Professional trainer lifting dan rigging, Syamsul Bachri, di sela kegiatan pelatihan di Sapphire Sky Hotel, BSD, Tangerang Selatan. (Foto: Ist)
TANGSEL, NP – Kebutuhan jasa pelatihan teknis lifting dan rigging di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung fluktuatif. Peserta pelatihan pun tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari negara tetangga seperti Filipina hingga sejumlah negara di Afrika.
“Frekuensi kegiatan pelatihan naik turun karena kebutuhannya tidak statis. Namun, peserta pelatihan sempat booming saat pandemi Covid-19. Kami menggelar 34 batch selama periode tersebut, hingga harus menambah dua trainer,” ujar profesional trainer lifting dan rigging, Syamsul Bachri, kepada Redaksi di BSD, Tangerang Selatan, Kamis (19/3/2026).
Tenaga kerja profesional di bidang lifting dan rigging sangat penting, terutama untuk proyek-proyek besar di sektor minyak dan gas (migas). Tanpa perencanaan, keterampilan, dan prosedur yang tepat, pekerjaan ini berisiko tinggi menimbulkan kecelakaan kerja.

Lifting plan dan rigging plan menjadi dua komponen utama dalam kegiatan pengangkatan dan pemindahan beban berat. “Beberapa bulan terakhir, peserta banyak berasal dari Afrika. Jumlahnya sempat mencapai 80 orang dengan sistem privat atau pembiayaan mandiri. Mereka berkomitmen mengikuti pelatihan karena program kami bersertifikat. Setelah pelatihan, mereka berharap memperoleh gaji rata-rata 6.000 dolar AS, sementara biaya pelatihan hanya sekitar Rp11 juta untuk tiga hari,” kata Syamsul.
Dalam pelatihan lifting, peserta mendapatkan materi panduan yang mencakup prosedur kerja, penilaian risiko, pemilihan peralatan, hingga langkah-langkah keselamatan yang wajib dipatuhi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi potensi kecelakaan, mencegah kerusakan aset, serta memastikan proses pengangkatan berjalan sesuai standar keselamatan kerja.
Adapun rigging berkaitan erat dengan lifting, khususnya dalam pengaturan penggunaan peralatan seperti sling, shackle, dan alat pengait lainnya. Dokumen rigging memastikan teknik pengikatan beban dilakukan secara tepat agar proses pengangkatan berlangsung aman dan terkendali.
“Peran lifting engineer sangat krusial, mulai dari mendesain, menghitung beban, hingga menentukan metode pengangkatan, semuanya berbasis engineering calculation. Misalnya, pengangkatan dua girder harus dilakukan dengan perhitungan matang. Jika tidak, crane bisa terbalik. Profesi ini mendekati civil engineer, tetapi belum banyak diajarkan secara spesifik di perguruan tinggi, seperti simulasi crane atau pengangkatan beban berat,” jelasnya.

Saat ini, baru terdapat tiga profesional trainer bersertifikat lifting dan rigging di Indonesia. Perusahaan yang mengirimkan peserta umumnya menggunakan standar Inggris (British Standard), sementara sebagian besar perusahaan di Indonesia masih mengacu pada standar Amerika.
Dalam setahun, rata-rata terdapat 120 peserta pelatihan yang berasal dari kebutuhan BP Tangguh. Meski industri sejenis cukup banyak, tidak semuanya menggunakan standar Inggris. BP Tangguh sendiri hanya merekrut tenaga kerja yang telah memiliki sertifikasi dari Petrotekno.
Bahkan, sejumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Afrika diwajibkan memiliki sertifikasi tersebut. “Memang ada ratusan lembaga pelatihan lifting, tetapi hanya kami yang menerbitkan sertifikat dengan standar global karena berafiliasi dengan OPITO (Offshore Petroleum Industry Training Organization),” kata Syamsul.(Liu)







Be First to Comment