Press "Enter" to skip to content

Kopi Tubruk Meriahkan Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) ke-17 di Bandar Lampung

Social Media Share

Momen cupping: Dirjen PEN Kemendag Fajarini Puntodewi menilai aroma dan rasa kopi peserta KKSI ke-17.(Ist)

BANDAR LAMPUNG, NP – Aroma kopi tubruk menyelimuti Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) ke-17 di Bandar Lampung, yang digelar pada 23–26 Oktober 2025, menambah suasana hangat di tengah kompetisi kopi spesialti.

Panitia sengaja menampilkan kopi rakyat tersebut sebagai pelengkap suasana, meski berbeda dengan kategori utama kopi spesialti yang menjadi fokus ajang tahunan ini.

“Kami ingin KKSI tahun ini lebih variatif. Karena itu, kami sisipkan lomba kopi tubruk, latte art, dan berbagai teknik penyajian lainnya,” ujar Ketua Panitia SKA Coffee Fest KKSI ke-17, Steven Fernanda Soesilo, kepada redaksi, Sabtu, (25/10/2025).

Ajang KKSI ke-17 merupakan hasil kolaborasi Pranoto Soenarto Foundation, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), serta sejumlah pemangku kepentingan industri kopi nasional, termasuk produsen kopi SKA. Kegiatan ini menjadi wadah apresiasi terhadap mutu kopi terbaik Nusantara sekaligus mendorong peningkatan kualitas di tingkat petani.

Menurut Steven, total 651 sampel kopi dikirim untuk diseleksi, terdiri dari 158 Arabika Wash, 185 Arabika Natural, dan 308 Robusta. Proses penyaringan dilakukan di laboratorium uji cita rasa Puslitkoka Jember, Jawa Timur. Dari ratusan sampel tersebut, hanya 20 yang lolos ke babak semifinal, kemudian disaring lagi menjadi 10 finalis—masing-masing lima terbaik Robusta dan lima terbaik Arabika.

Aroma kopi tubruk turut mewarnai KKSI ke-17 di Bandar Lampung. Meski bukan kategori utama, kopi rakyat ini bikin suasana makin hangat dan akrab.(Ist)

“KKSI sudah 17 kali terselenggara. Kami berharap ajang ini terus memacu peningkatan mutu kopi spesialti dan industri kopi secara keseluruhan,” ujar Steven.

Pada pembukaan Seminar Kopi Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian acara, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas produksi dan nilai ekspor kopi Indonesia.

Kemendag mencatat, partisipasi petani dalam ajang seperti KKSI turut mendongkrak harga beli kopi di tingkat petani—dari semula Rp20.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. “Pemenang kontes biasanya langsung dilirik pembeli, baik lokal maupun luar negeri,” kata Fajarini.

Ia menambahkan, pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD, permintaan kopi dari pembeli asing meningkat signifikan. Untuk itu, Kemendag berkomitmen menyediakan hall khusus komoditas kopi pada TEI 2026.

“Dari sekitar 2.300 desa ekspor di Indonesia, 600 di antaranya merupakan desa penghasil kopi. Ini potensi besar yang harus terus kita kembangkan,” tandasnya.(Liu)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *