Press "Enter" to skip to content

Kerusuhan Mereda

Social Media Share

JAKARTA, NP – Unjuk rasa menentang hasil pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Joko Widodo-Ma’ruf dilaporkan mulai mereda pada Kamis (23/05) dini hari, terutama di Slipi, KS Tubun dan Abdul Muis.

Aparat membujuk peserta demonstrasi untuk pulang, meski sempat terjadi kerusuhan sebelumnya.

Sementara itu calon presiden Prabowo Subianto, melalui pesan video, meminta para pendukungnya yang berdemonstrasi untuk pulang.

“Saya mohon saudara-saudara kembalilah ke tempat istirahat masing-masing, hindari tindakan di luar hukum. Kemudian selalu mengalah dan patuh pada ketentuan hukum.

Ini imbauan saya. Percayalah pada pemimpin-pemimpinmu. Kita sedang berjuang di jalur-jalur hukum dan konstitusi,” kata Prabowo. Jakarta.

Sebelumnya, sampai Rabu (22/05) malam massa terpusat di perempatan Sarinah, Jakarta dan ada “tembakan kembang api dan bom molotov dari arah massa”, lapor wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah.

Melalui pengeras suara, aparat mengimbau pengunjuk rasa untuk tetap tenang dan meminta mereka untuk bubar dengan tertib. Negosiasi juga tengah berlangsung antara pendemo dan pihak keamanan.

Polisi menggunakan meriam air untuk mencoba membubarkan massa di depan gedung Bawaslu.

Kericuhan juga terjadi di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Polisi sempat mendorong massa ke kawasan permukiman. tengah bertugas berbuka puasa.

Kerusuhan yang terjadi Rabu dini hari bermula dari protes yang berlangsung damai di depan gedung Bawaslu, Jakarta pusat malam sebelumnya. Semakin malam, suasana berubah panas ketika mulai terjadi bentrokan antara pemrotes dengan pihak kepolisian.

 

Pelaku Kerusuhan 22 Mei

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamaan, Wiranto menyatakan sudah mengetahui dalang yang berada di balik kerusuhan namun tidak menyebut namanya.

Sejauh ini Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyatakan telah menahan 257 tersangka kerusuhan.

Baca Juga  Sertijab Kadispen Koarmada I dan Buka Puasa Bersama dengan Media

Pihak kepolisian melalui Kadiv Humas Polda Metro Jaya Muhammad Iqbal menyebutkan bahwa sebagian besar pelaku protes yang berujung kerusuhan ini bukan berasal dari Jakarta.

Bahkan Iqbal menyebutkan adanya massa yang dibayar dan di-setting untuk terlibat dalam kerusuhan ini.

Kaplori jenderal Tito Karnavian juga menyebutkan ditemukannya amplop berisi uang, total Rp6 juta, yang diduga digunakan untuk membayar massa.

“Mereka mengaku ada yang membayar,” kata Jenderal Tito Karnavian mengomentari temuan amplop tersebut.

Polisi juga menyebutkan adanya provokator yang masuk dari luar Jakarta.

Enam Meninggal

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan adanya enam orang korban jiwa dalam kerusuhan ini. Pihak kepolisian sudah mengkonfirmasi ada korban meninggal, tetapi masih belum memastikan jumlah dan penyebabnya.

Salah satu rumah sakit yang disebutkan menampung korban meninggal dan korban luka adalah Rumah Sakit Tarakan. BBC Indonesia telah mengkonfirmasi kepada pihak rumah sakit yang memastikan adanya dua korban meninggal di rumah sakit tersebut.

Rumah Sakit Tarakan juga menyebut adanya 133 korban luka yang sempat dan masih mereka tangani.

Sejauh ini pihak kepolisian menyatakan tidak menggunakan peluru tajam dalam penanganan unjuk rasa. Maka keberadaan peluru ini masih belum bisa dipastikan.

Pihak kepolisian menyatakan sedang melakukan investigasi terhadap penyebab jatuhnya korban jiwa ini.

Kabar Bohong Polisi ‘Sipit’

Saat kerusuhan terjadi, beredar informasi simpang siur, termasuk hoaks yang mengabarkan adanya personel tentara dan kepolisian China yang menangani kerusuhan. Begitu pula dengan kabar bahwa pihak keamanan menyerbu masjid.

Aparat kepolisian melalui Kadiv Humas Polri Muhammad Iqbal telah mengklarifikasi kabar-kabar ini. Iqbal menyatakan bahwa aparat Brimob dan TNI tidak pernah menyerang masjid.

Iqbal juga menyatakan tidak ada personel kepolisian dan TNI yang merupakan warga China.

Baca Juga  Kasal : Rakerniswas Berperan Penting Tunjang Keberhasilan Pengawasan

“Ada rumor itu pasukan dari negeri seberang, yang sipit-sipit. Tidak ada, murni itu personel Brimob warga negara Indonesia,” kata Muhammad Iqbal. (BBC/her)