Press "Enter" to skip to content

BRIN dan OceanX Sukses Gelar Ekspedisi Laut, Temukan 14 Spesies Megafauna di Sulawesi Utara

Social Media Share

Ekspedisi Leg 2 OCEANX–BRIN: ketika sains bertemu petualangan di kedalaman samudra.(Foto:Ist)

JAKARTA, NP – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan organisasi eksplorasi laut global, OceanX, berhasil melaksanakan misi penelitian laut dalam program “OCEANX–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2”.

Leg kedua ekspedisi ini berlangsung pada 5–24 Januari 2026, dengan fokus pada biodiversitas, oseanografi, pemantauan laut, serta penggunaan fish aggregating device (FAD) atau yang dikenal sebagai rumpon, kata Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, dalam keterangan pers, Jumat (23/1/2026).

Menurut Nugroho, upaya mencapai kemandirian eksplorasi laut di Indonesia menuntut penguatan ekosistem kapal riset, mulai dari armada, sumber daya manusia, hingga pendanaan. Hal ini tercermin dari tahap akhir misi Leg 2 yang saat ini berlayar di laut utara Sulawesi Utara menuju Pelabuhan Bitung hingga 24 Januari mendatang.

ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan langsung dari kapal penelitian canggih OceanXplorer bahwa misi ini berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna.

Lebih rinci, Peneliti Mamalia Laut Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, menjelaskan temuan terdiri dari 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu. Mamalia laut tersebut terdeteksi melalui pemantauan udara menggunakan helikopter kapal, termasuk paus sperma (sperm whales) dan paus berparuh (beaked whales).

“Bahkan kami menemukan Indopacetus pacificus (paus paruh Longman) yang jika terkonfirmasi, akan menjadi catatan baru dalam daftar biodiversitas perairan Indonesia,” tambah Sekar.

Selain helikopter, tim juga memanfaatkan teknologi revolusioner environmental DNA (eDNA) metabarcoding. Metode ini memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan paus dan megafauna lain hanya melalui residu genetik yang tertinggal di air, tanpa kontak fisik dengan hewan.

“Kira-kira kalau bisa cerita cepat, kita seperti berburu paus tanpa membunuhnya, whaling tanpa harpoon. Tujuannya mempelajari distribusinya, baik horizontal maupun vertikal,” kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo.

Ekspedisi ini diperkuat dengan dua unit kapal selam berawak (submersible) dengan peran berbeda. Ilham, peneliti dari Indo Ocean Foundation, menjelaskan, “Nadir difokuskan untuk mendukung media dan dokumentasi visual, sementara Neptune lebih diarahkan untuk tujuan saintifik.”

Submersible Nadir merekam struktur komunitas di gunung bawah laut (seamount) Sulawesi Utara melalui metode video transect. Sementara Neptune dilengkapi Niskin bottle untuk mengoleksi sampel air, lengan robotik untuk mengambil biota laut, dan bio box untuk menjaga spesimen selama perjalanan naik ke permukaan, sebelum dianalisis di laboratorium kapal.

Lead Scientist ekspedisi sekaligus Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Pipit Pitriana, menyatakan, ekspedisi ini memperkaya data biodiversitas Sulawesi Utara sebagai dasar rekomendasi kebijakan konservasi.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, menutup paparan dengan apresiasi tinggi atas kegiatan ini. Ia berharap hasil penelitian terdokumentasi dengan baik dan semua sampel tersimpan di repositori ilmiah nasional.

“Saya berharap penelitian ini berlanjut dengan kapal penelitian kita sendiri, dengan peralatan standar yang tidak kalah canggih,” tegas Amarulla. (red)

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *