Press "Enter" to skip to content

Pesamuhan Agung PHDI 2025: Menteri Agama Nilai Konsep Ekoteologi Sejalan dengan Ajaran Tri Hitna Karana

Social Media Share

Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) secara resmi dibuka Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Jumat (17/10/2025). Pesamuhan Agung PHDI 2025 berlangsung selama tiga hari dan akan ditutup pada Minggu, 19 Oktober 2025. (Foto: PHDI)

JAKARTA, NP- Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) resmi dibuka Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Jumat (17/10/2025).

Musyawarah nasional umat Hindu di seluruh Indonesia ini berlangsung tiga hari dan akan ditutup pada Minggu, 19 Oktober 2025.

Hadir dalam pertemuan tersebut Menteri Agama Nasaruddin Umar dan jajaran, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, Ketua Sabha Pandita PHDI Pusat Ida Pedanda Nabe Gde Bang Buruan Manuaba, Ketua Sabha Walaka, Ketua PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, dan Ketua Panitia Ir. Wayan Gigin Samudera.

Hadir juga Ketua Majelis Semua Agama di Indonesia, Stafsus Kasad, serta seluruh Ketua Organisasi Hindu Nasional, Ketua PHDI se-provinsi, dan para tamu undangan lainnya.

Tahun ini, Pesamuhan Agung PHDI 2025 mengusung tema “Meneguhkan Dharma Agama dan Dharma Negara untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang Adil, Beradab, dan Inklusif.”

Diharapkan dari pertemuan ini dapat merumuskan arah kebijakan dan rekomendasi strategis keumatan Hindu di masa depan.

Dalam arahannya, Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penerapan konsep Ekoteologi dalam kehidupan beragama umat Hindu, dengan berlandaskan ajaran Tri Hita Karana.

“Ekoteologi adalah konsep yang sangat relevan saat ini. Di Kementerian Agama, kami mengembangkannya melalui Tri Hita Karana hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), dengan sesama (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan),” jelas Nasaruddin Umar.

Gagasan Menag Nasaruddin Umar mengenai ekoteologi yaitu menekankan bahwa ibadah tidak hanya berbentuk ritual formal, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan nyata dalam kehidupan keseharian yang memberi dampak kemanfaatan bagi orang banyak dan alam sekitar. Oleh karena itu, dengan menjaga lingkungan hidup dipandang sebagai wujud nyata pengabdian kepada Tuhan.

Menurutnya, krisis ekologi yang terjadi di dunia merupakan akibat dari pudarnya kesakralan alam.

“Dunia kini memandang alam hanya sebagai objek. Padahal, hilangnya kesakralan menyebabkan kerusakan pada kemanusiaan itu sendiri. Untuk memperbaiki dunia, yang pertama harus diperbaiki adalah cara berpikir manusia,” urai Menag Nasatuddin Umar.

Oleh karena itu, Menag Nasaruddin Umar mengingatkan ajaran Tat Twam Asi, yang bermakna “Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku” adalah fondasi spiritual yang harus dihidupkan kembali dalam kehidupan berbangsa.

“Ketika kita memberi lebih kepada sesama, sesungguhnya kita memberi kepada diri kita sendiri. Mari kita kembalikan kesakralan alam dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan,” ujarnya menutup sambutan.

Pesamuhan Agung Hindu 2025 diselenggarakan di Jakarta, dan menjadi momentum reflektif serta strategis bagi umat Hindu di seluruh Indonesia untuk memperkuat kolaborasi lintas lembaga keagamaan menuju Indonesia yang inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban.(har)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *