Dokumentasi penyemaian NaCl di langit Jawa Timur dalam operasi modifikasi cuaca pada Minggu (14/9).(Ist)
JAKARTA, NP — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa. Langkah ini diambil menyusul bencana banjir besar yang melanda Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal September, yang menyebabkan 23 orang meninggal, 8 hilang, serta lebih dari 11.000 jiwa terdampak.
Operasi ini dimulai sejak akhir pekan lalu, setelah Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak banjir di Kota Denpasar, Bali, Rabu (10/9/2025). Dalam keterangannya, Suharyanto menyatakan bahwa fenomena atmosfer seperti gelombang Rossby Ekuator, Kelvin, dan Madden Julian Oscillation (MJO) kini telah bergeser ke arah barat Indonesia, khususnya ke wilayah Jawa Timur hingga Jawa Barat.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BMKG. Curah hujan tinggi akibat gelombang Rossby dan Kelvin sudah tidak di area Bali, namun bergeser ke arah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Saat ini kami juga tengah berkoordinasi dengan kepala daerah untuk kesiapsiagaan dan pelaksanaan OMC,” ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis, Senin (15/9/2025).
OMC dilakukan dengan menyemai bahan seperti natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) ke lapisan awan dengan tujuan mengalihkan atau mengendalikan lokasi turunnya hujan, agar tidak terjadi di kawasan padat penduduk.
### Operasi di Jawa Timur dan Jawa Barat
Di Jawa Timur, OMC telah dimulai sejak Sabtu (13/9) menggunakan satu unit pesawat Cessna Caravan PK-DPI. Operasi berlangsung dari Pangkalan Udara TNI AL Juanda, dengan cakupan wilayah meliputi Kabupaten Lamongan, Bojonegoro, Tuban, serta perairan selatan dan timur Banyuwangi. Total bahan semai yang digunakan mencapai 800 kilogram NaCl dan 1.600 kilogram CaO.
Sementara itu, di Jawa Barat, operasi dimulai pada Minggu (14/9) dari Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. BNPB mengerahkan pesawat Cessna Caravan PK-YNA dan melaksanakan dua sorti penyemaian bahan di atas wilayah Pandeglang (Banten) dan Bogor. Sebanyak 800 kg NaCl dan 800 kg CaO disemai dalam operasi tersebut.
Berdasarkan data BMKG, intervensi OMC di wilayah Jawa Barat pada hari itu menunjukkan penurunan curah hujan sebesar 31 persen di kawasan Jabodetabek, jika dibandingkan dengan prediksi curah hujan yang terekam melalui radar BMKG hingga pukul 19.00 WIB.
Peralihan Musim dan Peringatan Dini
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan lebih awal dari biasanya. Fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan petir mulai dirasakan sejak akhir Agustus hingga September, seiring peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan.
Sifat hujan pada musim 2025/2026 secara umum diprediksi berada pada kategori normal. Namun, beberapa wilayah seperti Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, Sulawesi, Maluku, dan Papua diperkirakan mengalami musim hujan dengan intensitas di atas normal.
BMKG juga memprakirakan hujan lebat terjadi di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta pada 12–14 September, serta di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 15–18 September 2025.
Imbauan untuk Mitigasi
Mengantisipasi risiko banjir yang bisa terjadi akibat curah hujan tinggi, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satu upaya penting adalah menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membersihkan saluran drainase utama dan sekunder serta melakukan normalisasi sungai yang telah mengalami pendangkalan.
“Mitigasi jangka panjang sangat diperlukan. Jangan menunggu banjir baru bertindak. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha penting untuk memperkuat ketangguhan menghadapi bencana,” kata Suharyanto.(red)







Be First to Comment