Hal tersebut ditegaskan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono dalam 23rd ASEAN Air Chiefs Conference (AACC) yang digelar melalui video conference, Rabu (9/9/2026).
Tonny menekankan, interoperabilitas tidak harus diwujudkan dengan menyeragamkan sistem maupun membentuk satu komando. “Interoperabilitas bukan berarti kita harus memiliki sistem yang sama atau berada dalam satu komando. Yang utama adalah kemampuan untuk bekerja sama secara efektif dengan tetap menghormati kedaulatan dan kewenangan nasional masing-masing negara,” tegasnya.
Menurut Kasau, perbedaan kemampuan dan sistem pertahanan udara di antara negara ASEAN bukan menjadi penghalang untuk membangun kerja sama. Sebaliknya, perbedaan tersebut harus dikelola agar setiap negara dapat saling melengkapi dalam pelaksanaan misi bersama.
Terlebih dalam misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), kecepatan respons dan kemampuan bekerja lintas negara menjadi sangat krusial. Kekuatan udara dapat dikerahkan untuk pencarian dan pertolongan, evakuasi medis, penilaian kondisi dari udara, hingga pengiriman bantuan ke wilayah terdampak bencana.
“Dalam menghadapi bencana, kecepatan dan kemampuan untuk bekerja bersama menjadi sangat penting. Kekuatan udara memiliki kemampuan untuk memberikan respons cepat melalui pencarian dan pertolongan, evakuasi medis, penilaian udara, serta distribusi bantuan,” ujar Tonny.
Karena itu, TNI AU mendorong penguatan komunikasi, pertukaran informasi, latihan bersama, dan pendidikan sebagai fondasi membangun interoperabilitas. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan sekaligus memastikan respons ASEAN dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi.
“Kita perlu memperkuat komunikasi, berbagi informasi, latihan, dan pendidikan untuk membangun kepercayaan serta meningkatkan interoperabilitas di antara Angkatan Udara ASEAN,” katanya.
Penguatan kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mendukung mekanisme ASEAN, termasuk AHA Centre, dengan berpegang pada prinsip One ASEAN, One Response. Dengan demikian, kemampuan udara negara-negara ASEAN diharapkan tidak hanya kuat secara nasional, tetapi juga mampu bergerak bersama ketika kawasan menghadapi bencana dan krisis kemanusiaan. (red)







Be First to Comment