Press "Enter" to skip to content

Tekan Angka Kecelakaan, KAI dan Stakeholder Fokus Tangani Perlintasan Sebidang

Social Media Share

Suasana Kick Off Meeting Penanganan Perlintasan Sebidang oleh KAI bersama Danantara, BP BUMN, DJKA, dan KNKT di Jakarta, Selasa (5/5/2026), membahas percepatan peningkatan keselamatan di titik rawan kecelakaan.(Foto: Ist)

JAKARTA, NP — PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Danantara, BP BUMN, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggelar Kick Off Meeting Penanganan Perlintasan Sebidang di Jakarta Railways Center, Selasa (5/5/2026), untuk mempercepat peningkatan keselamatan di titik-titik rawan kecelakaan.

Forum ini menjadi langkah penyelarasan lintas sektor dalam upaya penanganan perlintasan sebidang yang masih memiliki tingkat risiko tinggi di berbagai daerah.

Saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia, dengan 1.810 titik menjadi prioritas penanganan. Dari jumlah tersebut, 172 perlintasan direncanakan untuk ditutup karena keterbatasan kondisi, sementara 1.638 lainnya akan ditingkatkan aspek keselamatannya secara bertahap.

Sepanjang 2023–2026, tercatat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan sekitar 80 persen kejadian terjadi di lokasi tanpa penjagaan. Kondisi ini mendorong percepatan langkah penanganan yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam sistem transportasi nasional.

“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia. Kereta tidak dapat berhenti mendadak, sementara lalu lintas jalan sangat dinamis. Tanpa pengelolaan yang baik, risikonya sangat tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, penanganan perlintasan sebidang membutuhkan kolaborasi menyeluruh, mulai dari pemerintah pusat, daerah, operator, hingga masyarakat. Langkah yang ditempuh mencakup penutupan titik berisiko tinggi, peningkatan fasilitas keselamatan, serta pembangunan perlintasan tidak sebidang secara bertahap.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut pertemuan ini sebagai momentum percepatan aksi nyata di lapangan sekaligus refleksi atas insiden yang terjadi sebelumnya.

“Kami menyampaikan duka cita atas kejadian 27 April 2026. Terdapat 16 korban meninggal dunia dan 17 pelanggan masih dalam perawatan dengan kondisi yang terus membaik. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” kata Bobby.

Ia menegaskan, KAI akan fokus pada percepatan penutupan 172 perlintasan yang telah teridentifikasi berisiko tinggi, serta penguatan penjagaan di ratusan titik lainnya.

“Pengalaman menunjukkan bahwa penjagaan dapat menekan risiko kecelakaan secara signifikan. Karena itu, penguatan pengawasan dan pemanfaatan teknologi harus berjalan bersamaan,” ujarnya.

KAI juga akan memperkuat penerapan teknologi keselamatan, termasuk sistem berbasis komunikasi, GPS, serta pengembangan sistem otomatisasi untuk meningkatkan respons terhadap potensi risiko operasional.

Melalui kick off meeting ini, seluruh pihak menyepakati penguatan kolaborasi dalam percepatan penutupan titik rawan, peningkatan fasilitas keselamatan, serta penguatan edukasi kepada masyarakat.

“Keselamatan adalah prioritas utama. KAI bersama seluruh pemangku kepentingan akan menjalankan langkah ini secara disiplin dan berkelanjutan,” tutup Bobby.(red)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *