Pemasangan sensor ARG dan AWS di Gunung Semeru, Jawa Timur, September 2025.(Ist)
LUMAJANG, NP — Potensi bencana lahar dingin di wilayah Gunung Semeru, Jawa Timur, meningkat seiring masuknya musim hujan. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat sistem peringatan dini (early warning system/EWS) dengan memasang sejumlah alat pemantau cuaca dan curah hujan di kawasan rawan terdampak.
Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang saat ini berada pada tingkat aktivitas Level II (Waspada). Sepanjang tahun 2025, gunung berketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini telah mengalami 2.449 kali erupsi, menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dampak erupsi tidak hanya berupa guguran awan panas dan semburan abu vulkanik, tetapi juga berpotensi menimbulkan bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin. Tiga daerah aliran sungai (DAS) yang memiliki risiko tinggi terdampak yaitu Sungai Besuk Kobokan, Besuk Lanang, dan Sungai Regoyo, seluruhnya berada di wilayah Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Pada April 2024, banjir lahar dingin di wilayah tersebut menyebabkan kerusakan signifikan. Luapan DAS Regoyo, Mujur, dan Glidik mengakibatkan sembilan kecamatan terdampak, empat rumah warga rusak, satu sepeda motor hanyut, 24 DAM irigasi rusak, serta 17 jembatan rusak berat—delapan di antaranya putus total. Dua warga di Kecamatan Candipuro meninggal dunia akibat terbawa arus lahar.
Penguatan Sistem Pemantauan
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, BNPB memasang lima unit sensor pendukung sistem peringatan dini di sekitar Gunung Semeru. Alat tersebut terdiri atas empat unit Automatic Rain Gauge (ARG) atau alat penakar hujan otomatis, dan satu unit Automatic Weather Station (AWS) atau stasiun cuaca otomatis.
“Penguatan perangkat peringatan dini ini didukung oleh Pemerintah Swiss melalui Swiss Agency for Development and Cooperation (SDC),” ujar Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan tertulis, Rabu (17/9/2025).
Sensor ARG dipasang di Pos Pengamat Gunungapi (PGA) Gunung Sawur, Stasiun Ranu Kumbolo, Stasiun Besuk Bang, dan Stasiun Tawon Songo. Adapun AWS dipasang di Stasiun Argosuko. Semua perangkat dilengkapi panel surya dan sistem teletransmisi untuk memantau secara real-time.
Pemasangan sensor ini merupakan kolaborasi antara BNPB, PVMBG, BMKG, dan BPBD Kabupaten Lumajang. Sistem pemantauan ini akan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di empat desa prioritas: Jugosari, Gondoruso, Pasrujambe, dan Kertosari.
Dengan sistem yang lebih terintegrasi dan berbasis data, diharapkan upaya mitigasi risiko bencana lahar hujan dapat dilakukan secara lebih efektif dan mengurangi potensi korban jiwa serta kerugian di wilayah rawan bencana.(red)







Be First to Comment