JAKARTA, NP– Kebutuhan para sahabat tuli memperoleh pelajaran dan pemahaman al Qur’an secara baik dan benar harus didukung oleh profesionalitas dan kompetensi dari para guru yang mengajarnya.
Dengan demikian, keterbatasan dan ketidakmampuan para sahabat tuli dalam menerima pelajaran dan pemahaman al Qur’an diharapkan tidak menjadi kendala berarti bagi para sahabat tuli.
Untuk itu, Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Indonesia (FKMTHI) bekerja sama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat.
Opening Ceremony Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat FKMTHI dan LPMQ Kemenag RI digelar pada Sabtu (18/1/2025).

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Bidang Keislaman PP FKMTHI dan diikuti lebih dari seratus orang peserta dari seluruh wilayah se-Indonesia.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan guru-guru al-Qur’an resmi bersertifikat yang akan menjadi pengajar bagi para sahabat tuli di seluruh Indonesia. Para guru ini diharapkan dapat membantu tujuan dari LPMQ untuk mengajarkan dan menyebarkan al-Qur’an kepada seluruh elemen masyarakat.
Hal menarik pada saat Opening Ceremony ini adalah ketika sesi pembacaan al-Qur’an, terdapat dua orang yang bertugas untuk membaca al-Qur’an dan salah satunya membaca al-Qur’an dengan isyarat tangan.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala LPMQ Kemenag RI, H. Abdul Aziz Sidqi, M.A. yang sekaligus mengenalkan mushaf isyarat dan sejarah terbentuknya mushaf isyarat tersebut.
Dalam penyampaiannya, Abdul Aziz menyampaikan tiga landasan dibalik penyusunan mushaf isyarat, yaitu landasan filosofis, landasan sosiologis dan landasan yuridis.
“Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dengan segala keragamannya. Para sahabat tuli adalah salah satu dari keragaman tersebut. Oleh karena itu, sebagai manusia, mereka juga berhak untuk mendapatkan akses terhadap layanan keagamaan,” tegas Abdul Azis.
Sedangkan pemateri dalam pelatihan ini, Hj. Ida Zulfiyah, S.Th.I., M.Ag. menjelaskan kondisi sahabat-sahabat tuli dan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan mereka.
Ida juga memaparkan bahwa stigma masyarakat tentang kondisi orang tuli yang dianggap sebagai kutukan harus dihilangkan.
“Jika orang yang dianggap normal berada di suatu komunitas sahabat tuli dan mereka semuanya menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi, maka orang yang bisa mendengar tersebut tidak akan bisa mengerti apa-apa,” ucap Ida.
Dengan berakhirnya opening ceremony ini, para peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan pelatihan selanjutnya yang diadakan setiap hari Senin dan Kamis melalui platform zoom dengan seksama.(har)







Be First to Comment