Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI, Prof. Supriatna (kiri), bertukar cindera mata dengan Presiden Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, China, Cai Junxiong, usai pertemuan di Kampus SPPB UI Salemba, Jakarta. (Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Panda boleh menjadi simbol konservasi China di mata dunia, tetapi Provinsi Hubei memiliki satwa langka lain yang kini menjadi perhatian serius: lumba-lumba air tawar endemik Sungai Yangtze yang berada di ambang kepunahan.
Satwa tersebut menjadi salah satu topik menarik dalam pertemuan delegasi Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences dengan pimpinan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia (UI) di Kampus SPPB UI Salemba, Jakarta, pekan lalu.
Direktur SPPB UI, Prof. Supriatna, sempat mempertanyakan bagaimana China menjaga habitat panda agar tetap alami dan luas sehingga satwa ikonik tersebut dapat bertahan sebagai aset biodiversitas nasional. Namun, delegasi Hubei mengungkapkan bahwa perhatian konservasi di wilayah mereka justru tertuju pada lumba-lumba air tawar yang jumlahnya terus terancam.

“Kami tidak punya habitat panda, tetapi kami punya habitat lumba-lumba air tawar. Spesies ini hampir punah. Endemiknya berada di Sungai Yangtze, dan habitatnya hidup di Kota Yichang, Provinsi Hubei,” ujar Presiden Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, Cai Junxiong.
Menurut Cai, pemerintah Hubei telah membangun berbagai upaya konservasi untuk melindungi spesies tersebut sekaligus menjaga ekosistem Sungai Yangtze. Perlindungan satwa tidak hanya dilakukan melalui penyelamatan populasi, tetapi juga dengan menjaga kualitas lingkungan sungai dari ancaman pencemaran.
“Perlindungan spesies ini berjalan seiring dengan upaya menjaga kekayaan biodiversitas di beberapa wilayah Hubei,” katanya.
Cai menjelaskan, habitat utama lumba-lumba air tawar berada di kawasan Sungai Yangtze, salah satu sungai terpanjang di dunia yang melintasi sejumlah wilayah China. Kota Yichang menjadi salah satu kawasan penting karena berada di sekitar Bendungan Tiga Ngarai atau Three Gorges Dam, proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia yang selesai dibangun pada 2009.

“Sekitar 1.024 ekor lumba-lumba air tawar terdapat di sepanjang Sungai Yangtze. Di Kota Yichang juga terdapat rusa dan monyet bulu kuning. Spesies-spesies tersebut tetap lestari melalui pengelolaan habitat yang efektif,” ujar Cai.
Pertemuan antara SPPB UI dan delegasi Hubei berlangsung hampir dua jam dengan agenda utama membahas kerja sama lingkungan, termasuk pengendalian pencemaran industri di kawasan tropis dan pengembangan pembangunan rendah karbon.
Selain Prof. Supriatna, hadir Wakil Direktur SPPB UI Prof. Yon Machmudi, Jelang Ramadhan, S.IP., M.Si., Ph.D selaku special staff GSSD, serta peneliti Leonora F. Waromi. Delegasi Hubei dipimpin Cai Junxiong bersama Liu Yougang, Zhu Yan, Liao Qi, Yi Chuan, dan Chen Liming.
“Kunjungan kami ke SPPB UI bertujuan mendiskusikan pencegahan dan pengendalian pencemaran industri di wilayah tropis serta berbagai isu lingkungan lainnya. Kami juga sepakat untuk membuat MoU dengan Universitas Indonesia,” kata Cai.

Selain konservasi satwa, Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences juga fokus pada pengendalian polutan baru, pengelolaan limbah padat, bahan kimia, serta penelitian kebijakan pembangunan hijau dan rendah karbon, termasuk pada sektor industri logam non-ferrous daur ulang.
Di bidang pendidikan, Cai menyebut Hubei menjadi salah satu pusat akademik besar di China dengan lebih dari seratus universitas. Salah satunya Wuhan University yang memiliki lebih dari satu juta mahasiswa dan program studi ilmu lingkungan yang telah berkembang selama lima dekade.
“Program studi ilmu lingkungan di Wuhan University sudah berusia 50 tahun. Program ini berada di bawah Departemen Ekologi dan Lingkungan yang setingkat kementerian lingkungan hidup dan mengelola 21 pusat riset lingkungan,” ujarnya. (Liu)







Be First to Comment