runutan sejarah, kami percaya Sam Poo atau Cheng Ho sebagai tokoh besar sehingga ikut persembahyangan tengah malam. Ini acara tahunan, hampir sama dengan kedatangan Kimsin (Dewa Pengobatan) yang datang ke Tay Kak Sie malam ini (5 – 6 Juni). Saya datang bersama anak-anak remaja (usia belasan tahun) dari Kudus untuk ikut ritual dan persembahyangan,” kata Sie Cing Yoe.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan tertua di Semarang, meliputi area seluas 1.020 meter persegi dan dipengaruhi oleh gaya arsitektur China dan Jawa abad ke-14. Klenteng ini dicat dengan warna merah yang megah dan dimahkotai dengan atap pagoda berlapis tiga, khas budaya Asia Timur. Pondasi klenteng pertama kali dibangun oleh Laksamana Cheng Ho, penjelajah Muslim dari China Daratan. Setelah beberapa waktu, Cheng Ho meninggalkan Jawa, tetapi banyak awal kapalnya memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di daerah itu.

“Sejarahnya, saat Cheng Ho merapat di pantai utara Semarang dan berhasil menapakkan kaki sangat berkesan. Kami berharap generasi muda bisa meneruskan keaktifan kami sebagai pengurus klenteng Tay Kak Sie, melestarikan peninggalan sejarah. Kita (yayasan) berhasil bangun klenteng megah, seperti Sam Poo Kong, Tay Kak Sie, tapi kalau tidak ada umatnya, percuma. Di Jepara, hanya tersisa lima keluarga yang masih aktif melakukan persembahyangan Kim Sin (Dewa Pengobatan). Di Kudus, yang senior-senior sudah meninggal. generasi saya (berusia di atas 70 tahun) hanya tinggal 2-3 orang saja,” kata Sie Cing Yoe.(Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *