Press "Enter" to skip to content

Menristek/Kepala BRIN Resmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional

Social Media Share

JAKARTA, NP – Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Republik Indonesia, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PhD meresmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional kolaborasi FKUI-RSCM-PT.Kimia Farma (Persero), Tbk pada Selasa (17/12/2019) di Ruang Senat Akademik Fakultas, FKUI, Salemba, Jakarta.

Turut mendampingi Menteri dalam peresmian tersebut, Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., PhD; Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB; Direktur Utama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Lies Dina Liastuti, SpJP(K), MARS, FIHA; dan Direktur Pengembangan Bisnis PT. Kimia Farma (Persero), Tbk, Imam Fathorrahman.
Hadir pada acara tersebut Plt. Deputi bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN, Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si; Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD; Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI, dr. Tri Hesty Widyastoeti, SpM, MPH; dan Deputi bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Dra. Rita Endang, Apt, M.Kes.

“Saya lega melihat hasil riset terkait sel punca ini karena berdampak bagi masyarakat luas. Jadi pasien akan memiliki harapan jika memiliki penyakit atau cedera berat, yang merupakan hasil inovasi dari FKUI-RSCM. Saya harap, semakin hari stem cell kita makin bagus kualitasnya dan dapat memberi pelayanan lebih banyak ke masyarakat. Terima kasih kepada FKUI sudah mau dan berhasil menjadi national coordinator untuk stem cell. Kami selalu menunggu kiprah FKUI untuk menyehatkan masyarakat, terutama untuk tindakan preventif,” papar Menristek/Kepala BRIN dalam pidato arahannya.

Bonus demografi tahun 2020 memberikan konsekuensi meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif yang beberapa diantaranya bersifat kronik dan progresif sehingga memberikan dampak sosio-ekonomi yang besar.  Terapi penyakit degeneratif yang tersedia saat ini umumnya hanya bertujuan mengurangi gejala namun tidak menghentikan proses degeneratif itu sendiri.
Selain penyakit degeneratif, kondisi lain seperti trauma, autoimun, keganasan dan lain sebagainya juga banyak yang bersifat terminal atau tidak lagi memberi respon dengan pengobatan konvensional (end stage) dan hingga saat ini belum ditemukan obat maupun cara pengobatannya.

Baca Juga  Anjing Ternyata Pendeteksi Penyakit Kanker Yang Luar Biasa

Sel punca atau stem cell adalah sel yang memiliki kemampuan (potensi) untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel-sel yang spesifik membentuk berbagai jaringan tubuh. Sel ini mampu berubah menjadi berbagai jenis sel matang yang khas (diferrentiate), mampu beregenerasi sendiri (self-regeneration), dan pada dasarnya merupakan blok pembangun (building block) pada tubuh manusia.

Dalam berbagai jaringan, sel punca juga dapat bertindak layaknya sistem perbaikan internal (internal repair system). Ketika sel punca membelah, masing-masing sel baru memiliki potensi tetap sebagai sel yang sama atau menjadi sel jenis lain dengan fungsi yang spesifik, seperti tulang, sel otot, sel saraf, sel darah merah, atau sel otak. Karena sifat tersebut, sel punca diyakini dapat digunakan untuk mengisi dan memperbaharui sel jaringan yang rusak akibat berbagai penyakit.
Selain sel punca itu sendiri, produk metabolitnya juga memiliki kandungan berbagai faktor pertumbuhan untuk menunjang regenerasi jaringan dan fungsi organ. Melihat potensi yang positif bagi kesehatan, maka sel punca dan produk metabolitnya memiliki peran sangat penting dan menjanjikan pada bidang kesehatan di masa depan.

Sejak penelitian terkait sel punca pertama kali dilakukan oleh FKUI-RSCM pada tahun 2008, Unit Pelayanan Terpadu Teknologi Kedokteran (UPTTK) Sel Punca FKUI-RSCM telah melakukan penelitian berbasis pelayanan terapi yang melibatkan lebih dari 30 dokter subspesialistik dari berbagai keilmuan pada banyak kasus, seperti patah tulang gagal sambung; defek tulang panjang; defek tulang belakang; kelumpuhan akibat cedera saraf tulang belakang; osteoarthritis lutut; lesi osteokondral; degenerasi diskus tulang belakang; diabetes melitus; kaki diabetes; luka bakar dalam dan luas; kebutaan karena glaukoma, stroke, osteoporosis hingga penyakit jantung, skin rejuvenation dan kebotakan (alopecia).

Baca Juga  Mau Kuliah? Menteri Nasir Dorong Keluarga Tidak Mampu Manfaatkan Beasiswa Bidikmisi

Hingga saat ini sudah lebih dari 300 orang pasien yang dilakukan terapi sel punca yang dibiayai dari berbagai hibah kompetitif senilai lebih dari Rp.36.000.000.000. Ke depannya, penelitian sel punca akan dikembangkan untuk pengobatan lain seperti gagal ginjal akut, nerve regeneration, demensia, alzheimer dan penyakit-penyakit yang tidak lagi memberi respon dengan pengobatan konvensional (end stage).

Tak hanya dari aspek klinis, perkembangan keilmuan penelitian sel punca FKUI-RSCM yang dimulai dari basic research (tingkat sel), translational research (animal study), hingga clinical trial pada orang sakit, juga telah menghasilkan luaran akademis berupa 105 publikasi internasional.

 

Menristek resmikan Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional.(ist)

Perkembangan dan kemajuan keilmuan terkait sel punca merupakan terobosan dan inovasi bagi Indonesia. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang sudah melakukan pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum di rumah sakit-rumah sakit. Di beberapa negara lainnya, pelayanan sel punca masih berada di tahap riset dan belum secara resmi diberikan untuk pasien umum. Hal ini tentu meningkatkan potensi adanya medical tourism karena ke depannya pelayanan terapi sel punca bagi pasien umum ini tidak hanya diperuntukan bagi pasien dalam negeri, tetapi juga pasien dari manca negara.

Proyek pendirian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional kolaborasi FKUI-RSCM-PT. Kimia Farma (Persero), Tbk didanai dari Insentif Inovasi Perguruan Tinggi di Industri dari Kemenristekdikti melalui kolaborasi tim peneliti sel punca dari Klaster Stem Cell and Tissue Engineering IMERI-FKUI dan UPTTK Sel Punca FKUI-RSCM bekerja sama dengan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.

Hingga saat ini masyarakat yang memerlukan terapi sel punca masih memilih untuk melakukan terapi tersebut di luar negeri dengan biaya yang sangat mahal. Berangkat dari kondisi tersebut, Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional kolaborasi FKUI-RSCM-PT.Kimia Farma (Persero), Tbk sebagai solusi atas kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap aplikasi dan pengobatan dengan sel punca dan produk metabolitnya.

Baca Juga  Menteri Nasir Dorong Kontribusi Pesantren Tingkatkan APK Pendidikan Tinggi

“Semoga dengan berkembangnya penelitian dan aplikasi sel punca di Indonesia, saya harap masyarakat Indonesia dapat segera menikmati manfaat sel punca. Sudah saatnya kita memberi keyakinan pada masyarakat bahwa Indonesia mampu memberikan perawatan sel punca seperti di luar negeri dengan kualitas yang sama dan harga yang bersaing,” lanjut Menristek/Kepala BRIN.

Selain peresmian Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional kolaborasi FKUI-RSCM-PT.Kimia Farma (Persero), Tbk oleh Menristek/Kepala BRIN, pada kesempatan tersebut juga ditampilkan beberapa karya inovasi sivitas akademika UI.

Karya-karya inovatif tersebut antara lain KINESIA, TiBIO UI, Inkubator Bayi, Aplikasi Skor Adiksi Kecanduan Internet, Klaster Medical Technology IMERI FKUI, Fostering Dental Innovations, Fiksasi Eksterna Periartikuler, VDAC 3 sebagai bahan kontrasepsi pria, Mikrokapiler Digital, dan Cardium yang merupakan alat pengukur resiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes karya kolaborasi antara mahasiswa FKUI dengan Fakultas Teknik UI.

Pusat Produksi Sel Punca dan Produk Metabolit Nasional kolaborasi FKUI-RSCM-PT.Kimia Farma (Persero), Tbk diharapkan akan mampu memproduksi berbagai jenis sel punca, baik autogenik maupun autologus, serta produk metabolit sel punca yang teregistrasi dan dapat diproduksi secara massal serta dikomersialisasikan. Produk sel punca FKUI-RSCM ini menjadi contoh bahwa riset universitas yang inovatif (pelayanan berbasis penelitian) bisa berlanjut sampai di hilirisasi dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa dan negara.(rls)