Press "Enter" to skip to content

Pesona Kain Tenun Cagcag Karya Banjar Dinas Waliang Tampil di Pawai Ogoh-Ogoh

Social Media Share

Para gadis dari Sekeha Teruna Teruni (STT) Satria Maha Yowana memamerkan kain Tenun Cagcag karya Banjar Dinas Waliang, Karangasem di momen pawai ogoh-ogoh atau pengrupukan. (Foto: Banjar Dinas Waliang, Karangasem)

 

KARANGASEM, NP- Beragam karya seni masyarakat Bali telah banyak dihasilkan fari generasi ke generasi, salah satunya karya seni maayarakat Bali juga berupa kain tenun, yaitu kain Tenun Cagcag Bali.

Tenun Cagcag Bali mencerminkan keindahan, keragaman dan kreativitas masyarakat Bali yang unik dan indah. Hingga kini kerajinan tenun di Bali masih terus dilestarikan.

Pada momen pawai ogoh-ogoh atau pengrupukan yang digelar umat Hindu pada rangkaian Nyepi Saka 1947/2025 Masehi, para remaja putri dari Banjar Dinas Waliang, Desa Abang, Karangasem Bali memamerkan Tenun Cagcag Bali yang dibuat oleh sendiri.

Mereka kompak memanfaatkan momen pengrupukan untuk memamerkan kain Tenun Cagcag. Selendang indah mempesona yang mereka gunakan, hasil kerajinan di kampungnya.

Para gadis dari Sekeha Teruna Teruni (STT) Satria Maha Yowana menyebut selendang tersebut merupakan warisan leluhur. Mereka kompak mengenakannya, saat beranai-ramai mengelilingi desa sehari menjelang Nyepi.

Desak Gede Ayu Apri, seorang peserta pawai dalam keterangannya di Waliang pada Kamis, (3/4/2025) mengakuinya sebagai bentuk bhakti kepada leluhur.

“Kain tenun cag-cag ini warisan dari leluhur, turun-temurun yang mungkin sudah sejak ratusan tahun,” ujarnya.

Mahasiswi prodi Bisnis pada Politeknik Negeri Bali ini menuturkan ia dan kerabat di desanya bangga memakainya. Selain untuk menyenangkan orang tua, sekaligus ajang promosi istimewa.

“Pawai ogoh-ogoh disorot banyak kalangan yang lihat di media dan medsos, tidak hanya di Bali, jangkauannya luas di jagat maya,” sambungnya.

Desak Ayu menambahkan, kerajinan tenun cag-cag dikerjakan oleh usia anak-anak, remaja, serta para ibu rumah tangga. Puluhan pengrajin di kampungnya menghasilkan selendang motif bangsing dan peplendoan. Selain itu, mereka juga melayani beragam motif dan ukuran sesuai keinginan pemesan.

*Siasati Lemahnya Dukungan Promosi dari Pemerintah*

Senada, Dosen Ekonomi Manjemen yang berasal dari Waliang, I Dewa Gede, memberi apresiasi usaha pemuda-pemudi di desanya. Menempuh berbagai kreativitas positif mendukung pemajuan ekonomi desa.

“Bentuk upaya kreatif dari Sekeha Teruna Teruni untuk berperan serta mengekspose seni budaya dan potensi ekonomi desa,” ujarnya.

Penulis nasional yang telah menghasilkan puluhan karya buku tersebut menjelaskan ini turut membantu pemerintah. Khususnya di saat pemerintahan sedang diterpa gelombang efesiensi anggaran.

“Cara promosi produk seperti ini menjadi sangat penting. Kita tahu pemerintah saat ini sedang efesiensi besar-besaran. Jadi tidak bisa berharap banyak untuk dapat mempromosikan produk-produk UMKM seperti kerajinan tenun cag-cag ini,” imbuhnya.

Dewa pun menyoroti, walapun dukungan anggaran yang relatif kecil pemerintah daerah perlu tetap menaruh perhatian untuk pengrajin. Ia mencontohkan, selendang pengrajin tenun cag-cag tidak hanya bisa untuk ikat pinggang semata, tetapi juga menjadi kain dekorasi hiasan yang anggun.

“Harapan kepada pemerintah daerah khususnya, saat membelanjakan anggaran yang sedikit, dapat memilih produk-produk lokal. Cocok untuk hiasan dekorasi, dan memesannya ke kelompok pengrajin, bentuk dukungan nyata untuk eksistensi tenun cag-cag,” tegas Dewa.(har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *