Dua keindahan tersembunyi hutan tropis: Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu, anggrek epifit yang hidup di batang pepohonan.(Ist)
JAKARTA, NP – Kekayaan hayati Papua kembali menorehkan prestasi ilmiah. Dua spesies anggrek baru berhasil diidentifikasi di Pulau Batanta, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Temuan ini diumumkan oleh tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar KSDA Papua Barat, dan sejumlah mitra internasional. Namun, di balik euforia ilmiah, muncul peringatan serius soal potensi eksploitasi liar di habitat aslinya.
Kedua spesies yang ditemukan adalah Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu, keduanya termasuk dalam keluarga anggrek epifit yang hidup menempel di batang pepohonan hutan tropis. Penemuan ini berasal dari kegiatan inventarisasi tumbuhan pada 2022 dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Telopea pada Agustus 2025.
“Penemuan ini menjadi penanda betapa pentingnya hutan-hutan Papua sebagai gudang sumber daya genetik dunia yang belum tergali seluruhnya,” ujar Destario Metusala, Peneliti Ahli Utama BRIN, dalam keterangannya, Selasa (14/10/2025).
Detil Morfologi dan Asal Usul Nama
Dendrobium siculiforme memiliki batang tegak setinggi 15 hingga 50 cm, dengan bunga berdiameter 7 cm berwarna krem kekuningan dan pola guratan cokelat keunguan. Nama siculiforme berasal dari bahasa Latin yang berarti “berbentuk belati”, mengacu pada bentuk unik bagian bibir bunganya.
Sementara itu, Bulbophyllum ewamiyiuu tampil lebih mungil, dengan tinggi hanya 8–12 cm dan bunga kecil berukuran 5–6 mm. Namun, warnanya mencolok: kuning dengan semburat merah marun. Nama ewamiyiuu diambil dari bahasa lokal Suku Batanta yang berarti “bergaris”, merujuk pada pola garis kecokelatan di bagian batang semunya.
Keduanya diyakini sebagai spesies endemik Raja Ampat, dengan sebaran alami sangat terbatas. Peneliti mengusulkan status konservasi Kritis (Critically Endangered) untuk Dendrobium siculiforme dan Kekurangan Data (Data Deficient) untuk Bulbophyllum ewamiyiuu.
Ancaman Perdagangan Ilegal
Meski baru diumumkan, indikasi perdagangan liar mulai terdeteksi. Bulbophyllum ewamiyiuu disebut telah beredar di kalangan pehobi anggrek hingga ke Pulau Jawa.
“Kemunculan spesies baru selalu menarik perhatian para kolektor. Ini bisa memicu pengambilan liar dari alam yang mengancam kelestariannya,” ungkap Destario.
Ia menegaskan perlunya sinergi antara peneliti, pemerintah, komunitas pehobi, dan masyarakat adat untuk menjaga keberlangsungan spesies ini. “Riset tak bisa berdiri sendiri. Konservasi hanya akan berhasil jika dilakukan bersama,” katanya.
Dorongan Percepatan Riset dan Perlindungan Hutan Papua
Selain menyoroti potensi eksploitasi, penemuan ini juga menjadi momentum untuk mempercepat riset biodiversitas Indonesia, terutama di kawasan timur yang relatif belum tergarap optimal.
“Hutan Papua masih menyimpan banyak misteri. Temuan ini hanyalah puncak dari gunung es,” ujar Destario.
Ia mendorong pemerintah memperkuat riset hulu dan menetapkan kawasan Raja Ampat sebagai prioritas konservasi nasional. Hal ini dinilai penting mengingat laju deforestasi dan konversi lahan yang terus mengancam habitat-habitat alami di wilayah tersebut.(red)







Be First to Comment