Press "Enter" to skip to content

Pisang Sale, Camilan Lawas dengan Napas Baru

Last updated on 13/09/2025

Social Media Share

Dengan senyum hangat, Ahmad — pengusaha di balik merek Pisang Sale CI4 — berpose bersama sang istri tercinta (kanan) di lokasi usahanya di kawasan Cijantung, Jakarta Timur.(red)

JAKARTA Di sudut dapur sederhana di Cijantung, Jakarta Timur, Ahmad tengah membolak-balik potongan pisang di atas tampah anyaman bambu. Sinar matahari pagi menerobos atap plastik, menyinari irisan-irisan pisang yang perlahan mulai mengering. Aroma manis alami mulai menguar, menjadi pertanda awal dari proses panjang pembuatan sale pisang—camilan tradisional yang kini menjadi sumber harapan hidupnya.

Sejak 1998, Ahmad telah menekuni usaha ini. Dengan nama Pisang Sale Camilan Indonesia Asli (CI4), ia menyajikan rasa khas camilan lokal yang terus bertahan di tengah gempuran jajanan modern.

“Saya hanya ingin memperkenalkan cita rasa lokal, tapi dengan kualitas yang lebih baik,” ujarnya pelan, mengenang masa-masa awal usahanya dirintis.

Perjalanan Ahmad tak bisa dibilang mudah. Baru setahun berjalan, usaha kecilnya harus bertahan dari krisis moneter yang mengguncang negeri. Dua dekade kemudian, tantangan yang lebih besar datang: pandemi Covid-19. Namun, bagi Ahmad, setiap tantangan adalah ruang untuk belajar dan bertumbuh.

“Kalau hanya mengeluh, usaha enggak akan jalan. Kita harus tetap maju,” katanya, tersenyum.

Warisan Rasa yang Terus Dikembangkan

Di tangan Ahmad, pisang sale bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari identitas kuliner Indonesia. CI4 memproduksi berbagai varian rasa: pisang sale bakar, pisang sale kering, dan pisang sale cokelat—masing-masing dengan proses pengolahan dan karakteristik yang khas.

Bahan bakunya sederhana: pisang matang, minyak goreng, dan tepung beras. Semuanya bisa ditemukan dengan mudah di pasar tradisional. Namun, menurut Ahmad, yang membedakan adalah proses dan perhatian terhadap detail.

Setiap jenis pisang memerlukan waktu pengolahan berbeda. Pisang ambon, misalnya, butuh 10–15 hari untuk proses produksi. Sementara pisang siam hanya memerlukan 7–10 hari. Setelah dicuci dan diiris, pisang dijemur di bawah sinar matahari, lalu diasapi dalam proses garangan untuk pengawetan alami. Setelah itu, pisang dikemas dalam kemasan kedap udara agar tetap segar dan tahan lama.

“Saya ingin produk kami tampil bersih, higienis, dan siap masuk pasar modern,” kata Ahmad.

Beradaptasi dengan Zaman

Meski camilan tradisional, Ahmad tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Ia membangun merek CI4 sebagai identitas yang kuat dan konsisten. Media sosial menjadi salah satu kanal utama untuk promosi, selain kerja sama dengan toko dan supermarket.

“Sekarang kalau enggak online, ya ketinggalan. Kita juga harus tahu cara menjangkau generasi muda,” ujarnya.

Dulu dijemur di halaman, sekarang dikemas elegan.(Ist)

Tak berhenti di pasar lokal, Ahmad juga bersiap melebarkan sayap ke pasar ekspor. Ia yakin, cita rasa pisang sale Indonesia punya daya saing di luar negeri.

“Kita lagi jajaki peluang ekspor. Siapa tahu, orang luar bisa suka juga sama rasa kita,” katanya penuh harap.

Buah Sederhana, Manfaat Luar Biasa

Selain enak, Ahmad juga rajin menyampaikan edukasi soal manfaat pisang kepada pelanggan. Buah ini bukan hanya mengenyangkan, tapi juga kaya nutrisi.

Pisang dikenal tinggi serat, kalium, dan vitamin. Beberapa manfaat yang kerap disebut Ahmad antara lain: meningkatkan energi, melancarkan pencernaan, menurunkan tekanan darah, hingga mendukung diet sehat.

“Pisang itu murah, sehat, dan bisa dinikmati siapa saja. Sayang kalau dilupakan,” katanya.

Melangkah ke Masa Depan

Kini, CI4 telah memiliki jaringan pelanggan tetap. Ahmad mencatat peningkatan frekuensi pembelian dan jumlah mitra outlet. Tapi lebih dari itu, baginya, usaha ini adalah tentang konsistensi dan kepercayaan.

“Kalau kita kerja keras, sabar, dan jujur, hasil pasti akan datang sendiri,” ujarnya.

Di tengah pesatnya dunia kuliner, Ahmad tetap percaya bahwa cita rasa lokal akan selalu punya tempat di hati masyarakat. Dengan semangat itu, ia terus melangkah—menjemur harapan di bawah mentari Jakarta Timur, satu irisan pisang sale pada satu waktu.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *