Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI oleh Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Nono Sampono bersama Angkatan Muda Efrat (AME) Jemaat GPM Nazareth, Kecamatan Sirimau, Jumat, 7 Februari 2026, bertempat di Kediaman Keluarga Wenno, Kelurahan Amantelu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. (Foto: DPD RI)
AMBON, NP- Angkatan Muda Efrat (AME) Jemaat GPM Nazareth, Kecamatan Sirimau, mengikuti kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Jumat, 7 Februari 2026 sore, bertempat di Kediaman Keluarga Wenno, Kelurahan Amantelu, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.
Acara ini menjadi kesempatan bagi generasi muda gereja untuk memahami peran strategis mereka dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta merespons tantangan sosial dan budaya yang terus berkembang di masyarakat.
Selain itu, kegiatan ini menegaskan bahwa penguatan wawasan kebangsaan tidak hanya tanggung jawab lembaga negara, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari komunitas lokal.
Generasi muda di lingkungan keagamaan dipandang sebagai motor penggerak perubahan positif, yang mampu menanamkan nilai toleransi, membangun solidaritas, dan memelihara keharmonisan sosial di tingkat masyarakat.
Hadir sebagai narasumber, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Nono Sampono menyoroti adanya krisis nilai yang semakin terasa di tengah masyarakat. Menurutnya, tantangan bangsa tidak lagi semata bersifat struktural, tetapi juga menyentuh aspek etika sosial, karakter, dan solidaritas kebangsaan.
“Ketika nilai kebersamaan melemah, bangsa ini menjadi rentan. Angkatan muda harus hadir sebagai penyeimbang, bukan ikut larut dalam arus perpecahan,” ujar Nono Sampono dalam pemaparannya.
Ia menegaskan bahwa generasi muda, termasuk pemuda gereja, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat, inklusif, dan beradab, terutama di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi di media sosial.
Menutup dialog kebangsaan tersebut, Nono Sampono menegaskan bahwa kekuatan bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya di tingkat akar rumput. Ia mengingatkan agar angkatan muda gereja tidak menjauh dari persoalan sosial di sekitarnya dan tidak bersikap apatis terhadap dinamika kebangsaan.
“Kalau angkatan muda memilih diam, ruang publik akan kehilangan energi positif dan teladan bagi masyarakat yang sangat dibutuhkan. Karena itu, pemuda gereja harus hadir, bersuara, dan menjadi penggerak perubahan yang membawa solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Nono Sampono juga mendorong Angkatan Muda Efrat untuk aktif membangun dialog lintas komunitas, menjaga toleransi, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab. Menurutnya, keberanian menjaga nilai persatuan di tingkat komunitas lokal akan memberi dampak besar bagi ketahanan nasional secara keseluruhan.(har)







Be First to Comment