Jajaran direksi PT Megah Safitri Aviasi (MSA) saat menggelar eksperimen teknologi pengolahan sampah yang dikembangkan bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Trisakti. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – PT Megah Safitri Aviasi (MSA) membuka peluang investasi untuk melanjutkan pengembangan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair melalui proses pirolisis.
Langkah tersebut dilakukan setelah eksperimen teknologi yang dikembangkan bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Trisakti menghasilkan hasil yang dapat diverifikasi.
Tantangan MSA saat ini bukan lagi pada aspek teknologi, melainkan membuka akses pembiayaan untuk membawa hasil eksperimen tersebut menuju tahap komersial.
CEO MSA Sigit Samsu mengatakan, proyek pirolisis yang selama ini dikembangkan menggunakan self equity. Namun, akses pembiayaan dari perbankan masih menghadapi kendala karena proyek tersebut dinilai masih berada dalam kategori research.
“Masalah pembiayaan cukup sensitif. Walaupun proyek pirolisis kami menggunakan self equity, pihak perbankan tetap melihat kelayakan pemberian pembiayaan tambahan berdasarkan aset atau asset-based collateral. Perbankan masih mengategorikan eksperimen MSA sebagai research,” kata Sigit di Jakarta, Senin (5/10/2026).

CEO PT Megah Safitri Aviasi (MSA) Sigit Samsu (kelima dari kanan). (Foto: Ist)
Menurut Sigit, kondisi tersebut justru membuka ruang bagi investor maupun mitra strategis yang memiliki kemampuan pendanaan, teknologi, ataupun akses pasar untuk masuk ke sektor pengolahan sampah.
Ia menilai peluang terbesar berada pada pengolahan sampah skala kecil hingga menengah, terutama dengan kapasitas sekitar 50-300 ton per hari. Skala tersebut dinilai lebih fleksibel untuk diterapkan di berbagai wilayah dibandingkan proyek pengolahan sampah berskala sangat besar.
“Investor tidak harus membawa teknologi untuk skala besar. Pengolahan sampah skala besar masuk ke ranah pemerintah. Yang kami lihat justru kebutuhan pada skala menengah, misalnya 50 sampai 300 ton per hari. Itu menjadi peluang bisnis yang cukup besar bagi investor,” ujarnya.
Besarnya peluang tersebut sejalan dengan persoalan pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan ratusan kabupaten/kota dan timbulan sampah yang terus meningkat, kebutuhan terhadap teknologi pengolahan sampah yang memiliki nilai ekonomi semakin besar.
MSA sendiri memilih pendekatan dengan melakukan pemilahan dan pre-treatment terlebih dahulu terhadap sampah plastik yang akan masuk ke proses pirolisis. Limbah tersebut kemudian dikonversi menjadi produk bahan bakar cair yang memiliki nilai ekonomi.
Tidak berhenti pada plastik, MSA juga terus melakukan pengembangan untuk memperluas jenis bahan baku yang dapat diproses, termasuk kemungkinan pemanfaatan ban bekas maupun jenis sampah lainnya.
“Kami masih terus berinovasi, termasuk melihat kemungkinan pirolisis untuk ban bekas dan sampah secara umum. Jenis tersebut memiliki pasar yang spesifik dan persaingannya relatif lebih sedikit,” kata Sigit.
Menurut Sigit, teknologi pirolisis juga dapat menjadi salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Sampah dapat dipilah berdasarkan karakteristiknya, kemudian masing-masing fraksi diarahkan ke teknologi pengolahan yang sesuai. Salah satunya adalah pirolisis untuk menghasilkan energi alternatif dari limbah plastik.
Pengembangan teknologi MSA dilakukan bersama FTI Universitas Trisakti dengan melibatkan dosen dan mahasiswa. Setelah serah terima unit Mesin Reaktor Pirolisis pada April 2026, MSA menargetkan fasilitas tersebut dapat beroperasi secara penuh dan efektif pada bulan depan.
“Sejak serah terima unit Mesin Reaktor Pirolisis pada April 2026, bulan depan kami menargetkan sudah full efektif berjalan. Kapasitas pirolisis MSA mencapai 100 ton per hari dan akan diterapkan di kawasan BSD, Tangerang Selatan,” ujar Sigit.
Dengan kesiapan teknologi tersebut, MSA kini fokus mencari skema pendanaan dan kemitraan yang tepat agar teknologi pirolisis dapat segera memasuki tahap implementasi komersial dan menjadi salah satu solusi pengolahan sampah sekaligus penyediaan energi alternatif. (Liu)







Be First to Comment