Konsultan bisnis di Bali, Wiramin, memberikan pandangan mengenai pengembangan usaha garam rakyat. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Budidaya garam rakyat di Kabupaten Buleleng, Bali, dinilai belum optimal karena dipengaruhi musim kemarau yang hanya berlangsung sekitar empat hingga lima bulan setiap tahun. Kondisi ini berbeda dengan Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memiliki musim kemarau lebih panjang, yakni tujuh hingga sembilan bulan, sehingga produktivitas garam dapat lebih maksimal.
Meski demikian, pelaku usaha di Bali tetap dapat memperoleh keuntungan apabila menerapkan sistem geomembrane PE (polyethylene) secara efektif dalam pengelolaan tambak garam.
“Sistem ini masih bisa memberikan keuntungan, tetapi pelaku usaha harus bermain pada volume produksi. Pasokan garam rakyat di Bali saat ini juga belum mampu memenuhi kebutuhan daerah tersebut,” kata konsultan bisnis di Bali, Wiramin, saat diwawancarai, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan perhitungan yang dilakukan, keuntungan usaha garam di Bali hanya sekitar setengah dari keuntungan yang diperoleh di NTT.
“Hasil produksi garam dengan sistem bagi keuntungan menunjukkan bahwa bagian koperasi sekitar Rp50 ribu per ton di Bali, sedangkan di NTT bisa mencapai Rp100 ribu per ton. Koperasi tersebut dibentuk bersama tanpa harus mengeluarkan biaya sewa lahan,” ujar Wiramin.
Menurut dia, penggunaan geomembrane sebagai alas tambak harus disertai pemilihan bahan yang berkualitas. Geomembrane berbahan polyethylene (PE) memiliki daya tahan tinggi dan mampu mencegah pencemaran karena tanah tambak tidak bercampur dengan air laut yang diolah menjadi garam.
Semakin bersih air yang diproses, kata dia, semakin baik kualitas garam yang dihasilkan. Selain itu, geomembrane juga mencegah kristal garam menempel pada tanah tambak sehingga proses panen dapat dilakukan lebih cepat dan mudah.
“Geomembrane juga mempercepat proses kristalisasi garam. Selain itu, luas tambak minimal sekitar 20 hektare agar operasional lebih efisien. Penggunaan mini dump truck serta plastik geomembrane berkualitas impor, terutama dari China, dapat meningkatkan efisiensi dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan rata-rata harga di pasaran,” katanya.

Wiramin juga menilai investasi asing, baik pada sektor on farm maupun off farm, masih terbuka di Indonesia. PT Garam (Persero), misalnya, pernah melakukan studi banding ke China untuk mempelajari teknologi produksi garam dari air laut dengan tingkat kemurnian tinggi.
Teknologi tersebut dinilai berpotensi untuk dialihkan ke Indonesia. Setelah garam dipanen, proses pencucian (washing) juga diperlukan guna meningkatkan kualitas produk.
“Garam pada dasarnya tidak homogen sehingga kualitasnya beragam. Dengan proses pencucian dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), kadar natrium klorida (NaCl) dapat meningkat dan kotoran lainnya dapat berkurang, meskipun tidak hilang sepenuhnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan teknologi perlu didukung oleh koperasi garam rakyat guna menciptakan dan menjaga lapangan kerja. Sistem bagi hasil dengan pemberian fee kepada koperasi dinilai efektif sekaligus mengurangi risiko biaya tinggi dalam operasional.
“Selama ini investasi peralatan seperti mesin pengering, mesin produksi, excavator, loader, hingga mini dump truck cukup rumit dan membutuhkan modal besar,” kata Wiramin. (Liu)







Be First to Comment