Pendiri PU, SD Darmono (kanan), menyerahkan potongan tumpeng pada peringatan HUT ke-25 PU kepada Board of Trustees (Dewan Penyantun) Fakultas Kedokteran PU, Prof. Satyanegara (kedua dari kanan). (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Dalam peringatan 25 tahun President University (PU), Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono menegaskan sebuah realitas yang kerap diabaikan: gelar akademik saja tidak lagi cukup.
Di tengah lebih dari 4.000 universitas di Indonesia, tantangan utama pendidikan tinggi saat ini bukan sekadar menghasilkan sarjana, melainkan mencetak lulusan yang mampu bertahan secara ekonomi dan siap kerja sejak hari pertama.
Industri Butuh Keterampilan, Bukan Sekadar Ijazah
Menurut Darmono, dunia industri bergerak sangat cepat dan tidak memiliki waktu untuk “melatih dari nol”.
“Industri menginginkan lulusan yang sudah siap kerja. Mereka membutuhkan skill, bukan hanya gelar,” ujarnya di Kampus President University, Cikarang, Bekasi, Rabu (22/4/2026).
Karena itu, sejak awal berdirinya, President University dirancang dengan pendekatan berbeda. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong masuk ke dunia industri sedini mungkin.

Konsep tersebut diwujudkan melalui:
- Magang sejak tahun pertama
- Integrasi kampus dengan kawasan industri
- Pembelajaran berbasis praktik nyata
Darmono menegaskan, keterbatasan akses magang merupakan kerugian besar bagi mahasiswa.
“Kalau mahasiswa tidak bisa masuk pabrik, itu sangat disayangkan. Di situlah mereka belajar bertahan secara ekonomi.”
Harapan Orang Tua: Masa Depan yang Pasti
Di sisi lain, masyarakat—terutama orang tua—memiliki harapan sederhana namun mendasar: anak mereka harus memiliki masa depan yang jelas.
Namun realitas sosial di Indonesia masih menempatkan gelar sebagai simbol utama keberhasilan.
“Orang tua masih berpikir soal gelar. Bahkan sampai memikirkan apakah nanti anaknya mudah mendapatkan jodoh,” katanya.
Darmono memahami perspektif tersebut, tetapi menekankan bahwa gelar harus berjalan seiring dengan kemampuan nyata.
President University, menurutnya, berupaya menjembatani dua kebutuhan itu:
- Memberikan gelar akademik
- Sekaligus memastikan lulusan memiliki keterampilan dan kemandirian ekonomi
Membangun Lingkungan Internasional
Lebih jauh, Darmono menekankan bahwa menjadi universitas kelas dunia tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum. Yang lebih penting adalah membangun lingkungan internasional yang hidup.
Karena itu, sejak awal President University:
- Mewajibkan mahasiswa tinggal di asrama
- Mendorong interaksi dengan mahasiswa asing
- Menggunakan bahasa internasional dalam keseharian
Target jangka panjangnya adalah menjadikan 30 persen mahasiswa dan dosen berasal dari luar negeri.
“Kalau tidak ada mahasiswa asing, tidak mungkin kita menciptakan universitas internasional,” ujarnya.

Belajar dari Singapura
Darmono juga menyoroti keberhasilan Singapura yang mampu menempatkan universitasnya di jajaran dunia, seperti NUS dan NTU.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan ditentukan oleh ukuran negara, melainkan oleh:
- Keberanian bereksperimen
- Kebijakan yang fleksibel
- Keterhubungan erat antara pendidikan dan industri
President University, lanjutnya, dibangun dengan semangat serupa—berani menjadi pilot project dan mendobrak pola lama yang terlalu konservatif.
Masa Depan di Tangan Alumni
Menutup refleksinya, Darmono menyampaikan harapan sederhana namun visioner.
“Yang memiliki President University ke depan adalah para alumninya.”
Artinya, keberhasilan PU tidak hanya diukur dari gedung atau peringkat, tetapi dari kualitas lulusannya, dampaknya di masyarakat, serta kemampuannya menjadi penggerak perubahan. (Liu)







Be First to Comment