Hingga Agustus 2025, nilai ekspor produk peternakan Indonesia ke Timor Leste mencapai US$15,8 juta, dengan total volume sebesar 9.153 ton,(Ist)
JAKARTA, NP — Produk peternakan Indonesia terus menunjukkan daya saing di pasar internasional. Negara tetangga, Timor Leste, menjadi salah satu mitra strategis yang membuka peluang ekspor lebih luas. Dalam upaya memperkuat kerja sama tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menerima kunjungan delegasi Kementerian Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (MALFF) Timor Leste dalam rangka pelaksanaan *Import Risk Analysis* (IRA), 13–18 Oktober 2025.
Kegiatan IRA dilakukan terhadap empat unit usaha peternakan di tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menyebut kegiatan ini merupakan bentuk konkret perluasan pasar ekspor produk peternakan nasional.
“Kegiatan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat akses pasar dan memperluas ekspor produk peternakan Indonesia yang semakin diminati di Timor Leste,” ujar Makmun dalam keterangan resmi, Senin (13/10).
Dijelaskan Makmun, hingga Agustus 2025, nilai ekspor produk peternakan ke Timor Leste tercatat sebesar US$15,8 juta dengan volume mencapai 9.153 ton. Menurutnya, pencapaian ini mencerminkan standar mutu produk peternakan Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.
“Hal ini menunjukkan produk peternakan kita telah memenuhi standar dan selera pasar di Timor Leste,” imbuhnya.
Ia mengingatkan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam menangkap peluang ekspor, terutama dalam memastikan keberadaan pembeli sebagai syarat utama bagi negara tujuan.
“Kepastian adanya buyer menjadi pertimbangan utama bagi Timor Leste dalam memberikan izin ekspor,” jelasnya.
Dari pihak Timor Leste, Chief of Animal Quarantine Department MALFF, Mario Francisco Amaral, menyatakan bahwa pelaksanaan IRA bertujuan memastikan keamanan serta kelayakan produk yang akan masuk ke negaranya.
“IRA dilakukan untuk memastikan keamanan dan kualitas produk sebelum impor dilakukan. Kami melihat Indonesia memiliki potensi besar dan kesiapan yang baik dalam memenuhi persyaratan tersebut,” ujarnya.
Mario juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah proaktif Kementan yang telah menyiapkan 16 perusahaan eksportir potensial. Empat di antaranya telah memiliki pembeli dan siap mengikuti proses audit.
“Adanya buyer menjadi bukti keseriusan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pasar kami,” tandasnya.
Lebih jauh, Makmun menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat daya saing dan diplomasi pangan nasional melalui sektor peternakan.
“Kementerian Pertanian berkomitmen mendorong pelaku usaha untuk aktif mencari pasar baru dan memperkuat daya saing produk peternakan nasional. Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperluas akses ekspor dan memperkuat diplomasi pangan Indonesia di kawasan regional,” pungkasnya.(red)







Be First to Comment