Press "Enter" to skip to content

Populasi Menyusut, Peternakan Babi Didorong Bangkit di NTT

Social Media Share

Kementan dan PATRIA rumuskan langkah strategis kembangkan peternakan babi.(Ist)

JAKARTA, NP — Harapan akan kebangkitan subsektor peternakan babi di kawasan Indonesia Timur kembali menguat. Hal ini mengemuka dalam pertemuan antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Alumni Margasiswa Republik Indonesia (DPP PATRIA), Jumat (12/9/2025), di Jakarta.

Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari pemulihan populasi babi, peningkatan kualitas produksi, hingga pengembangan industri pengolahan yang berbasis pada kearifan lokal, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pembangunan peternakan babi secara berkelanjutan. Menurut dia, diperlukan pendekatan kolaboratif untuk menanggulangi persoalan yang dihadapi masyarakat peternak, terutama pasca-wabah African Swine Fever (ASF) yang melanda sejak 2019.

“Kami memahami bahwa babi bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang penting di Indonesia Timur. Karena itu, perlu langkah strategis untuk memulihkan populasi, memperbaiki sistem budidaya, serta memastikan aspek kesehatan hewan,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, Minggu (14/9/2025).

Ia menambahkan, Kementan tengah menyiapkan sejumlah program, antara lain penguatan sistem kesehatan hewan, peningkatan kualitas genetik, serta pengembangan fasilitas inseminasi buatan (IB) khusus untuk babi. Selain itu, terdapat peluang pengembangan ekspor produk babi ke negara tetangga, seperti Timor Leste, yang dinilai dapat membuka pasar baru bagi peternak.

Ketua DPP PATRIA, Agustinus Tamo Mbapa, mengatakan, kunjungan pihaknya ke Kementan bertujuan menyampaikan aspirasi masyarakat peternak sekaligus mendorong sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan komunitas peternak rakyat.

“Sejak serangan ASF tahun 2019, populasi babi nasional turun hampir 50 persen. Dampaknya sangat terasa, terutama di Indonesia Timur, di mana babi bukan hanya sumber penghidupan, tetapi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat,” kata Agustinus.

Menurut dia, selain tantangan penyakit, para peternak masih menghadapi persoalan terbatasnya akses vaksin, rendahnya produktivitas, dan minimnya dukungan infrastruktur pendukung. Untuk itu, PATRIA mendorong adanya program pemulihan populasi, penyediaan bibit unggul, serta penerapan standar biosekuriti yang lebih ketat.

Menanggapi hal itu, Kementan menyatakan akan menindaklanjuti berbagai masukan tersebut dengan kajian lebih lanjut. Pemerintah juga mendorong terbentuknya forum dialog lanjutan yang melibatkan pemangku kepentingan dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah, akademisi, asosiasi profesi, dan pelaku usaha.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *