Press "Enter" to skip to content

Metamorfosis Usaha Pengolahan Teh oleh Sosrodjojo, Bertahan Lebih dari 8 Dekade

Social Media Share

Surjanto Sosrodjojo.(Ist)

JAKARTA, NP – Surjanto Sosrodjojo (Souw Hway Tjwan) mengingat masa lalu ketika orang tuanya, terutama Papanya pertama kali memulai usahanya di Slawi, Tegal Jawa Tengah (Jateng) tahun 1940. Awalnya, usaha Papanya, yakni Souw Seng Kiam (Sosrodjojo) baru sebatas memproduksi, dan memasarkan teh seduh. Dari tahun ke tahun, sampai lebih dari delapan dekade, teh seduh tetap bertahan. Metamorfosis yang dilakukan dengan berbagai cara termasuk re-branding atau memperbaharui sebuah brand yang ada agar menjadi lebih baik.

“Awalnya, teh kering (yang diproduksi). Papa saya, setiap sore minum teh poci yang di Jateng sambil ibaratnya mencari ilmu pengolahan teh. Karena waktu itu, sudah ada empat perusahaan teh di Jateng. Papa saya tetap bikin teh dan sketsa gambar sampai muncul ide teh botol,” kata Surjanto, salah satu anak Souw Seng Kiam mengatakan kepada Redaksi, Kamis, (26/12/2024).

Ide tersebut berangkat dari banyaknya produk minuman dengan kemasan botol, seperti minyak sayur, kecap dan sebagainya juga dengan kemasan botol. Awal produksi teh kering Sosrodjojo saat tentara Jepang sudah masuk (menjajah) ke Indonesia.

“Waktu itu kan, banyak masyarakat yang masih buta huruf. Kalau dengan gambar (pada teh botol), pembeli bisa lebih mudah ingat (produk teh Sosrodjojo),” kata anak ke-6 dari tujuh bersaudara ini.

Keluarga Souw terus berinovasi, memahami strategi pengembangan produk the serta tahap-tahapannya. Tahun 1960, anak-anak Sosrodjojo, yakni Soemarsono, Soegiarto, Soetjipto, Surjanto hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan usaha keluarga serta pemasarannya di Jakarta. Lalu tahun 1965, usaha berhasil memperkenalkan Teh Cap Botol dengan strategi pemasaran langsung di pusat-pusat keramaian.

“Kami uji coba memasarkan di pasar Senen, ternyata laku keras. Kami masih bikin Teh Botol di rumah saya di bilangan Cempaka Putih (Jakarta Pusat) sampai 500 krat (24 botol) per hari. Kami yakin dan rasanya (pemasaran Teh Botol) mantap, kami mulai beli mesin,” kata Surjanto saat ditemui di ruang kerjanya di Wisma Mitra Sunter Jakarta Utara.

Peralihan dari manual ke mekanisasi, kapasitas produksi meningkat. Setiap satu jam, bisa menghasilkan 2000 botol. Begitu produksi meningkat beberapa kali lipat pasca mekanisasi, keluarga Sosrodjojo sempat bingung bagaimana memasarkannya. Kegiatan promosi ditingkatkan, dan angka penjualan merangkak naik. bahkan customer datang ke pabrik Sosrodjojo di Bekasi, Jawa Barat.

“Karena Teh Botol semakin dikenal, ada produsen minuman (dari Italia) dengan merek Schweppers mendatangi kami. Produk pertama dalam percobaan tahun 1973. Kami jual Schweppers di pasar-pasar, tapi kurang berhasil. Sehingga kami focus pada pengembangan merek Teh Botol Sosro saja sampai sekarang,” kata pria kelahiran tahun 1938 dan kata peraih gelar Diplom Kaufmann (business administration) Universitas Mannheim, Jerman (1966 – 1973).

Sebelum disuruh untuk membantu operasional perusahaan tahun 1973 (saat berusia 35 tahun), ia sudah terlebih dahulu belajar mengenai ekonomi perusahaan di Universitas Mannheim Jerman. Ia berangkat ke Jerman tahun 1965, saat berusia 27 tahun. Ia terlambat studi di Jerman, karena sebetulnya ia sudah hampir lulus dan meraih gelar sarjana dari Respublika (Univ. Trisakti, Grogol Petamburan Jakarta Barat). Kondisi perpolitikan pada saat itu, dan berbagai aksi demo, akhirnya kegiatan perkuliahan Respublika terganggu. Sebagian besar berhenti, tidak melanjutkan kuliahnya termasuk Surjanto.

“Sebetulnya saya sudah hampir lulus dari Respublika. Lalu ada yang suruh saya studi ke Jerman. Mahasiswa Respublika tidak bisa belajar dengan tenang karena setiap hari ada demo,” kenang Surjanto.

Ia kembali mengenang, detik-detik sebelum berangkat ke Jerman. Ia sempat bisnis mobil di seputar daerah Pecenongan Jakarta Pusat. Lalu ia jual mobil dan uang hasil penjualan untuk beli tiket ke jerman. Kakaknya yang ketiga, Soetjipto yang bantu mendaftarkan studi di Jerman. Waktu itu, pendaftar tidak perlu mengajukan visa. Ia hanya mendaftar di kantor imigrasi, sampai mendapat status resident. Sebelum ikut perkuliahan di Mannheim, ia belajar bahasa Jerman terlebih dahulu selama satu tahun. Waktu itu, ada institute khusus untuk mahasiswa asal Asia dan Afrika.

“Saya tinggal disitu selama satu tahun, lalu sudah cukup (belajar bahasa), baru ikut kuliah. Tapi (perkuliahan di Mannheim) juga tidak mudah. Penjelasan dosen sangat cepat, sehingga saya rekam. Sampai di rumah saya putar rekaman dan dengar kembali (penjelasan dosen). Saya juga bikin catatan dari rekaman. Selesai kuliah, saya balik ke Indonesia tahun 1973. Kakak saya suruh bantu operasional perusahaan. Selama 10 tahun saya bantu, dan akhirnya memutuskan pensiun,” kenang Surjanto.

Keputusan pensiun dini tidak ujuk-ujuk. Ia sudah berdiskusi dan paham mengenai kondisi perusahaan, terutama family business seperti Teh Botol Sosro. Ia mengaku percaya dengan mitos dan tantangan management perusahaan yang bertumpu pada keluarga. Sebagian besar keluarga Tionghoa percaya, bahwa sesukses dan sebesar apa pun kerajaan bisnis yang telah dibangun, semua bisa kembali ke titik nol pada generasi ketiga. Untuk menghindari hal tersebut, sekitar tahun 1980, ia memutuskan untuk pensiun. Dengan demikian, ia yakin pewarisan bisnis Sosrodjojo berkelanjutan sampai generasi ketiga. Proses pewarisan ternyata memang berjalan mulus tanpa ada friksi, konflik, intrik intern hubungan kekeluargaan.

“Saya memutuskan pensiun (bisnis teh botol) ketika anak saya yang sempat kuliah di Amerika (studi industrial engineering) kembali ke Indonesia. Saya yakin, pada bisnis keluarga, anak-anaknya tidak boleh menumpuk di satu perusahaan saja. Setelah pensiun, saya ditarik Jababeka (perusahaan developer kawasan industry). Ada 21 pendiri Jababeka waktu pertama kalinya, termasuk Sudwikatmono,”pungkas Surjanto.(Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *