Press "Enter" to skip to content

Limbah Jahe Disulap BRIN Menjadi Biobriket Energi Ramah Lingkungan

Social Media Share

Rimpang jahe menyimpan potensi baru. Melalui inovasi teknologi, limbah hasil penyulingannya dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat ramah lingkungan.(Foto: BRIN)

TANGSEL, NP – Limbah padat hasil proses hidrodistilasi rimpang jahe (Zingiber officinale) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi menjadi sumber energi alternatif ramah lingkungan. Peneliti dari Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Anny Sulaswatty bersama tim, berhasil mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah biomassa rimpang jahe menjadi biobriket berkualitas sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi bersih dan penerapan ekonomi sirkular.

“Peningkatan produksi minyak atsiri seperti akar wangi, sereh wangi, kulit kayu manis, cengkeh, jahe, serta minyak atsiri dari kayu-kayuan seperti cendana, gaharu, dan masoia menghasilkan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung energi alternatif berbasis biomassa,” ungkap Anny dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (10/7/2026).

Menurut Anny, berbagai jenis limbah biomassa sebenarnya memiliki potensi untuk diolah menjadi biobriket, namun diperlukan karakteristik tertentu agar dapat menghasilkan bahan bakar padat berkualitas. “Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tetapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen,” jelasnya.

Ia menjelaskan, limbah rimpang jahe menjadi salah satu bahan potensial karena masih mengandung komponen lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat melalui proses karbonisasi dan pencetakan dengan penggunaan berbagai jenis perekat.

“Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, yaitu 45,98 persen, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya,” tambah Anny.

Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan biobriket berbasis biochar dari limbah penyulingan jahe dengan mengevaluasi berbagai jenis perekat untuk memperoleh karakteristik produk yang optimal. Jenis perekat yang digunakan diketahui berpengaruh terhadap sifat fisik, mekanik, dan termal biobriket, seperti kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, serta nilai kalor.

“Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat, memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah,” ujar Anny.

Dalam proses penelitian, lanjut Anny, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan sebelum dilakukan karbonisasi untuk menghasilkan biochar. Biochar tersebut kemudian dicampurkan dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji karakteristiknya melalui serangkaian analisis laboratorium.

“Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, dan nilai kalor. Selain itu, karakterisasi fisikokimia dilakukan menggunakan berbagai teknik analisis laboratorium untuk mengevaluasi perubahan struktur dan sifat material selama proses pembuatan biobriket,” terangnya.

Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa proses karbonisasi mampu meningkatkan kandungan karbon, mengubah gugus fungsi permukaan, serta menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori. Penggunaan jenis perekat yang tepat juga menghasilkan biobriket dengan densitas dan kekuatan mekanik lebih baik.

Anny menilai kualitas biochar dan pemilihan perekat menjadi faktor utama yang menentukan mutu akhir biobriket. “Selain meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri, penelitian ini juga memberikan solusi terhadap meningkatnya akumulasi limbah penyulingan jahe dari industri minyak atsiri dan herbal. Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat terbarukan dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” paparnya.

Menurutnya, inovasi tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mampu mengubah limbah menjadi sumber daya baru yang bermanfaat. Teknologi ini diharapkan dapat diterapkan di berbagai sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.

“Di tengah meningkatnya kebutuhan energi terbarukan, pengembangan biobriket berbasis limbah pertanian menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Selain berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi ini juga mendukung pengurangan emisi karbon, peningkatan efektivitas pengelolaan limbah biomassa, serta penciptaan nilai tambah bagi sektor pertanian dan agroindustri,” urai Anny.

Melalui penelitian ini, Anny berharap limbah biomassa tidak lagi dipandang sebagai residu produksi yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya terbarukan yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar padat bernilai ekonomi tinggi.

“Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong pemanfaatan limbah secara optimal, memperkuat implementasi ekonomi sirkular, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” tutup Anny. (red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *