Press "Enter" to skip to content

Hakim Juga Manusia, “Pesan Bermakna” Ungkap Ujian di Balik Toga

Social Media Share

Dony Alamsyah dan Vonny Anggraeni hadir dalam acara pemutaran film Pesan Bermakna yang sarat pesan tentang integritas dan pengabdian hakim.(Foto: Ist)

JAKARTA, NP – Seorang hakim tidak hanya diuji di ruang sidang. Ada kalanya ujian terbesar justru datang ketika kehidupan pribadi berhadapan langsung dengan sumpah profesi.

Pergulatan itulah yang menjadi inti cerita film Pesan Bermakna, sebuah film yang mengangkat sisi manusiawi seorang hakim ketika harus memilih antara menyelamatkan orang yang paling dicintainya atau mempertahankan integritas yang menjadi kehormatan jabatannya.

Masih dalam rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun Mahkamah Agung ke-81, MARINews menghadirkan kembali informasi mengenai film produksi Biro Hukum dan Humas Mahkamah Agung bekerja sama dengan Emtek Digital tersebut.

Film Pesan Bermakna mengangkat kisah Dimas, seorang hakim di sebuah pengadilan negeri yang berusaha menjaga marwah profesinya di tengah tekanan kehidupan. Cerita dalam film ini diadaptasi dari buku Catatan di Balik Toga Merah karya D. Y. Witanto, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Mahkamah Agung.

Melalui film ini, penonton diajak melihat ruang yang selama ini jarang tersentuh, yakni pergulatan batin seorang hakim ketika menghadapi pilihan-pilihan sulit yang menguji keyakinan dan prinsip hidupnya.

Film tersebut pertama kali dipersembahkan pada 19 Agustus 2021 bertepatan dengan peringatan HUT ke-76 Mahkamah Agung. Karya ini menjadi bentuk penghormatan kepada seluruh insan peradilan yang mengabdikan diri demi tegaknya hukum dan keadilan.

Hakim selama ini dikenal sebagai simbol keadilan. Putusan yang dijatuhkan seorang hakim dapat menentukan nasib seseorang, bahkan menyangkut masa depan dan kehidupan manusia.

Namun, di balik toga dan palu sidang, hakim tetaplah manusia. Mereka memiliki keluarga, kebutuhan, harapan, serta persoalan hidup yang tidak selalu mudah dihadapi.

Dalam film tersebut, Dimas digambarkan sebagai sosok hakim yang berusaha menjaga integritas di tengah keterbatasan ekonomi. Keinginannya sederhana, yakni membahagiakan ibunya yang telah membesarkannya seorang diri.

Harapan itu berubah menjadi ujian ketika sang ibu didiagnosis menderita tumor otak stadium III dan membutuhkan biaya pengobatan besar. Pada waktu yang sama, Dimas tengah menangani perkara besar yang menuntut keteguhan sikap.

Di tengah situasi tersebut, seorang pengacara datang menawarkan sejumlah uang. Nilainya cukup untuk membiayai pengobatan ibunya.

Tawaran itu menjadi titik paling berat dalam perjalanan Dimas. Ia harus memilih: menerima uang tersebut demi menyelamatkan ibunya atau menolak dan mempertahankan integritas sebagai seorang hakim.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa ancaman terhadap integritas tidak selalu datang dalam bentuk tekanan besar, tetapi juga melalui persoalan pribadi yang menyentuh sisi kemanusiaan seseorang.

Ketua Mahkamah Agung, Prof. Sunarto, sebelumnya pernah mengingatkan bahwa menjaga integritas di tengah berbagai godaan bukan perkara mudah. Menurutnya, integritas ibarat nyala api yang harus tetap dijaga meski berada di tengah badai.

Karena itu, diperlukan keteguhan hati, komitmen, dan pendirian yang kuat agar seorang hakim tetap mampu berdiri di atas prinsip keadilan.

Lalu, apakah Dimas mampu melewati ujian tersebut? Apakah ia tetap teguh menjaga kehormatan profesinya atau memilih jalan lain demi menyelamatkan sang ibu?

Jawabannya dapat disaksikan dalam film Pesan Bermakna yang diperankan oleh Dony Alamsyah sebagai Dimas dan Vonny Anggraeni sebagai ibunya. Film tersebut dapat ditonton secara gratis melalui kanal YouTube Humas Mahkamah Agung.

Film ini tidak hanya ditujukan bagi insan peradilan, tetapi juga masyarakat luas agar memahami bahwa di balik setiap putusan hakim terdapat tanggung jawab moral yang besar.

Ketua Mahkamah Agung ke-14, Prof. Dr. Syarifuddin, menilai film tersebut memiliki pesan penting bagi para hakim dalam menjalankan tugas.

“Film ini sangat bagus. Semoga para hakim di seluruh Indonesia bisa menjadikan film ini sebagai inspirasi dalam bertugas, tetap menjaga kode etik hakim, apa pun yang terjadi,” kata Prof. Dr. Syarifuddin seusai menyaksikan film tersebut, Minggu (2/8/2026).

Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung ke-15, Prof. Sunarto, mengajak seluruh insan peradilan beserta keluarganya untuk menyaksikan film tersebut.

“Saya mengimbau seluruh insan peradilan dan keluarganya untuk menonton film yang penuh dengan pesan moral ini,” kata Prof. Sunarto.

Film Pesan Bermakna menjadi pengingat bahwa integritas seorang hakim tidak hanya diuji oleh perkara yang ditanganinya, tetapi juga oleh pilihan-pilihan sulit dalam kehidupannya sendiri. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *