Delegasi Pushidrosal turut hadir dalam suasana forum internasional NIOHC ke-25 yang berlangsung dinamis dan penuh semangat kolaborasi antarnegara.(Foto:Ist)
BANGLADESH, NP – Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) menghadiri Konferensi ke-25 North Indian Ocean Hydrographic Commission (NIOHC) yang digelar pada 11–13 Mei 2026 di Radisson Blu Chattogram Bay View, Bangladesh, sebagai bagian dari penguatan kerja sama hidrografi di kawasan Samudra Hindia.
Kehadiran Aspeta Danpushidrosal Laksamana Pertama TNI Edward Halomoan Sibuea, S.T., M.M., yang mewakili Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Dr. Budi Purwanto, S.T., M.M., bersama Pabanpam Kolonel Laut (P) Mochamad Andri Wahyu Sudrajat, S.T., CRMP., menegaskan posisi Indonesia dalam forum strategis tersebut.
Dalam kesempatan itu, Laksamana Pertama TNI Edward Halomoan Sibuea menegaskan bahwa partisipasi Indonesia merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat kolaborasi internasional di bidang hidrografi. “Indonesia berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam penguatan kerja sama hidrografi internasional, terutama dalam mendukung keselamatan pelayaran dan keamanan maritim kawasan,” ujarnya.
Konferensi tahunan ini dihadiri secara luring oleh 13 negara, yakni Australia, India, Maldives, Saudi Arabia, Somalia, United Kingdom, Thailand, Bangladesh, France, Indonesia, Seychelles, Sri Lanka, dan United States, serta lima negara lainnya secara daring. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai organisasi internasional dan mitra industri, termasuk International Hydrographic Organization, GEBCO, PRIMAR, Kongsberg Maritime, Teledyne Marine, CARIS, dan IC-ENC.
Acara pembukaan dipimpin oleh Chair NIOHC Rear Admiral Muhamad Musa, Direktur IHO John Nyberg, serta Kepala Staf Angkatan Laut Bangladesh Admiral M. Nazmul Hassan. Para pemimpin tersebut menekankan pentingnya sinergi regional dalam menghadapi tantangan navigasi di kawasan Samudra Hindia Utara yang merupakan jalur strategis perdagangan dunia dengan karakteristik oseanografi yang kompleks.
Dalam sambutannya, Direktur IHO John Nyberg menyampaikan bahwa transformasi standar hidrografi menjadi agenda prioritas global. “Implementasi S-100 merupakan langkah penting menuju ekosistem data maritim yang lebih modern, interoperabel, dan mendukung keselamatan navigasi,” katanya.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah percepatan transisi dari standar hidrografi digital S-57 menuju ekosistem S-100/S-101 yang dinilai mampu menghadirkan data maritim lebih kaya dan adaptif terhadap kebutuhan navigasi modern. International Hydrographic Organization melalui Rencana Strategis 2027–2032 menempatkan implementasi S-100 sebagai prioritas global, disertai penguatan kapasitas sumber daya manusia serta infrastruktur teknis di negara anggota.
Dalam forum tersebut, Indonesia melalui Pushidrosal juga menegaskan pentingnya keberlanjutan produk hidrografi, termasuk peta laut kertas yang masih dibutuhkan oleh sebagian pengguna navigasi. “Kami berpandangan bahwa peta laut kertas masih memiliki peran penting sebagai pelengkap sistem navigasi digital yang ada saat ini,” ujar delegasi Indonesia dalam sesi diskusi, yang kemudian mendapat dukungan dari Chair NIOHC.
Menanggapi hal tersebut, Chair NIOHC menyatakan bahwa pendekatan inklusif terhadap berbagai format peta laut tetap diperlukan dalam masa transisi sistem navigasi global. “Kebijakan regional harus mampu mengakomodasi kebutuhan pengguna yang beragam,” tegasnya.
Partisipasi Indonesia dalam konferensi ini juga mendapat apresiasi dari pihak tuan rumah Bangladesh, yang turut menyampaikan ucapan selamat atas bergabungnya KRI Canopus-936 ke jajaran Pushidrosal. Kapal survei modern tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam melaksanakan survei hidrografi, pemetaan laut, serta penyediaan data kelautan yang presisi. (red)







Be First to Comment