Press "Enter" to skip to content

Kemenangan Jokowi-Ma’ruf versi QC Akan Dibarengi dengan Pembelajaran Keberagaman

Social Media Share

JAKARTA, NP – Kemenangan Joko Widodo (Jokowi) – Ma’ruf Amin di DKI Jakarta versi quick count (QC) Pilpres 2019 tidak berhenti sampai disitu, tetapi ada agenda lain yakni merangkul kembali para pendukung Prabowo Subianto – Sandiaga Uno serta mengajarkan keberagaman.

Selama ini keberagaman masih belum mendengung sampai ke pelosok dan masjid-masjid di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika. “(Motto) Bhinneka Tunggal Ika didengungkan terus selain kita merangkul (pendukung Prabowo – Sandi). Bapak-bapak dan Ibu-ibu harus peduli dengan tidak membiarkan rakyat dicekoki pelajaran menyesatkan,” kata Budi Karya Sumadi dari Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi – Ma’ruf di depan para pendukungnya di Menteng, Jakarta Pusat.

Selain Budi Karya, hadir juga Ketua TKD Prasetio Edi Marsudi, anggota yang lain seperti Sidarto Danusubroto, Hayono Isman, Krishna Trypriadharma. Acara yang diberi nama Tasyakuran DKI Jakarta digelar sebagai ungkapan terima kasih kepada para relawan TKD, para pelajar seluruh SMU di DKI Jakarta dan lain sebagainya. “Kemenangan pak Jokowi diharapkan bisa terus menjaga keberagaman antar anak Bangsa. Karena Motto Bhinneka Tunggal Ika sebagai persatuan terbukti menjaga keutuhan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan ribuan suku yang berbeda-beda,” tegas Budi Karya Sumadi yang juga menjabat Menteri Perhubungan.

Di tempat yang sama, Sidarto menegaskan bahwa proses pembangunan demokrasi di Indonesia sudah dimulai sejak Pemilu tahun 1955. Tentunya, kondisi penyelenggaraan Pemilu berbeda antara tahun 1955 dengan yang sekarang, yakni 2019. Tetapi hal yang esensial bahwa demokrasi tetap terjaga kendatipun ada ancaman ideology berbeda pada Pemilu 2019. Sebagaimana pertarungan bukan hanya kubu yakni Jokowi dengan Prabowo tetapi juga ideology yang potensial merasuk. Pertarungan ideologinya yakni Pancasila dengan Khilafah. “Padahal orang orang Irak bangga dengan Indonesia dimana mayoritas rakyatnya beragama Islam tetapi demokrasi terbangun tanpa konflik. Irak terus dihantui konflik karena berebut kebenaran tunggal yang sebetulnya milik Allah. Kebenaran tunggal bukan milik manusia,” tegas Sidarto Danusubroto yang juga mantan Ketua ke-14 MPR RI.

Baca Juga  58 Tahun Kolinlamil Mengabdi Untuk Negeri

Ia mendengarkan sendiri kesaksian dari para petinggi Irak ketika berkunjung ke negara 1001 (seribu satu) malam. Kesaksian para petinggi Irak tidak berlebihan. “Mayoritas Islam dengan compatible democracy. Hal ini diakui oleh para petinggi Irak ketika saya masih menjabat anggota DPR dan berkunjung ke Irak,” kata Sidarto.

Rombongan Sidarto disuguhi dengan kenangan penuh pesona yakni Babilonia dan Mesopotamia. Sebagaimana Babilon adalah negara kuno yang terletak di selatan Mesopotamia (sekarang Irak), di wilayah Sumeria dan Akkadia. Keduanya adalah peninggalan tertua di bumi, yakni sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Pada saat itu, Babilonia Mesopotamia sudah berhasil membangun kemasyarakatan, peradaban terutama perumahan rakyat. Sementara bangsa Eropah masih hidup di goa-goa. Amerika masih dihuni dengan suku Indian, Australia dengan suku Aborigin, Selandia Baru dengan suku Maori. “Tapi Timur Tengah terutama Irak sekarang dihantui dengan konflik horizontal tanpa berkesudahan. Eropa sudah melesat maju. Hal tersebut yang tidak boleh terjadi di negara Indonesia,” tegas Sidarto.

Beberapa bulan sebelum Pemilu, tepatnya tanggal 17 April, para sukarelawan, TKN (Tim Kampanye Nasional), TKD sudah sangat kelelahan. Selain masih maraknya hoax (berita bohong), beberapa tokoh juga berupaya menyusupkan ideologi lain. “Pemilu 1955, saya sudah mengalami. (Kegiatan kampanye) belum ada uang, baliho, rapat umum, belum ada hoax. Tetapi Pemilu sudah sangat demokratis. Saya sebagai saksi sejarah, (melihat) kualitas Pemilu sekarang semakin kesini, semakin heboh. Dengan hoax, bangsa ini hampir terpecah-belah. Alhamdullilah, pasangan Jokowi-Ma’ruf menjadi pemenang. Setelah tanggal 22 Mei nanti, kita tidak lagi menjadi 01 (nomor urut Pilpres), tetapi menjadi 03 artinya (sila ke-3 Pancasila) Persatuan Indonesia,” kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden (sejak 2015 – sekarang). (SL)

Baca Juga  KN Tanjung Datu 301 Tiba di Port Blair India