Praktisi teknologi dan pengusaha Arif Maulana Nurbani.(Foto:Ist)
PANDEGLANG, NP – Kabupaten Pandeglang dinilai tidak lagi menghadapi persoalan minimnya potensi, melainkan bagaimana mengubah seluruh potensi yang dimiliki menjadi investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Praktisi teknologi dan pengusaha Arif Maulana Nurbani mengatakan, Pandeglang memiliki modal besar di sektor pertanian, pariwisata, pesisir, serta sumber daya manusia. Sebagai bagian dari Provinsi Banten, daerah ini juga memiliki posisi strategis karena terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, mulai dari Serang, Cilegon, Tangerang, hingga pasar Jabodetabek.
“Pandeglang tidak kekurangan potensi. Pertanyaannya adalah, seberapa besar potensi tersebut benar-benar berubah menjadi pendapatan masyarakat, lapangan kerja, investasi, dan kesejahteraan? Menurut saya, di situlah tantangan terbesarnya,” ujar Arif dalam keterangannya mengenai arah pembangunan Pandeglang, Rabu (15/7/2026).
Menurut Arif, pembangunan daerah harus bergeser dari sekadar menjalankan program menuju pembangunan yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Karena itu, ia menawarkan konsep Satu Kecamatan, Satu Mesin Ekonomi. Dengan 35 kecamatan yang memiliki karakteristik berbeda, setiap wilayah dinilai harus memiliki arah pengembangan ekonomi yang jelas sesuai keunggulan masing-masing.
“Daerah pertanian tentu berbeda dengan kawasan pesisir. Kawasan wisata juga berbeda dengan wilayah perkotaan. Pandeglang jangan hanya memiliki peta administratif. Pandeglang perlu memiliki peta ekonomi,” katanya.
Ia menilai setiap kecamatan perlu memiliki sektor unggulan, proyek prioritas, akses pasar atau off-taker, serta target penciptaan lapangan kerja yang terukur.
Menurutnya, kawasan pertanian dapat diperkuat melalui pengembangan agro-processing dan industri pangan, kawasan pesisir melalui perikanan dan cold chain, kawasan wisata melalui sektor perhotelan, kuliner, ekonomi kreatif, dan UMKM, sedangkan kawasan perkotaan menjadi pusat perdagangan dan jasa.
Di sektor pertanian, Arif menegaskan Pandeglang tidak boleh hanya berperan sebagai daerah penghasil bahan baku. Yang jauh lebih penting adalah memastikan nilai tambah hasil produksi tetap dinikmati masyarakat setempat.
“Jangan hanya bertanya berapa ton yang berhasil dipanen. Kita juga harus bertanya, berapa rupiah nilai tambah yang tetap tinggal di Pandeglang?” ujarnya.
Untuk itu, ia mengusulkan pembangunan ekosistem Pandeglang Food & Agro Hub yang mengintegrasikan petani dengan penyimpanan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga akses pasar.
“Petaninya ada, produknya ada, pasarnya juga ada. Pandeglang berada di Banten dan relatif dekat dengan pusat konsumsi serta kawasan ekonomi besar. Yang harus diperkuat adalah sistem yang menghubungkan produksi, logistik, industri, dan pasar,” katanya.
Arif juga mengingatkan agar pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Keberhasilan pembangunan jalan jangan hanya diukur dari berapa kilometer yang selesai. Kita juga harus melihat berapa desa yang terkoneksi, berapa kawasan produksi yang terbuka, berapa biaya logistik yang turun, dan berapa aktivitas ekonomi baru yang tercipta,” ujarnya.
Ia menambahkan, ukuran keberhasilan pembangunan infrastruktur sesungguhnya adalah perubahan yang dirasakan masyarakat.
“Bagi saya, pertanyaannya sederhana. Setelah jalan dibangun, apa yang berubah bagi masyarakat? Apakah akses pasar membaik? Apakah investasi masuk? Apakah usaha tumbuh? Kalau iya, berarti infrastruktur tersebut benar-benar produktif,” katanya.
Di sektor pariwisata, Arif menilai keberhasilan tidak cukup diukur dari tingginya jumlah kunjungan wisatawan, melainkan dari besarnya dampak ekonomi yang ditinggalkan.
“Yang penting bukan hanya berapa wisatawan datang. Berapa lama mereka tinggal? Berapa banyak mereka membelanjakan uang? Berapa UMKM lokal yang mendapatkan manfaat? Itu yang harus dihitung,” katanya.
Karena itu, ia mengusulkan konsep Pandeglang Tourism Circuit yang menghubungkan destinasi wisata dengan penginapan, kuliner, desa wisata, transportasi lokal, dan produk UMKM sehingga wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.
“Jangan sampai wisatawan datang, berfoto, lalu pulang. Kita ingin mereka menginap, makan di usaha lokal, membeli produk masyarakat, menggunakan jasa lokal, dan mengunjungi lebih dari satu destinasi. Sederhananya, keramaian harus diubah menjadi ekonomi,” ujarnya.
Selain memperkuat sektor unggulan, Arif menilai pemerintah daerah perlu lebih agresif menarik investasi melalui penawaran proyek yang konkret.
Ia mengusulkan penyusunan daftar 20 Investment Opportunities in Pandeglang yang memuat proyek siap investasi lengkap dengan lokasi, status lahan, kebutuhan modal, potensi pasar, hingga skema perizinan.
“Jangan hanya menunggu investor datang. Kita harus tahu apa yang ingin kita tawarkan. Siapkan proyeknya, datanya, lahannya, potensi pasarnya, kemudian jemput investornya,” katanya.
Menurut Arif, keberhasilan investasi tidak boleh berhenti pada besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi harus diukur dari dampaknya terhadap masyarakat.
“Pada akhirnya, investasi harus menjawab satu hal, yaitu berapa lapangan kerja yang tercipta dan seberapa besar manfaatnya bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Ia juga menilai pengembangan sumber daya manusia harus diiringi dengan penciptaan wirausaha baru agar generasi muda memiliki kesempatan membangun usaha di daerahnya sendiri.
“Jangan sampai anak muda Pandeglang semakin terdidik, tetapi merasa harus pergi karena tidak menemukan kesempatan untuk tumbuh di daerahnya sendiri,” katanya.
Karena itu, Arif mendorong lahirnya program 1.000 Pengusaha Baru Pandeglang yang berorientasi pada hasil, mulai dari pendampingan ide usaha, legalitas, pengembangan produk, pembiayaan, hingga akses pasar.
“Targetnya jangan seribu peserta pelatihan. Targetnya harus seribu orang yang benar-benar menjalankan usaha dan sebagian dari mereka kemudian mampu membuka lapangan kerja,” tegasnya.
Menurut Arif, masa depan Pandeglang sangat bergantung pada kemampuan menghubungkan seluruh potensi daerah ke dalam satu sistem pembangunan yang terintegrasi.
“Pertanian harus terhubung dengan industri. Desa harus terhubung dengan pasar. Wisata harus terhubung dengan ekonomi lokal. Infrastruktur harus terhubung dengan produktivitas. Dan investasi harus terhubung dengan lapangan kerja.”
“Ini bukan soal slogan. Ini soal perubahan cara melihat pembangunan. Dari hanya memiliki potensi menjadi mampu menciptakan nilai tambah. Dari sekadar menjalankan program menjadi menghasilkan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tutup Arif.
Arif Maulana Nurbani merupakan praktisi teknologi, pengusaha, dan pengembang yang memiliki pengalaman di bidang teknologi informasi, manajemen proyek, pengembangan usaha, dan properti. (red)







Be First to Comment