Press "Enter" to skip to content

Suriah Sayang: Satu Wayang, Banyak Dalang

Social Media Share

Catatan : Heru Subroto

Dalam jagad pewayangan, yang ada satu dalang untuk ‘m emainkan’ banyak wayang. Tapi di Suriah, dalam dunia nyata; ibaratnya satu wayang dikendalikan oleh banyak dalang. Akibatnya, bisa sobek berkeping-keping.

Betapa tidak. Dalang A maunya ‘tangan  wayang’ tidak bergerak. Tapi dalang B justru ingin ‘tangan  wayang’ beraksi kian kemari. Jug a ’kaki wayang’ maunya dalang C, tidak melangkah. Tapi dalang D kepinginnya  ’kaki wayang’ nendang ke sana kemari. Bisa dibayangkan betapa morak-mariknya ’si wayang’.

Ada banyak pihak berkepentingan di Suriah. Eropa yang terdiri dari beberapa negara, kemauannya tak kan sama. Lihat saja Turki, dan juga Rusia. Belum lagi Amerika yang sangat pasti tidak mau kehilangan pengaruhnya di salah satu negeri Timur Tengah tersebut. Belum lagi ‘si wayang’ itu sendiri. Apa maunya.  .

Seorang pejabat tinggi PBB mengimbau Rusia dan Turki sebagai penjamin dalam Perjanjian De-eskalasi di Provinsi Idlib, Suriah, agar mencegah pertempuran di daerah kantong pemberontak ini tidak bertambah marak.

Pejabat itu memberi taklimat kepada wartawan di Jenewa tentang rapat Kelompok Internasional Pendukung Satuan Tugas Akses Kemanusiaan di Suriah.

Berita terakhir menyebutkan, PBB mengecam serangan terhadap fasilitas kesehatan di Provinsi Idlib, Suriah barat laut, dan memperingatkan sebuah ofensif militer oleh rejim Assad dengan dukungan Rusia berisiko menyebabkan korban manusia yang besar kalau diteruskan.

“Sejak akhir April, eskalasi kekerasan ini dilaporkan menewaskan dan mencederai lebih dari seratus warga sipil serta menyebabkan 180 ribu orang mengungsi,” demikian kata Kepala Politik PBB Rosemary DiCarlo pada sebuah pertemuan darurat DK PBB.

Lebih dari 3 juta warga sipil tinggal Provinsi Idlib, Suriah barat laut. Sebagian besar terkurung di daerah kantong itu tanpa bisa pergi ke mana pun sekiranya pecah perang terbuka antara pasukan Suriah dukungan Rusia dan pemberontak.

Perjanjian zona de-eskalasi pada 2018 yang dirundingkan Rusia, Turki dan Iran berhasil mempertahankan perdamaian yang rapuh di kawasan yang panas itu dan sekarang tampaknya mulai berantakan.

Baca Juga  Ramadhan 1440 H dan Momentum Rekonsiliasi

Penasihat senior PBB bidang kemanusiaan untuk Suriah Najat Rochdi mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir PBB menerima laporan yang merenyahkan tentang meningkatnya kegiatan militer dan serangan di Idlib.

Menurut Rochdi, sejak Februari ada 106 ribu orang yang mengungsi dan 190 orang tewas sebagai akibat langsung dari pertempuran yang meningkat.

“Kami mempunyai rencana regional bagi sampai 900 ribu orang yang mungkin terkena dampak jika aksi militer terbatas terjadi di Suriah barat laut. Serangan besar militer di sana akan menempatkan ribuan jiwa terancam dan berdampak pada jumlah besar orang dan sangat mungkin membikin para mitra kemanusiaan kami kewalahan,” kata Najat Rochdi.

Rochdi mengatakan, pembicaraan belum lama ini antara Rusia dan Turki untuk melanjutkan patroli di kawasan sana memberinya semacam harapan bentrokan yang membinasakan dapat dielakkan.

Rochdi juga mengatakan satu lainnya yang amat menggusarkan ialah krisis kemanusiaan yang tengah menguak di kamp al-Hol di Provinsi Al-Hasakah, Suriah timur laut. Kamp yang dimaksudkan untuk 41 ribu orang itu kini dihuni lebih dari 73 ribu orang.

Sebagian besar yang tiba di kamp itu adalah pengungsi dari Provinsi Deir ez-Zor kubu terakhir negara Islam ISIS. 92% penghuni kamp adalah perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia. Tidak ada lelaki di atas umur 15 tahun.

Seterusnya Rochdi mengatakan, orang luarbiasa rentan dan yang tiba di al-Hol kekurangan gizi dan menderita berbagai macam penyakit. Rumah sakit rujukan kewalahan dan tidak lagi dapat menerima pasien. Kebutuhan lain yang mendesak, katanya, adalah tempat berlindung, air dan sanitasi.

*******

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya akan meningkatkan volume perdagangannya dengan Rusia menjadi $100 miliar.

Recep Tayyip Erdogan menyebut perdagangan semua produk dan impor barang-barang Rusia ke Turki sangat rendah. “Sahabat saya (Vladimir Putin) ingin mencapai perdagangan sampai $100 miliar dan kita perlu menemukan cara-cara baru (untuk mencapai target ini),” kata Erdogan.

Baca Juga  Prabowo Harus Hadapi Kenyataan dan Terima Kekalahan (Lagi)

Erdogan melontarkan komentar tersebut selama pertemuan dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin di Moskow.

Sementara itu Vladimir Putin tanpa ragu menawarkan kawasan Krimea sebagai wilayah yang menjanjikan bagi pengusaha Turki, meskipun Rusia oleh masyarakat internasional dituduh mencaplok kawasan tersebut.

“Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan Turki telah beroperasi di banyak wilayah Rusia seperti Vladimir, Penza, Kaluga, Krasnodar, dan Stavropol. Ada potensi pengembangan untuk Krimea. Peluang pasar bebas dengan cepat berkembang di sana, termasuk oleh para investor asing ,” kata Putin.

Kedua pemimpin juga menggunakan pertemuan untuk ketiga kalinya tahun ini untuk membahas konflik di Suriah, penjualan rudal Rusia ke Turki, dan kesepakatan ekonomi lainnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, dia belum melihat rencana yang dapat diterima dengan baik untuk menciptakan zona aman di Suriah yang bertujuan melindungi perbatasan Turki dari serangan.

Erdogan berbicara dalam pertemuan parlemen partainya, Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) yang berkuasa, dan mengatakan, “Belum ada rencana memuaskan yang disajikan kepada kami secara nyata. Namun, kesabaran kami terbatas.”

Erdogan berbicara sewaktu menteri luar negerinya, Mevlut Cavusoglu, mengunjungi Amerika Serikat untuk mengadakan pembicaraan dengan Menlu AS, Mike Pompeo dan diplomat senior lainnya. Diskusi dua hari itu diharapkan berfokus pada proposal terakhir Presiden AS Donald Trump guna menciptakan zona perbatasan untuk melindungi Turki dari milisi Suriah Kurdi, YPG.

Dukungan Amerika kepada YPG dalam perang melawan ISIS membuat marah Turki, yang menganggap kelompok milisi teroris itu terkait dengan pembrontak Kurdi yang sudah berpuluh tahun merongrong Turki.

Ketegangan Turki – Amerika mereda oleh keputusan Trump pada bulan Desember yang akan menarik semua pasukan AS dari Suriah. Tetapi Erdogan menyuarakan frustrasinya tentang kurangnya kejelasan kapan pasukan AS akan mundur, serta bagaimana dan kapan zona itu diterapkan.

Pembicaraan pekan ini sebagai bagian dari proses yang diprakarsai oleh Menlu Rex Tillerson tahun lalu untuk meredakan ketegangan bilateral atas isu Suriah.

Baca Juga  Program KKBPK Reinkarnasi KB Era Haryono Suyono?

*******

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Lawatan ini berlangsung sementara pasukan Turki bersiap-siap melancarkan sebuah operasi militer besar terhadap milisi Kurdi YPG di Suriah.

“Kami tidak minta nasihat bagaimana menanggapi sebuah kelompok teroris dari siapa-siapa, atau minta ijin untuk memerangi terorisme,” demikian ditulis Erdogan minggu lalu di harian Rusia Kommersant.

Ankara menganggap YPG dan afiliasi organisasi politiknya PYD terkait dengan pembrontakan di dalam negeri Turki.

Ankara dan Moskow mendukung pihak-pihak yang bersaingan dalam perang saudara di Suriah, dan perbedaan ini sempat mengakibatkan penembakan jatuh pesawat pembom Rusia oleh Turki pada 2015. Namun sejak itu, kedua pemimpin itu mempererat kerja sama mereka dalam upaya mengakhir konflik di Suriah.

Erdogan dan Putin melakukan tujuh pertemuan pada 2018, dan 18 pembicaraan telepon guna membahas hubungan bilateral, termasuk isu Suriah.

Putin memberi lampu hijau untuk dua operasi militer Turki sebelumnya terhadap YPB, sehingga Ankara menguasai daerah luas di Suriah.

Tetapi, seorang anggota delegasi Turki yang senior dan melawat ke Moskow pada Desember menurut laporan gagal memperoleh dukungan untuk operasi Turki terbaru terhadap YPG di Suriah timur laut.

*******

Untung NKRI tetap tegak. Andai ada ‘dalang’ yang pasti tidak hanya satu, mulai memainkan NKRI sebagai ‘ satu wayang’ betapa menyedihkan. Namun  agaknya tidak semua komponen bangsa menyadari, betapa dirinya ada dijadikan antek untuk memecah belah negeri sendiri.

Semoga hal ini hanya sebatas pada khayalan saya. Rasa khawatir itu ada, meski dalam hati tetap percaya masih tetap banyak komponen yang menyintai negeri ini. TNI dan Polri serta komponen-komponen lain pasti tidak rela bila NKRI dijadikan  ’satu wayang’ yang dikendalikan oleh ’banyak dalang’.

Bagaimana pun NKRI harga mati. Merdeka, Salam Pancasila.***