Press "Enter" to skip to content

Banjir dan Longsor Sumatera, Korban Meninggal Total 303 Jiwa

Social Media Share

Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan data korban bencana secara langsung.(Foto: Ist)

SILANGIT, NP – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama seluruh unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan penanganan darurat bencana di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Operasi yang dipimpin langsung Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto ini difokuskan pada pencarian korban, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolir, serta percepatan distribusi logistik melalui darat maupun udara.

Di Sumatera Utara, pada hari ketiga tanggap darurat, tercatat 166 korban meninggal dan 143 orang masih hilang, dengan dampak terbesar di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

“Sumatera Utara kini mencatat 166 jiwa meninggal dunia, bertambah 60 korban dalam satu hari berkat operasi SAR gabungan Basarnas. Masih ada 103 jiwa yang hilang,” ujar Suharyanto, dalam jumpa pers, Sabtu (29/11/2025).

Ribuan warga terpaksa mengungsi karena permukiman rusak dan akses putus. Jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung mengalami putus total akibat longsor, beberapa jembatan seperti Jembatan Pandan juga tidak dapat dilalui. Sejumlah desa hanya bisa dijangkau menggunakan alat berat atau transportasi udara.

BNPB menurunkan lima helikopter bantuan, termasuk Heli TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, serta helikopter swasta dan pesawat Cessna Caravan, untuk distribusi logistik. Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, LCR, tenda, dan bahan pangan telah diterima dan mulai didistribusikan.

Di Aceh, hari kedua tanggap darurat mencatat 47 korban meninggal, 51 hilang, dan 8 luka-luka, dengan 48.887 kepala keluarga mengungsi. Kerusakan jembatan dan jalan nasional membuat beberapa daerah, seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, sulit diakses darat. BNPB mengaktifkan jaringan satelit Starlink untuk komunikasi darurat, sementara logistik dikirim melalui udara.

Di Sumatera Barat, dua hari setelah status tanggap darurat, tercatat 90 korban meninggal, 85 hilang, dan 10 luka-luka, dengan 11.820 kepala keluarga mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Jalur provinsi dan nasional putus akibat longsor dan kerusakan jembatan. BNPB menempatkan 24 personel untuk percepatan penanganan, dan bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, tenda, LCR, serta ribuan makanan siap saji telah dikirim ke Bandara Minangkabau.

BNPB menegaskan seluruh upaya penanganan darurat terus dipercepat melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan relawan. Prioritas utama operasi bencana di tiga provinsi adalah pembukaan akses, pendataan korban dan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.(red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *