Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka di kawasan Candi Mendut dimanfaatkan sebagai Kantor Sekretariat dan Registrasi Asadha Mahapuja 2570 BE/2026. (Foto: Ist)
MAGELANG, NP – Ribuan umat Buddha memadati halaman Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (26/7/2026). Pemandangan yang tak lazim itu justru menjadi potret nyata kerukunan antarumat beragama dalam rangkaian Perayaan Asadha Mahapuja 2570 BE/2026.
Gereja yang berada di kawasan Candi Mendut tersebut difungsikan sebagai Kantor Sekretariat dan Registrasi Asadha Mahapuja. Dari lokasi itu, panitia melayani registrasi peserta kirab, pendataan, hingga penyediaan informasi teknis untuk mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Kerja sama antara panitia Asadha Mahapuja dan pengelola Gereja Katolik Bunda Maria Sapta Duka bukan hal baru. Kolaborasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu menjadi cerminan nyata semangat saling menghormati dan mendukung dalam penyelenggaraan hari besar keagamaan.
Koordinator Sekretariat, Bhikkhu Abhiseno, mengatakan penggunaan halaman gereja sebagai pusat registrasi merupakan tradisi yang terus dipertahankan karena dilandasi semangat kebersamaan.
“Ini bukan tahun pertama kami menggunakan halaman gereja sebagai tempat registrasi. Hampir setiap tahun kami bekerja sama, dan hal ini menunjukkan semangat saling mendukung, khususnya dalam penyelenggaraan hari besar agama Buddha. Inilah wujud kerukunan antarumat beragama yang patut kita jaga dan junjung tinggi bersama,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Minggu (26/7/2026).
Perayaan Asadha Mahapuja tahun ini diawali dengan Kirab Asadha yang diikuti ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia. Tepat sekitar pukul 13.00 WIB, peserta memulai perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur ajaran Buddha.
Di balik kemeriahan kirab tersebut, halaman sebuah gereja yang dipenuhi umat Buddha menghadirkan pesan yang lebih kuat daripada sekadar prosesi keagamaan. Ruang ibadah yang dibuka untuk mendukung perayaan agama lain menjadi simbol bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari. Harmoni lintas iman yang terawat di Mendut kembali menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang menyatukan bangsa. (red)







Be First to Comment