Press "Enter" to skip to content

Kisah Membangun FK di Indonesia dengan Berbagai Tantangannya

Social Media Share

(kiri – kanan); Drg. Jonan Angkawidjaja (anggota Board of Trustee Faculty of Medicine President University), Prof. Satyanegara, Sigit Hendrawan Samsu.(Ist)

 

JAKARTA, NP – Sekitar 25 tahun yang lalu, ahli bedah saraf Prof. Satyanegara sempat kebingungan saat diminta dukungannya mendirikan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (UNEJ) oleh pengusaha swasta nasional Indonesia, Sigit H. Samsu. Prof. Satyanegara, waktu dihubungi Sigit Samsu sedang sibuk-sibuknya terutama tangani berbagai rumah sakit di daerah, Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), beberapa klinik pribadi sampai melakukan pendampingan pelayanan kesehatan presiden ke 2 Republik Indonesia, alm. Soeharto.

“25 tahun berlalu, FK UNEJ sudah meluluskan hampir 1.535 (seribu, lima ratus, tiga puluh lima) dokter. Tapi untuk pembangunan teaching hospital (rumah sakit pendidikan), begitu sulitnya. Pembangunan fisik gedung rencananya sudah selesai per akhir tahun 2024 ini,”kata Prof. Satyanegara kepada Redaksi di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital PIK Jakarta Utara, Sabtu (16/11/2024).

Di sisi lain, ia juga dipercaya sebagai Chairman Board of Trustee Fakultas Kedokteran (FK) President University (PU) Jababeka Bekasi sejak Maret 2024 yang lalu. Situasinya hampir sama, ia juga mengaku diajak sahabat karibnya, Sigit H. Samsu untuk mendirikan teaching and research hospital FKPU. Dua FK dengan Visi Misi yang berbeda pula. FK UNEJ memproyeksikan sebagai Center Agromedis di Indonesia. Sementara FKPU lebih memproyeksikan upaya menciptakan manusia yang sehat, produktif termasuk dengan memanfaatkan bioteknologi modern.

Anggota Board of Trustee FK PU, Drg. Jonan Angkawidjaja (kiri) dan founder FK UNEJ, Sigit H. Samsu.(Ist)

“Lebih luas lagi, harapannya Pak Darmono (Setyono Djuandi Darmono, pendiri PT Jababeka) mau membangun medical city yang sudah lengkap. SDM kesehatannya terutama dokter spesialis, alat-alat kesehatan yang harus di atas standar dan lain sebagainya. Rencana peletakan batu pertama pembangunan teaching hospital (FKPU) minggu depan, oleh Menteri Kesehatan. Ini, (Jababeka Medical City) impian yang sangat besar Pak Darmono,” ujar Prof. Satyanegara.

Selain, Prof. Satyanegara mengaku tertarik dengan visi kepemimpinan SD Darmono. Dengan kemampuan untuk melihat peluang di tengah tantangan, ia terus mengarahkan perusahaan menuju masa depan sukses dan berkeadilan. Visi kepemimpinannya untuk membangun Jababeka _Medical City dengan filosofi  Yi Kung Yi San, yakni gambaran seseorang yang bertekad keras dan gigih, serta tidak takut menghadapi segala kesulitan.

Filosofi tersebut dengan narasi sejarah seorang kakek tua yang sebelumnya dianggap bodoh oleh sekelilingnya. Kakek tersebut bertekad memindahkan gunung, mengingat dia tinggal di desa yang miskin. Sementara di balik gunung, ada desa yang kaya dan makmur. Si kakek bertekad meratakan gunung dengan tekad dan kegigihan, tidak takut menghadapi kesulitan.

Ahli bedah saraf Prof. Satyanegara, Chairman Board of Trustee Fakultas Kedokteran (FK) President University (PU), founder Fakultas Kedokteran Univ. Jember.(Ist)

“Hal tersebut yang bikin saya tertarik, Yi Kung Yi San. Saya sebagai chairman Board of Trustee hanya mempersiapkan berbagai perencanaan pendirian teaching hospital, research center dan lain sebagainya. Medical city, nantinya menarik pasien dari luar negeri. Mereka bukan sekedar mau menyembuhkan penyakit, tetapi mendapat kesehatan yang lebih baik,” tutur Prof. Satyanegara.

Sementara, visi dan misi FK UNEJ sebagai center agromedis di Indonesia dan lembaga pendidikan yang unggul dalam bidang Agromedis di Asia Tenggara tahun 2025. Sigit Samsu dan Prof. Satyanegara, sempat bekerja keras mengumpulkan dana termasuk dari beberapa perusahaan rokok, antara lain Tjap Gudang Garam, Bentoel Group, Sampoerna. Semua uang yang terkumpul dari sumbangan perusahaan rokok di Jawa Timur, diserahkan dan dikelola Yayasan. Saat itu juga, UNEJ sudah punya fakultas kedokteran gigi (FKG). Sehingga Yayasan memutuskan untuk saling pinjam sarana prasarana kegiatan belajar mengajar FK dan FKG terutama laboratorium. Perjalanan dan kerja keras dua sahabat karib sadar bahwa pembangunan FK dan program studi pendidikan dokter (PPSD) butuh biaya besar saat itu.

“Kami berdua, dan Prof Kabul (Rektor UNEJ periode 1995-2003) melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung FK pada 25 tahun yang lalu. Perbedaannya, kalau PU swasta dan UNEJ perguruan tinggi negeri. Ada perbedaan antara keduanya. tapi pembangunan teaching hospital nya, (antara PU dan UNEJ) sama-sama sulit. Dan untuk menjaga gengsi, setiap FK harus memiliki rumah sakit sendiri. Kalau teaching hospital sudah dibangun, harus dilihat lagi jenjang kemampuannya mulai dari (rumah sakit) type A sampai E,” tutup Prof. Satyanegara.(Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *