Press "Enter" to skip to content

Tak Punya Alat Sensor, Basarnas Belum Mampu Temukan Kapal Tunu Pratama Jaya

Social Media Share

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) Marsekal Madya TNI M Syafi’i dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara DPR RI, Komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2025). (Foto: tangakapan layar YouTube DPR RI)

JAKARTA, NP- Hingga hari kelima pencarian, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) belum mampu menemukan Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) malam sekira pukul 23:35 WIB.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafi’i mengungkapkan keterbatasan peralatan termasuk ketiadaan alat sensor pencarian kapal yang tenggelam menjadi kendala yang dihadapi Basarnas saat ini.

Penegasan disampaikan M Syafi’i saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara DPR RI, Komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2025). Selain dengan Basarnas, rapat juga dihadiri Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

Rapat mengagendakan Pembahasan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat APBΝ Τ.Α 2024 terkait Evaluasi Pelaksanaan APBN TA 2025 sampai bulan Juli 2025 dan Pembicaraan Pendahuluan RKA K/L dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) TA 2026.

Awalnya, M Syafi’i menjelaskan terkait perkembangan pencairan para korban yang hingga saat ini yang masih banyak belum ditemukan. Hingga hari kelima, Syafi’i menjelaskan berdasarkan data manifes yang tercatat kapal membawa sebanyak 53 penumpang, 12 kru kapal dan 22 kendaraan.

Dari jumlah itu, sebanyak 30 penumpang selamat, 6 orang ditemukan meninggal unia dan sebanyak 29 belum ditemukan.

Syafi’i menjelaskan saat personil Basarnas menuju lokasi, Kapal Tunu Pratama Jaya sudah lebih dulu tenggelam di perairan Selat Bali.

“Saat kejadian yang kami harapkan Basarnas dari informasi awal kedaruratan. Yang terjadi kami tidak tau persis, info yang didapat kapal sudah hilang dari permukaan. Maka tidak langsung menemukan kapal yang seharusnya bisa ditemukan,” ucap Syafi’i.

Ketua Komisi V DPR Lasarus pun menyela penjelasan Syafi’i. “Tegas saja Pak menjawab, sudah ketemu belum?” sela Lasarus.

“Sudah ada dua titik (lokasi tenggelamnya kapal). Kamis pastikan harus ada (alat sensor),” timpal Syafi’i.

“Basarnas belum punya sonar yang mampu mencari titik sampai kedalam berapa?” sambung Lasarus. “Kalau untuk kapal miliki sonar, Basarnas belum,” terang Syafi’i lagi. Syafi’i menambahkan pihaknya memperkirakan lokasi tenggelamnya kaplada pada kedalaman 50 sampai 70 meter.

Sebenarnya, menurut penjelasan salah seorang pejabat di Basarnas yang diminta menjelaskan terkait peralatan apa saja yang dimiliki Basarnas saat ini untuk mencari korban dan kapal, dijelaskan bahwa saat ini Basarnas memiliki alat yang dinamakan ROV (Remotely Operated Vehicle) yaitu robot bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh oleh operator yang berada di permukaan. Namun, ROV tidak memiliki awak dan terhubung ke kapal atau platform di permukaan melalui kabel yang mengirimkan sinyal kontrol dan data tentang keberadaan kapal.

Ketua Komisi Lasarus mengaku kecewa mendapati bahwa Basarnas tidak memiliki aas sensor pencari kapal tenggelam.

“Harusnya negara sebesar kita dengan 2/3 wilayah kita laut, kemungkinan potensi bencana di laut besar sekali. (Tapi) peralatan mencari kapal yang tenggelam di luat belum punya, karena terkendala anggaran. Sampai alat yang bapak butuhkan untuk mencari kapal tengelam saja, nggak punya. Bagaimana kita bisa kerja khusus mencari korban yang terperangkap di dalam (kapal). Alatnya saja kita nggak ada,” sesal Lasarus.

Trkait persoalan ini, Lasarus mengatakan Komisi V DPR RI akan memanggil semua Lembaga terkait untuk menyelesaiakan persoalan ini. “Soal ini akan kita panggil, Mehub, Kepala KNKT termasuk dari BMKG, duduk Bersama untuk mengurai (masalah). Ini PR kita yang akan kita bahas khusus di rapat khusus,” imbuh Lasarus.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Robert Rouw mendorong dibentuknya Panitia Kerja (Panja) soal kecelakan Kapal Tunu Pratama Jaya ini.

“Alangkah baiknya penanganan ini maka kita bikin panja saja soal kecelakaan ini. Kita panggil ke sini, apa saja kekurangannya termasuk peralatan yang dibutuhkan dicover dalam panja itu. Dengan panja semua aspek bisa kita jabarkan kepada public,” sebut Robert.

Menanggapi usulan pembentukan panja tersebut, Ketua Komisi V DR RI Lasarus mengatakan usulan itu aka dibahas di internal Komisi V DPR RI.

“Terkait yang disampaikan Pak Robert, kita akan rapat internal dulu. Kita panggil dulu semua. Nanti baru kita putuskan di rapat internal untuk kemungkinan dibentuknya panja,” tegas Lasarus.(har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *