Press "Enter" to skip to content

Ekspor Perdana 23 Ton Durian Beku RI Tiba di Qinzhou Tiongkok

Social Media Share

Penerimaan perdana durian beku Indonesia di Pelabuhan Qinzhou, Tiongkok. (Foto: Ist)

GUANGXI, NP – Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI menyambut baik keberhasilan ekspor perdana durian beku asal Indonesia yang telah tiba di Pelabuhan Qinzhou, Tiongkok. Sebanyak 23 ton durian beku produksi PT Amerta Nadi Agro Cemerlang dari Sulawesi Tengah, senilai USD 123,84 ribu atau sekitar Rp2,08 miliar, tiba di Negeri Tirai Bambu pada Selasa (6/1/2026).

Keberhasilan ekspor ini merupakan hasil sinergi Kedutaan Besar RI di Beijing dan Kemendag RI melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI Beijing dalam membuka komunikasi antara pelaku usaha durian Indonesia dan calon pembeli di Tiongkok, sehingga memungkinkan pembelian durian secara langsung dari Indonesia.

Atdag RI Beijing Budi Hansyah menyampaikan, ekspor durian beku tersebut menjadi bukti nyata diterimanya standar kualitas hortikultura Indonesia di pasar global. Pencapaian ini sekaligus menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisinya sebagai pemasok produk hortikultura berkualitas tinggi di pasar internasional.

“Ekspor langsung ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar global. Durian beku yang dikirimkan telah memenuhi berbagai standar yang ditetapkan otoritas Tiongkok, mulai dari keamanan pangan, kesehatan tumbuhan, hingga persyaratan mutu produk,” ujar Budi dalam siaran pers, Kamis (15/1/2026).

Budi menambahkan, masuknya durian beku Indonesia ke pasar Tiongkok telah memperoleh persetujuan Badan Karantina RI serta diproses sesuai ketentuan kepabeanan dan melalui pengawasan karantina yang berlaku di Tiongkok. “Hal ini menegaskan kepercayaan otoritas Tiongkok terhadap sistem karantina serta jaminan mutu produk pertanian Indonesia,” jelasnya.

Durian beku Indonesia tersebut selanjutnya akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti durian potong bercangkang, daging durian beku, durian kering, durian kering beku, serta pasta durian untuk didistribusikan ke berbagai wilayah di Tiongkok. Melihat besarnya potensi pasar durian olahan di negara tersebut, Budi mengajak para pelaku usaha nasional untuk menjajaki peluang ekspor durian bernilai tambah.

“Kemendag terus memotivasi pelaku usaha di Tanah Air untuk merambah produk olahan bernilai tambah. Hal ini mengingat besarnya potensi pasar di Tiongkok yang menunjukkan minat tinggi terhadap berbagai varian produk, seperti durian kering hingga pasta durian. Dengan produk bernilai tambah, daya saing produk lokal di kancah internasional akan semakin meningkat,” kata Budi.

Ia menegaskan, Kemendag akan terus memfasilitasi promosi dan penguatan jejaring bisnis agar semakin banyak produk unggulan Indonesia mampu bersaing di pasar Tiongkok. “Kami terbuka untuk berdiskusi, berbagi informasi, dan menghubungkan para pelaku usaha. Kami juga mengundang mitra Tiongkok untuk bekerja sama dengan Indonesia guna membangun hubungan yang kuat dan menciptakan perdagangan yang lebih sukses,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Amerta Nadi Agro Cemerlang I Putu Agus Candranata mengapresiasi dukungan pemerintah dalam mendorong ekspor produk hortikultura, mulai dari penyediaan informasi pasar, fasilitasi komunikasi dengan calon pembeli, hingga persiapan pengiriman.

“Kami berterima kasih kepada Atdag RI Beijing atas bimbingan yang diberikan, mulai dari fasilitasi komunikasi dengan otoritas setempat, bantuan pengurusan dokumen ekspor, hingga penyediaan informasi pasar. Pengiriman ekspor perdana ini dapat terlaksana dengan baik dan mendukung ekspansi pasar durian Indonesia,” ujar Agus.

Pelabuhan Qinzhou Gerbang Masuk Strategis

Menurut Budi, kehadiran durian beku Indonesia di Tiongkok turut mendukung pengembangan Pusat Perdagangan Buah Tiongkok–ASEAN yang berlokasi di Qinzhou. Pelabuhan ini merupakan simpul logistik utama bagi kawasan Asia Tenggara, didukung layanan kepabeanan cepat serta fasilitas pemeriksaan dan pengujian terintegrasi.

Dukungan infrastruktur Pelabuhan Qinzhou, kawasan berikat, serta jaringan logistik laut dan kereta barang yang menjangkau wilayah pedalaman Tiongkok dinilai akan memperkuat daya saing produk hortikultura bernilai tambah Indonesia. Dengan infrastruktur tersebut, produk Indonesia dapat menjangkau pasar Tiongkok secara lebih cepat dan kompetitif, termasuk distribusi durian beku yang semakin luas dan efisien.

“Memperkuat ekspor melalui Pelabuhan Qinzhou tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok produk hortikultura dari Asia Tenggara, tetapi juga membuka peluang perluasan pasar ke berbagai wilayah strategis di Tiongkok,” ungkap Budi.

Pelabuhan Qinzhou merupakan gerbang internasional Koridor Baru Darat–Laut Barat yang pada 2025 mengoperasikan 44 rute pelayaran ke negara-negara ASEAN, termasuk menghubungkan sentra-sentra produksi buah di Asia Tenggara. Pada 2026, dengan dibukanya proyek infrastruktur Terusan Pinglu, pelabuhan ini diproyeksikan menjadi jalur laut paling strategis bagi wilayah barat daya Tiongkok dan mampu menurunkan biaya logistik produk pertanian dari Indonesia dan ASEAN hingga 30 persen.

Pada periode Januari–November 2025, total perdagangan Indonesia–Tiongkok tercatat sebesar USD 138,34 miliar atau meningkat 12,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 60,30 miliar. Sementara itu, pada 2024, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 136,59 miliar. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *