Petugas mengantar makanan bergizi menggunakan perahu menyusuri Sungai Musi menuju sekolah di Gandus, Palembang. (Foto Ist)
PALEMBANG, NP – Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebuah perahu kecil mulai bergerak menyusuri arus Sungai Musi di Palembang, Sumatera Selatan. Di atasnya tersusun rapi kotak-kotak makanan bergizi yang harus segera tiba di sekolah-sekolah di seberang sungai.
Bagi tim distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG), perjalanan menembus ombak sungai dan jalan berlumpur sudah menjadi rutinitas demi memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi setiap hari.
Di wilayah Gandus, sebagian distribusi makanan program MBG memang tidak bisa ditempuh melalui jalur darat. Tim dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Gandus harus mengandalkan perahu kecil untuk mencapai sejumlah sekolah yang berada di seberang sungai.
Kepala SPPG Gandus, Deni Rahmadi Putra, menjelaskan dapur MBG yang dipimpinnya mulai beroperasi sejak September 2025 dan hingga kini melayani sekitar 3.022 penerima manfaat.
Sebagian dari mereka berada di wilayah yang hanya bisa dijangkau melalui jalur air. Tiga sekolah yang harus dilayani melalui sungai adalah SD 153, SD 152, dan SD 154, serta beberapa posyandu di wilayah seberang.
Tantangan tidak berhenti di sungai. Akses menuju dermaga masih berupa jalan tanah yang mudah berubah menjadi licin ketika hujan turun.
“Kalau baru saja hujan, jalannya pasti licin dan kendaraan sering kesulitan melintas,” kata Deni.
Meski begitu, tim distribusi tetap memastikan makanan sampai tepat waktu setiap hari. Bagi mereka, pekerjaan ini lebih dari sekadar mengantarkan makanan.

“Kami merasakan ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menjadi penerima manfaat,” ujarnya.
Dalam proses distribusi melalui sungai, tim SPPG juga melibatkan warga setempat.
Salah satunya adalah Rizal Efendi, warga Selat Punai yang setiap hari mengemudikan perahu untuk mengantar makanan ke sekolah-sekolah di seberang sungai.
Salah satunya adalah Rizal Efendi, warga Selat Punai yang setiap hari mengemudikan perahu untuk mengantar makanan ke sekolah-sekolah di seberang sungai.
Rizal mengaku mulai membantu distribusi MBG sejak September tahun lalu. Selain membantu program tersebut, pekerjaan ini juga memberikan tambahan penghasilan bagi keluarganya.
“Program ini sangat membantu. Selain menambah penghasilan, anak-anak saya juga ikut merasakan manfaatnya karena mendapat makanan bergizi di sekolah,” katanya.
Ia menambahkan, sejak adanya program MBG, pengeluaran jajan anak-anaknya juga berkurang karena mereka sudah makan di sekolah.
Bagi para petugas di lapangan, perjalanan yang melelahkan itu seolah terbayar ketika melihat anak-anak menunggu dengan senyum di sekolah.
Setiap ayunan perahu yang menembus arus Sungai Musi dan setiap langkah di jalan berlumpur menjadi bagian dari upaya memastikan anak-anak Indonesia tetap mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh sehat.
Di balik perjalanan yang tidak mudah itu, tersimpan harapan bahwa pemenuhan gizi anak-anak dapat terus menjangkau hingga wilayah yang paling sulit sekalipun. (red)







Be First to Comment