Agnes Febrita mewakili PT KALBE (kiri) dan Wu Lixia (wakil presiden asosiasi promosi perdagangan Prov. Gansu) saling bertukar cindera mata. (Foto:Ist)
JAKARTA, NP – Perusahaan farmasi swasta nasional Indonesia, PT Kalbe Farma menerima kunjungan delegasi CCPIT (asosiasi perdagangan) provinsi Gansu China, membahas berbagai hal termasuk pengenalan akan berbagai informasi terutama produk, jasa layanan dan prospek kerjasama. Kalbe diwakili oleh Business Development General Manager, Agnes Febrita dan staf-stafnya. Sementara CCPIT Gansu terdiri dari 18 orang, termasuk sekretaris rombongan.
“Sekitar 50 persen (dari keseluruhan anggota delegasi) berlatar belakang TCM (traditional Chinese medicine). ada juga produsen alat-alat kesehatan yang diproduksi di Gansu. Ada juga yang dari pemerintahan, termasuk pengawasan obat,” Agnes dalam keterangan tertulis kepada Redaksi, Sabtu (21/10/2023)
Pertemuan berlangsung di kantor pusat Kalbe di bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat. pertemuan berlangsung sekitar 1,5 jam, termasuk sesi pengenalan serta tanya jawab. Delegasi juga melakukan serangkaian kunjungan, termasuk ke salah satu pabrik farmasi di Bekasi, Jawa Barat. sebelumnya, mereka mengajukan permohonan melalui PT Nusaraya Business Services untuk bisa bertemu dengan jajaran pengurus GP (Gabungan Perusahaan) Farmasi yang diketuai oleh Tirto Koesnadi. Selain, mereka juga berharap bisa temu dengan jajaran pengurus perkumpulan TCM (Traditional Chinese Medicine) Indonesia, serta ikatan naturopatis Indonesia (IKNI). tapi rencana pertemuan dengan GP Farmasi dan IKNI, asosiasi TCM Indonesia tidak berhasil karena satu dan lain hal.
Kunjungan delegasi ini juga bertepatan dengan acara Hospital Expo (18 – 21 Oktober) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta Selatan. Sehingga, beberapa anggota delegasi CCPIT juga berpartisipasi pada Hospital Expo. “Kami memperkenalkan produk kami, bahkan ada yang sudah masuk pasar China. Anak perusahaan (Kalbe) juga mengoperasikan sejumlah klinik, laboratorium dan lain sebagainya. Selain ada produk makanan,” kata Agnes.
Delegasi CCPIT juga antusias mempelajari kemungkinan memasarkan produk farmasi Gansu ke pasar Indonesia. Tetapi Penanaman Modal Asing (PMA), sebagaimana melakukan usaha di Indonesia, harus berpatungan dengan penanam modal dalam negeri. PMA adalah pelaku usaha perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, dan/atau pemerintah asing yang melakukan penanaman modal di Indonesia.
“Dia (perusahaan China) harus berpartner (patungan) dengan perusahaan local, supaya kita bisa mendaftarkan. Yang bisa mendaftar hanya perusahaan local (Indonesia). Data, produk dari dia (calon investor). Tapi yang terdaftar, perusahaan Indonesia. Dia (China) tidak boleh,” kata Agnes.
Perjanjian patungan (joint venture) menjadi opsi bagi pemilik modal asing masuk ke pasar Indonesia, serta memperhatikan risk management dan regulasi terkait bidang usaha yang terbuka. Bidang usaha dengan prospek dan masa depan menjanjikan bagi investor termasuk China, India, beberapa Negara Eropah dan Amerika, salah satunya produk farmasi. Kalau Joint Venture (joint venture) di Indonesia tidak dibarengi dengan pengaturan, maka bisa ‘kebanjiran’. Ibaratnya, seperti India juga sudah menunggu di ‘pintu gerbang’ untuk bisa masuk pasar Indonesia.
“Mereka (PMA) melihat pasar Indonesia sexy. Kita Negara berkembang, tapi banyak juga konsumen di Indonesia yang mau menggunakan produk, jasa layanan luar negeri. (konsumen Indonesia) masih sangat minded (terpesona) dengan produk luar negeri. Memang pilihannya, bukan hanya China, India, tapi juga Amerika, Eropah,” kata Agnes.(red)







Be First to Comment