Press "Enter" to skip to content

Perbaiki Kualitas Lahan Pertanian, BATAN Kembangkan Penelitian Bioremediasi

Social Media Share

JAKARTA, NP –  Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) mengembangkan penelitian pemanfaatan teknologi nuklir untuk bioremediasi atau perbaikan kualitas lahan pertanian. Kondisi lahan pertanian yang semakin menyempit menjadikan salah satu alasan untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian agar tetap produktif.

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat mengatakan, pada dasarnya kondisi lahan pertanian di Indonesia ada yang subur dan ada yang tidak subur. Kondisi tidak subur ini dikarenakan kurangnya kandungan mikroorganisme di dalam tanah yang mempunyai fungsi tinggi dalam meningkatkan daya tumbuh tanaman.

“Penelitian perbaikan kualitas lahan pertanian ini tidak bermaksud menciptakan mikroba yang baru yang tidak terkendali, tetapi melalui teknologi nuklir kita menciptakan wadah yang merangsang mikroba yang dibutuhkan tanah untuk berkembang biak dengan baik,” kata Totti pada acara jumpa pers di Kawasan Nuklir, Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Senin (30/09).

Dengan menciptakan wadah yang tepat, menurut Totti, mikroorganisme dapat hidup dengan baik dan mampu menyerap nitrogen dari udara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Pemberian mikroba pada lahan yang dinyatakan kurang subur dapat mengubah kualitas lahan menjadi subur, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Peneliti Bidang Industri dan Lingkungan, Nana Mulyana mengatakan, ketidaksuburan tanah pada dasarnya dikarenakan lapisan atas tanah atau top soil yang sering disebut dengan tempat pertumbuhan akar atau rizhosfer. Kerusakan pada top soil ini dapat terjadi secara alamia yakni akibat adanya erosi baik dari angin ataupun air, sehingga mengikis lapisan atas tanah.

Foto ilustrasi lahan pertanian. (dok)

“Kegiatan manusia melakukan penambangan juga dapat merusak lapisan atas tanah. Kegiatan penambangan biasanya berakibat pada terkelupasnya lapisan atas tanah, sehingga yang berada di lapisan atas adalah sub soil, dan lapisan ini tidak subur,” kata Nana.

Baca Juga  Atasi Penyakit Menular, Indonesia - Inggris Siapkan 37 Milyar Untuk Riset

Kegiatan penelitian bioremediasi ini menurut Nana, sudah lama dilakukan mengingat kondisi lahan di Indonesia menurut data dari Kementerian Pertanian menunjukkan 72% merupakan lahan yang tidak subur. Untuk itulah perlu dilakukan berbagai upaya bioremediasi untuk mengembalikan kondisi lahan agar menjadi lahan yang produktif.

“Hal pertama yang dilakukan dalam kegiatan bioremediasi adalah melakukan identifikasi terhadap kondisi lahan dan penyebab kerusakannya. Kemudian dikembangkan dan dilakukan menyebaran mikroorganisme fungsional yang mampu meningkatkan daya tumbuh pada tanaman,” tambah Nana.

Dalam mengembangkan mikroorganisme untuk keperluan perbaikan kualitas tanah, Nana mengaku hanya mengembangkan mikroorganisme lokal bukan mikroorganisme dari luar negeri. Hal ini dilakukan karena mikroorganisme luar negeri bisa saja mempunyai sifat yang invasif yang dapat menggeser mikroorganisme lokal yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Ia menambahkan, dengan memanfaatkan teknologi nuklir, wadah atau media yang digunakan untuk menyimpan mikroorganisme diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGrey memastikan kualitas mikroorganisme dapat terjaga kualitasnya selama dalam penyimpanan hingga 1 tahun. “Mikroorganisme yang disimpan dalam wadah yang sudah diiradiasi misalnya sejumlah tertentu, maka setelah disimpan dalam waktu 1 tahun, jumlahnya tetap dan tidak berkurang,” ujarnya.

Hasil penelitian ini telah diujicobakan di beberapa daerah, seperti di Cepu, Brebes, Tangerang Selatan, dan Kepulauan Bangka dan menjukkan hasil yang bagus. Sosialisasi terhadap hasil penelitian ini masih sangat diperlukan agar masyarakat mengetahui dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas kesuburan tanah.(rls)