Press "Enter" to skip to content

Bela Negara sebagai Orkestrasi Kekuatan Nasional

Social Media Share

Oleh: Danang Rimbawa, H.A

Pusat Studi Rekayasa Pertahanan Siber FTTP Unhan RI

KETIKA berbicara tentang bela negara, perhatian kita kerap tertuju pada pertahanan dan militer. Pandangan itu dapat dipahami. Dalam menghadapi perang atau ancaman bersenjata, kekuatan militer memang berada di garis terdepan. Namun, tantangan terhadap ketahanan sebuah negara dewasa ini jauh lebih beragam daripada ancaman yang datang melalui kekuatan senjata.

Ketahanan nasional juga diuji ketika pasokan pangan terganggu, pelayanan kesehatan menghadapi tekanan, sistem digital diserang, bencana melumpuhkan daerah, atau masyarakat terbelah oleh informasi yang menyesatkan. Ancaman semacam itu tidak selalu membutuhkan jawaban militer. Dalam banyak keadaan, kekuatan pertama justru berada pada kementerian, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, petani, akademisi, pelaku usaha, ahli teknologi, dan masyarakat.

Di sinilah bela negara perlu dipahami secara lebih luas.

Bela negara bukan berarti membawa seluruh warga ke dalam ranah militer. Sebaliknya, bela negara memberi ruang kepada setiap warga negara dan institusi untuk menjaga negara melalui bidang yang dikuasainya. Gagasan tersebut sejalan dengan sistem pertahanan Indonesia yang bersifat semesta dan kerangka hukum dalam UU No. 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara.

Pesannya sederhana: kekuatan negara tidak berdiri pada satu institusi.

Karena itu, persoalan pentingnya bukan sekadar bagaimana membangun kekuatan nasional, tetapi bagaimana mengorkestrasikannya.

Orkestrasi tidak berarti mencampuradukkan fungsi setiap lembaga. Justru sebaliknya. Setiap unsur harus tetap bekerja sesuai kewenangan, kompetensi, dan tanggung jawabnya. TNI menjalankan fungsi pertahanan sesuai mandatnya. Kementerian dan lembaga melaksanakan tugas sektoral. Pemerintah daerah memastikan pelayanan dan ketahanan masyarakat di wilayahnya. Dunia pendidikan membangun pengetahuan dan karakter. Dunia usaha menjaga aktivitas ekonomi dan rantai pasok. Masyarakat menjadi kekuatan sosial yang menentukan daya tahan bangsa.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa seluruh pekerjaan tersebut dapat bertemu pada satu kepentingan: menjaga keberlangsungan negara.

Seorang dokter yang memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan sedang menjaga salah satu sendi ketahanan nasional. Petani yang mempertahankan produksi pangan melakukan hal yang sama. Guru yang membangun kemampuan berpikir generasi muda ikut memperkuat bangsa. Ahli teknologi yang menjaga sistem digital, peneliti yang menghasilkan inovasi, aparatur yang memberikan pelayanan publik dengan baik, dan pemerintah daerah yang mampu menangani persoalan masyarakat juga mengisi ruang bela negara melalui profesinya masing-masing.

Dengan pemahaman seperti itu, Pembinaan Kesadaran Bela Negara tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial, slogan, atau pelatihan sesaat. Lima nilai dasar bela negara—cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila, rela berkorban, dan memiliki kemampuan awal bela negara—baru memperoleh makna ketika diterjemahkan ke dalam tindakan.

Karena itu, ukuran keberhasilannya perlu diperluas.

Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak warga mengikuti kegiatan bela negara. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah setelahnya. Apakah aparatur semakin bertanggung jawab? Apakah masyarakat semakin mampu menghadapi disinformasi? Apakah institusi semakin siap menghadapi krisis? Apakah koordinasi antarsektor semakin efektif ketika menghadapi ancaman yang tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga?

Di sinilah Kementerian Pertahanan memiliki posisi strategis. Perannya bukan mengambil alih tugas kementerian, lembaga, atau pemerintah daerah, melainkan membantu mempertemukan dan menyelaraskan potensi yang tersebar di berbagai sektor. Pembinaan kesadaran bela negara dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun kesadaran bersama bahwa setiap sektor memiliki kontribusi terhadap ketahanan nasional.

Setiap sektor, pada dasarnya, memiliki bentuk bela negaranya sendiri.

Sektor kesehatan membangun ketahanan kesehatan. Sektor pertanian menjaga ketersediaan pangan. Sektor teknologi menjaga ketahanan.***

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *