Mentan Andi Amran Sulaiman.(Foto: Ist)
JAKARTA, NP – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta potensi fenomena El Nino pada 2026. Strategi tersebut meliputi penguatan produksi, peningkatan cadangan beras, pompanisasi, hingga pengembangan varietas adaptif.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir karena produksi pangan nasional saat ini berada di atas kebutuhan konsumsi.
“Produksi beras kita berkisar 2,6–5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya produksi kita berada di atas konsumsi. Jadi pangan aman, masyarakat tidak perlu risau,” ujar Mentan Amran dalam rilis Sabtu (7/3/2026).
Ia menambahkan, meski dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi perdagangan dan rantai pasok pangan dunia, kondisi produksi dan cadangan nasional cukup kuat untuk menghadapi berbagai potensi gejolak.
“Pangan kita siap menghadapi kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insya Allah tetap aman,” tegasnya.
Saat ini, total ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 27,99 juta ton, terdiri dari stok Perum BULOG sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen 11,73 juta ton. Dengan jumlah tersebut, cadangan beras nasional diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan hingga hampir satu tahun ke depan.
Produksi beras juga menunjukkan tren positif. Pada Januari–Mei 2026, produksi mencapai sekitar 16,92 juta ton. Stok beras pemerintah yang dikelola Perum BULOG diperkirakan terus meningkat hingga menembus 5 juta ton dalam dua bulan ke depan seiring masuknya hasil panen di berbagai daerah.
Dalam menghadapi perubahan iklim, Indonesia telah mengembangkan varietas unggul spesifik lokasi yang adaptif terhadap kondisi lahan namun tetap produktif tinggi. Selain varietas untuk lahan kering, terdapat juga varietas padi Inpara untuk lahan rawa mineral sekitar 1 juta hektare, serta Biosalin untuk lahan pesisir yang terdampak intrusi air laut.
Pemerintah juga mendorong pengembangan padi gogo untuk lahan kering agar tetap produktif dengan kebutuhan air minimal. Program pompanisasi pun diperluas dari 1,2 juta hektare menjadi tambahan 1 juta hektare pada tahun ini.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi agar produksi tetap terjaga,” kata Mentan Amran.
Selain beras, produksi pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus. Ketersediaan pupuk tercatat aman dengan harga turun sekitar 20 persen, mendorong petani meningkatkan produksi.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika global maupun tantangan iklim. (red)







Be First to Comment