Press "Enter" to skip to content

Jika tak Mengajar, Gelar Profesor Bisa Dicabut

Social Media Share

JAKARTA, NP – Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan,orang yang menyebut dirinya profesor atau guru besar harus aktif mengajar sebagai dosen. “Jika yang bersangkutan sudah pensiun atau tidak mengajar bisa dicabut” demikian disampaikan Menristekdikti Mohammad Nasir.

Mengenai gelar profesor atau guru besar Amien Rais, Menteri Nasir mengatakan pencabutan gelar tersebut menjadi hak Universitas Gajah Mada (UGM). “Masalah pencabutan guru besar profesor Amien Rais itu hak sepenuhnya ada  Universitas Gajah Mada,” ujar Nasir.

“Karena orang yang menyebut dirinya profesor atau guru besar harus aktif mengajar sebagai dosen. Jika tidak mengajar lagi, gelar tersebut layak dicabut.Kalau memang sudah tidak ngajar, buat apa profesor untuk dia. Jangan untuk gagah-gagahan saja. Kalau sudah memang tidak perlu, harus dicabut saja,” jelasnya.

Ia di Jakarta, Senin (27/5); juga menepis adanya kaitan antara pencabutan gelar profesor dengan dugaan makar yang menyeret politisi PAN itu. “Tidak ada kaitannya. Makar tidak ada kaitannya dengan pencabutan profesor atau tidak. Guru besar adalah kaitan akademik. Makar kaitan individu,” tegas Nasir.

Sebelumnya, Ketua Dewan Guru Besar UGM Koentjoro menegaskan karier Amien Rais sebagai guru besar atau profesor sudah hilang karena telah pensiun. Dengan pensiunnya mantan staf pengajar Fisipol UGM itu, dengan sendirinya Amien Rais kehilangan gelar profesor atau guru besar.

“Beliau sudah pensiun. Guru besar atau profesor itu adalah jabatan akademik, sehingga ketika beliau itu pensiun maka jabatan akademik sebagai guru besar itu pun sebetulnya juga harusnya hilang,” ungkap Ketua Dewan Guru Besar UGM, Koentjoro.

Gelar Akademik tak Melekat Seumur Hidup 

Di Sleman, pihak Dewan Guru Besar UGM menegaskan jabatan guru besar bukanlah jabatan akademis yang melekat seumur hidup. UGM pun menyatakan tak berhak mencopot atau mencabut jabatan guru besar yang disandang akademisi termasuk salah satu di antaranya Amin Rais.

Baca Juga  Bernilai Ratusan Juta Rupiah, Satgas Yonif 328/DGH Cegah Peredaran Gelembung Ikan Kakap

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof Drs Koentjoro MBsc PhD menerangkan profesor merupakan salah satu jabatan akademik. Gelar tersebut menurut dia melekat pada orang yang bersangkutan selama aktif bertugas dan akan hilang dengan sendirinya ketika pensiun.

“Guru besar atau profesor adalah jabatan akademik, bukan gelar akademik yang melekat sepanjang hidup. Kalau itu jabatan akademik maka ketika yang bersangkutan pensiun jabatannya itu pun pensiun,” ungkap Koentjoro, Senin (27/05/2019).

Dewan Guru Besar UGM menurut dia tidak berhak mencopot atau mencabut jabatan guru besar. Namun begitu jabatan akan hilang dengan sendirinya ketika seseorang pensiun atau mengundurkan diri misalnya masuk di dalam partai politik.

“ASN dilarang berpartai politik, karena itu dia harus pensiun. Berbeda dengan kepakaran, jejang pendidikan tertinggi adalah S3 dengan gelar doktor yang melekat seumur hidup,” ungkapnya lagi.

Ia menerangkan, jenjang jabatan akademik dimulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, hingga Profesor. Untuk memperoleh jabatan tersebut, seorang pengajar atau dosen harus mengumpulkan kum penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengajaran.

“Ketika jumlahnya sudah mencapai 850 nilainya, barulah seseorang memperoleh jabatan akademik sebagai profesor melalui pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan di fakultas, di dewan penilaian universitas, bahkan kemudian dikirim ke Kemenristekdikti yang dinilai tim penilai di sana,” jelas Koentjoro.

Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr dr Hardyanto SpKK(K) menambahkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 92 Tahun 2014 tentang petunjuk teknis pelaksanaan penilaian angka kredit jabatan fungsional dosen, dijelaskan pada pasal 10 bahwa untuk kenaikan jabatan akademik secara reguler dari Lektor Kepala ke Profesor hanya melalui tujuh syarat.

Syarat tersebut adalah memiliki pengalaman kerja sebagai dosen tetap paling singkat 10 tahun, berpendidikan doktor (S3), paling singkat 3 tahun setelah memperoleh ijazah doktor (S3), paling singkat 2 tahun menduduki jabatan Lektor Kepala, telah memenuhi angka kredit, memiliki karya ilmiah yang dipulikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama dan memiliki kinerja, integritas, etika tata krama, serta tanggung jawab.

Baca Juga  USS Blue Ridge LCC -19 Kunjungi Indonesia

Terdapat pula beberapa hal yang dapat menyebabkan dosen diberhentikan dari jabatan sebagai guru besar misalnya pensiun, meninggal, sakit lebih dari 12 bulan, tidak mengajar selama 1 bulan, dan melakukan tindak pidana. “Jadi, istilah pencabutan jabatan guru besar itu tidak ada, adanya penghentian. Misalnya yang bersangkutan pensiun dan tidak diperpanjang, tapi kalau pensiun lalu diperpanjang sebutannya guru besar emiritus,” tandasnya. (krj/her)