Press "Enter" to skip to content

Tetap Buka Toko: Saya Percaya Pemerintah

Social Media Share

Nyaris sebagian besar pertokoan di Glodok dan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, tutup saat kericuhan, yang berlanjjut dengan kerusuhan; hasil pilpres pecah di sekitar kantor Bawaslu dan daerah Slipi, 22 Mei lalu.

Aktivitas kawasan yang penghuninya mayoritas komunitas Tionghoa itu pulih sehari setelahnya, meski muncul bayang-bayang Tragedi 1998, yang juga terjadi di bulan Mei di Jakarta.

Hampir tidak terlihat toko yang tutup di Glodok dan Pinangsia, Kamis (23/05) siang. Penjual material bangunan, kembang, hingga pernak-pernik khas Tionghoa, menggelar lapak mereka. Pegawai toko terlihat mondar-mandir, angkut-bongkar barang berlangsung cepat.

Aktivitas kuliner di kawasan yang mendapat julukan pecinan itu juga hiruk-pikuk. Asap mengepul dari kompor para penjual bakmi, bak kut teh, bahkan ketoprak.

Sekilas Pinangsia tak tampak berbeda dengan hari-hari lainnya. Lampion merah bertuliskan aksara Mandarin bergelayut di tengah gang. Orang-orang berhimpitan berjalan di permukiman padat ini.

Namun pemandangan tersebut tidak terlihat sehari sebelumnya, saat massa penolak hasil pilpres bentrok dengan polisi.

Dalam unjuk rasa yang diwarnai lemparan batu, gas air mata, hingga letusan peluru karet itu, muncul seruan provokatif bercorak hoax, yang telah dibantah pemerintah: ‘Indonesia dijajah China dan polisi yang merekrut warga China’., Rabu (22/05).

Sentimen negatif tentang hoaks soal China itu mau tidak mau mempengaruhi Glodok dan Pinangsia.

‘Saya Percaya Pemerintah’

Leni (35 tahun) misalnya, tak membuka kios cakram padat lagu-lagu Mandarinnya itu. Ia sebenarnya tidak merisaukan kekisruhan pilpres. Penghentian sementara aktivitas jual-beli diputuskan pengurus plaza tempatnya menyewa kios.

Leni mengatakan ia tak punya pengalaman langsung dengan Tragedi Mei 1998 di Jakarta. Saat itu ia belum merantau dari kampungnya di Kalimantan Barat. “Saya santai-santai saja, tidak khawatir. Saya juga tidak perhatikan media sosial, hanya nonton berita di televisi saja.”

Baca Juga  Kampanye Akbar Harus Gembirakan Rakyat: 01 ke Tangerang, 02 Makassar, dan Sragen

“Tapi kemarin keluarga saya kurangi aktivitas keluar rumah, kurangi pergi jauh, takutnya ada kejadian mendadak,” tuturnya. Payong adalah satu dari sedikit pemilik toko di kawasan Glodok yang tetap berjualan saat terjadi unjuk rasa 22 Mei.

Kisah berbeda dituturkan Yong Payong. Kios obat tradisional miliknya di Jalan Pancoran, Pinangsia,  satu dari beberapa toko yang tetap buka, Rabu lalu. Keputusan itu diambilnya meski menyaksikan langsung kerusuhan, penjarahan, dan pemerkosaan di Glodok, Mei 1998.

“Pasien mau datang ambil obat, masa saya tidak buka. Saya percaya pemerintah. Saya sudah 77 tahun, tidak memikirkan hal-hal seperti itu lagi,” kata Yong (Foto BBC News).

“Keadaannya beda jauh, pengamanannya sekarang lebih bagus, dulu tidak karuan. Dulu mal disikat, tidak separah itu sekarang. Anak saya juga tetap berangkat kerja ke kantor,” ujarnya.

Merujuk catatan Tim Gabungan Pencarai Fakta, terjadi pemerkosaan hingga pembakaran ruang privat yang menyebabkan kematian di sekitar Glodok. Beragam upaya mencegah keributan di Bawaslu melebar ke Glodok memang terlihat mata.

Satu panser Anoa milik TNI ditempatkan di depan ITC Glodok. Di pertokoan itu juga terlihat sepuluh motor trail tentara dan beberapa truk pengangkut pasukan Kodam Jaya. ITC Glodok tidak beraktivitas penuh, Rabu (22/05) lalu. Kini pertokoan itu riuh-rendah. Warga sekitar tampak berswafoto di depan panser serba hijau tersebut. (BBC/her)