Press "Enter" to skip to content

KH Romdoni Hamzah Lc: Esensi Maulid untuk Wujudkan Akhlak Seperti Rasulullah

Social Media Share

JAKARTA, NP- Dai kondang sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren An-Nasyiin Cinere, Depok, Jawa Barat, KH. Romdoni Hamzah Lc mengajak seluruh umat muslim dapat memaknai maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi waasalam (SAW) yang lahir pada 12 Rabiul Awal.

Kendati Rasulullah tidak pernah memperingati hari kelahirannya (maulid), namun KH. Romdoni mengatakan sudah sepantasnya umat Nabi Muhammad SAW mengekpresikan wujud syukur dan kecintaan kepada nabinya dengan melakukan hal-hal yang diajarkan oleh Rasulullah seperti mengadakan silaturahim, tausyiah, dan mengisinya dengan bentuk-bentuk ibadah lainnya.

“Karena memang tidak ada nash yang menjelaskan tentang wujud rasa syukur kita. Karena ini (kelahiran Nabi Muhammad SAW) adalah rahmat Allah. Coba bayangkan kalau seandainya Nabi Muhammad tidak lahir, bagaimana kondisi kita saat ini?” ucap KH Romdoni Hamzah Lc saat memberikan tausyiah pada peringatan maulid Nabi Muhammad yang diperingati tiap tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan hari Kamis, (28/9/2023) di Masjid Jami Attaqwa, Jalan Wijaya Kusuma II No 14A Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.


KH Romdoni Hamzah Lc bersama Jamaah Masjid Jami Attaqwa Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. (Foto: Humas MJAT)

Menurut Pimpinan Majelis Pasila’an Wong Bodo (PWB) ini, seperti Rasulullah, hendaknya sikap seorang muslim haruslah selalu melakukan hal yang dapat menyejukkan bagi muslim lainnya, bahkan bagi non muslim sekalipun. Sehingga jangan sampai, persoalan-persoalan furuiyah menjadi perdebatan tak berujung.

“Persoalan-persoalan furuiyah diberantemin. Akhirnya yang tadinya urusan agama, yang notabene-nya urusan akherat berbalik jadi urusan dunia. Jadi sebenarnya yang kita butuhkan saat ini adalah teladan bukan orang pintar,” terangnya.

KH Romdoni membagi kisah tentang pentingnya bersatu daripada berdebat tapi berdebat dengan disertai menyalahkan orang lain, bahkan membuat kubu-kubuan apalagi sampai menggerakan orang lain untuk konfrontasi.

“Ini kisah di India. Ada ulama besar di sana namanya Syekh Al-Dahlawi. Dia bermahzab Hanafi,” sebut KH Romdoni.

Ketika itu, semangat beribadah umat Islam di sana yang sudah bertahun-tahun terbina dengan baik, tiba-tiba semangat itu terkikis karena umat Islamnya tercerai berai, pecah hanya karena pandangan yang diberikan oleh pemuda asli di sana yang menimba ilmu Timur Tengah, lalu setelah kembali lagi, mendapati ibadah yang selama ini dilakukan orang tua dan leluhurnya berbeda dengan yang ia dapati di sekolah.

Seperti perbedaan kecil tentang boleh tidaknya mengangkat tangan ketika I’tidal di dalam sholat. Karena berbeda, si pemuda menuduh, sholat yang selama ini dilakukan oleh masyarakat dan para orang tuanya jauh dari sunah rasul.

“Masjid yang tadinya rame menjadi pecah,” sebut KH Romdoni.

Dai kondang KH Romdoni Hamzah Lc saat memberikan tausyiah pada peringatan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi waasalam (SAW) yang diperingati pada 12 Rabiul Awal Tahun Hijriyah bertepatan dengan hari Kamis, (28/9/2023) di Masjid Jami Attaqwa, Jalan Wijaya Kusuma II No 14A Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. (Foto: Humas MJAT)

Persoalan ini kemudian sampai ke telinga Syekh Al Dahlawi. Iapun kemudian menemui si pemuda. Dengan bijak dan sopan, Syekh Al Dahlawi kemudian menggerakan hati si pemuda untuk lebih memikirkan umat daripada tetap mempertahankan sikap dan pendapatnya yang belum tentu benar dalam penilaian orang lain.

Kemudian Syekh Al Dahlawi mengatakn kepada si pemuda. “Tidakkah kau berpikir, sudah puluhan tahun orang tuamu, sesepuhmu menyatukan kaum muslimin. Sudah susah payah meraka mengajak yang tadinya tidak sholat menjadi rajin sholat. Tapi lantaran kedatangamu, mereka jadi tidak sholat.”

“Kau jadikan mereka tercerai berai, menjadi berkelompok. Sesungguhnya menyatukan umat lebih diutamakan. Karena ini persoalan furuiyah yang tidak perlu diperdebatkan,” terang KH Romdoni.

Kembali pada Ushul Fiqih

Secara umum, tausyiah KH Romdoni Hamzah Lc mengajak kepada semua pihak agar tidak mudah menyalahkan orang lain dalam setiap persoalan baik dalam hal ibadah maupun dalam hal bermuamalah (bermasyarakat).

Oleh karenanya, ia menekankan apabila terjadi perbedaan pandangan atau pendapat maka sebaiknya kembali kepada ushul fiqih (kaidah terhadap dalil baik menyangkut masalah ibadah maupun mu’amalah dan sebagainya).

“Sunnahnya itu kembali kepada ushul fiqih. Ada tiga. Ada Sunnah Jibiliyah, ada Sunnah Adiyah, ada Sunnah Tasyri’iyyah. Makanya jangan hanya terpaku pada terjemah saja, jadinya dikit-dikit bilangnya bid’ah,” singgung KH Romdoni.

Iapun menjelaskan pengertian dari 3 sunnah dalam ushul fiqih tersebut. Yaitu:

Dai kondang KH Romdoni Hamzah Lc saat memberikan tausyiah pada peringatan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi waasalam (SAW) yang diperingati pada 12 Rabiul Awal Tahun Hijriyah bertepatan dengan hari Kamis, (28/9/2023) di Masjid Jami Attaqwa, Jalan Wijaya Kusuma II No 14A Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. (Foto: Humas MJAT)

Pertama, tentang Sunnah Jibiliyah adalah perbuataan yang dilakukan Rasulullah Saw sebagai seorang manusia biasa. Atau dalam penilaian KH Romdoni, adalah bawaan lahirnya Rasulullah.

Apa itu? KH Romdoni mencontoh seperti Nabi Muhammad SAW, senangnya dengan makanan yang manis-manis, seperti madu dan kurma. Karena bawaan lahirnya seperti itu, lalu kalau ada yang tidak suka atau karena memiliki penyakit yang berpantangan dengan itu seperti penyakut diabetes, bukan berarti harus dipaksakan makan dan minum yang harus sesuai dengan bawaan lahirnya nabi.

“Jadi nggak harus. Kalau kita ikut bagus, tapi nggak diikuti juga ngga apa-apa. Nabi sunnahnya makan pakai tangan. Tapi, di masyarakat kita ada makanan yang berkuah, seperti bakso. Apa harus dimakan pakai tangan? Kira-kira gimana? Kalau pakai sendok, disebut jauh dari sunnah nabi. Ini yang namanya gagal paham dalam beragama,” urai KH Romdoni.

Kedua, Sunah Adiyah atau sunnah yang berkaitan dengan adat, tradisi, termasuk budaya tempat Nabi tinggal.

“Ini namanya kearifan lokal. Karena di Arab tandus dan panas. Nabi senangnya pakai gamis dan rida (sorban). Ini Sunnah Adiyah. Sedang kita di Indonesia, kearifan lokal di sini, pakai batik dan sarung. Budaya masyarakat Indonesia dengan budaya di Arab beda. Maka pentingnya ta’aruf itu mampu mengenal budaya masing-masing.”

“Orang Arab nggak ada yang pakai peci hitam. Jadi jangan memaksakan Sunnah Adiyah, sementara kondisi tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Kalaupun mau pakai nggak masalah. Tapi kalau melakukan Sunnah Adiyah, terus jangan mengklaim dirinya paling sunah. Terus orang yang makannya pakai sendok dibilang jauh dari sunnah,” kelakar KH Romdoni.

Lalu yang ketiga, sambung KH Romdoni adalah Sunnah Tasyri’iyyah. Yaitu hal-hal yang berasal dari Nabi Muhammad SAW dalam kapasitasnya sebagai rasul sebagai utusan Allah SWT untuk menyampaikan risalah kenabiannya.

“Ini yang paling penting. Bagaimana bisa meniru akhlah Rasulullah,” sambungnya.

Lagi-lagi untuk penjelasan ini, KH Romdoni menerangkannya dengan mengambil sebuah kisah.

Dikisahkan, ada seorang nenek sedang melintasi gurun pasir membawa beban berupa kayu bakar dan tampak kepayahan. Tak lama, ada seorang laki-laki datang menawarkan diri untuk membantu mengangkat bawaannya. Dengan senang hati, nenek itu menerima bantuan.

Sambil beriringan jalan menuju rumah si nenek, terjadilah obrolan. Mereka berjalan beriringan. Di perjalanan itu, nenek mengatakan tentang hal-hal yang dinilai buruk tentang Nabi Muhammad SAW.

Namun cercaan nenek tersebut tetap didengarkan dan disikapi nabi dengan sabar dan tersenyum. Hingga sampai di rumah si nenek, lalu sambil mengucapkan terima kasih, nenek bertanya kepada Rasulullah tentang namanya.

“Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu?” Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan betapa terkejutnya nenek tua itu. “Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi kepada nenek tadi yang terpaku memandangi Rasulullah.

Karena kemuliaan yang ditunjukkan Rasulullah itu, nenek tadipun bersyahadat memeluk Islam.

“Jadi Islam hadir di muka bumi ini bukan dengan kekerasan, bukan dengan senjata, tapi dengan perbuatan, dengan akhlakul karimah. Jangan pernah mendzolimi siapapun. Tidak membid’ahkan peringatan maulid. Karena esensi sebenarnya adalah bagaimana bisa meniru perbuatan beliau,” tutup KH Romdoni.(dito)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *