Press "Enter" to skip to content

Sengkuni, Mati Sembari Gigit Jari

Social Media Share

Oleh : Heru Subroto                                                       

Permusuhan antara Kurawa dan Pandawa sudah meningkat ke taraf adu kekuatan. Semua ini gara-gara manusia julig Sengkuni, Mahapatih Negara Astianapura. Dia kukuh berpendapat bahwa hak-hak Pandawa atas Kerajaan Astina, hanya impian belaka. Tapi Dewa bicara beda.

Waktu itu Pandawa yang masih remaja,  dan telah ‘lolos’ dari segala macam berita hoaks maupun fitnah dari bala Kurawa. Meskipun dikuya-kuya (dihina, dimaki), Pandawa tetap tegar, karena punya satu pegangan, yakni  kebenaran.

Pandawa Lima, plus ibunya, Kunthi; dipanggil Pelaksana Tugas (Plt) Raja Astina, Prabu Destarastra. Mereka diglembuk (dirayu) agar mau menyerahkan kekuasaan atas negara Astina kepada ke-100 saudara sepupu. Untuk itu mereka mendapat ganti berupa lahan hak milik berupa hamparan alas gung liwang-liwung (hutan belantara) yang belum pernah didatangi manusia.

Sebenarnya dari tatanan batin, hutan Amerta  (Wanamarta), merupakan suatu kerajaan yang diperintah oleh para lelembut, di bawah komando Prabu Yudhistira.

Kelima saudara dan Kunthi ditanya satu persatu, apakah setuju dengan usulan Prabu Destrarastra. Sebagai anak nyang sangat patuh pada perintah ibu, Pandawa menyerahkan keputusan kepada Dewi Kunthi. Oke. Deal.

Hebatnya Pandawa, ketika uwaknya, Prabu Destarastra; akan memberi bantuan tenaga manusia maupun dana, ditolak mentah-mentah. Seperti biasa, Pandawa akan selalu mendapatkan sesuatu dari hasil cucuran keringat sendiri, bukan karena uluran tangan orang luar.

Dalam perjalanannya, bekas hutan ini telah menjadi kerajaan baru, Indraprasta. Suatu saat, Kurupati, Putra Mahkota Astinapura; diundang untuk menyaksikan peresmian kerajaan Indraprasta. Kurupati atau Duryudana pun hadir. Mata terbelalak begitu melihat keindahan dan kekayaan Idraprasta. Duryudana tak menyangka balutan emas mewarnai setiap benda di ballroom Indraprasta.

Baca Juga  Saatnya Menetapkan Arah Masa Depan Bangsa

Rasa iri, dengki pun kumat lagi. Dia pura-pura sakit dan minta ijin segera pulang. Sesampai di Astina, dia panggil Sengkuni dan mengutarakan nafsu syahwat untuk menguasai Indrapasta. Nafsu angkara murkanya pun juga menyeruak, ingin menguasai orang lain punya hak.

Main Dadu

Maka dirancang lah permainan dadu. Yudistira lihai main dadu, asalkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sementara Patih Sengkuni termasuk lihai dalam melanggar peraturan, sehingga nyaris tak kentara.

Begitulah. Dalam permainan ini Duryudama diwakili Sengkuni, ahlinya. Ketika taruhan masih ‘kecil’ Sengkuni sengaja ‘memainkan’ dadunya kalah. Akhirnya diusulkan taruhannya berupa kerajaan. Oke, deal. Dan … di sinilah Sengkuni memainkan peranannya. Sekali lempar di arena, dadu Yudis kalah. Bahkan Sengkuni pun mengusulkan istri Yudis dipertaruhkan, karena Dursasana, adik Duryudana; menggandrungi Dewi Drupadi. Kalau Yudi s menag, kerajaan dikembalika. Bila kalah, Drupadi taruhannya. Kali ini kalah lagi.

Dalam taktik selanjutnya, Pandawa diusir selama 12 tahun. Kalau dalam waktu 12 tahun tidak ketahuan oleh intelejen maut dan antek-antek Kurawa, separoh negara yang dijadikan taruhan akan dikembalikan. Tapi kalau ketahuan, harus bersembunyi selama 12 tahun lagi. Bukan main trik Kurawa, untuk menyingkirkan Pandawa.

Singkat kisah, intel-intel tangguh dan kaki-tangan Kurawa ternyata tidak bisa menekukan Pandawa, sehingga lolos dari hukuman. Namun  begitu minta pengembalian separuh kerajaan, Duryudana menolak.

Tiga kali Yudis mengutus dua duta untuk menemui Duryudana soal pengembalian kertajaan. Pertama Prabu Drupada, mertua Yudis. Ditolak. Kedua Dewi Kunthi, ibu para Pandawa dan bibi para Kurawa, ditolak juga. Bahkan dihina semena-mena.

Pandawa pun mengutus duta terakhir, Kresna. Bila gagal, Pandawa akan melakukannya dengan kekerasan. Ternyata gagal juga. Ini antara lain karena pokal Sengkuni. Dia punya rencana culas. Dia punya kalkulasin perhitungan, dalam kekerasan (perang Bharata Yudha), Kurawa akan hancur. Tapi dia tetap tegar berkat kesaktian minyak Tala yang dioleskan ke seluruh tubuh.

Baca Juga  Mengatasi Tantangan Operasional UNTSO, UNDOF, dan Misi UNIFIL

Oh, ya. Ketinggalan. Sebenarnya Duryudana menginginkan agar Prabu Kresna ada di pihaknya. Namun Kresna menolak halus. Takkan mungkin dirinya sebagai pengawal kebenaran dan keadilan bergabung dalam suatu front bersama si serakah dan sang besar kepala Sengjkuni.

Memilih Ratu Sewu Negara

Maka dalam suatu pertemuan, Duryudana diminta memilih salah satu pilihan, yaitu dirinya (Krena) atau ratu (raja) sewu negara. Kata Kresna, “Bayangkan adi Prabu. Berarati punya seribu raja yang semuanya sakti. Kalau satu kerajaan punya 10 senapati andal, berarti ada 10.000 senapati andal berada di bawah komando adi Prabu. Kalau satu kerajaan memiliki lima juta prajurit pilihan plus jutaan lagi semi-prajurit, aduuhhhh…. adi Prabu, Anda memiliki ratusan juta manusia pilihan.”

“Sementara, saya hanya seorang. Bagaimana mungkin satu orang Kresna bisa menandingi puluhan juta manusia digdaya. Coba renungkan. Jangan salah pilih. Sekali pikir baik-baik. Jangan salah pilih. Satu Kresna atau ratu sewu negara plus jutaan prajurit dan senapatinya.”

Duryudana pun berpikir sejenak. Bayangan belasan juta manusia yang siap teriak galak di medan laga, telah membius otak warasnya. Dia lupa Kresna seorang, kalau mau, dia bisa menggulung jagad seisinya hanya dalam beberapa detik.

Tapi, dia ingat betul. Saudaranya yang 99 orang itu memang jago berteriak. “Kurawaaaaa……” maka pekaklah telinga. Kalau ditambah belasan juta…. medan perang akan bergoyang. Akhinya Duryudana memutuskan menjatuhkan pilihannya ke ratu sewu negara.

Bumi bergoyang ibarat dilanda gempa berkekuatan 8,5 SR. Dewa mencatat. Resi Durna, pujangga dan penasihat kerajaan; menangis sedih mendengar keputusan rajanya. Tapi Patih Sengkuni ketawa terbahak-bahak. Selain untuk menyambut keputusan raja, juga melukiskan betapa hatinya berbunga-bunga.

Baca Juga  Akal Bulus Patih Sengkuni

Dalam perang pasti Kurawa ludes di tangan Pandawa. Dan, hatinya berbisik, usai melenyapkan Kurawa, maka tiba gilirannya meremas habis Pandawa.

Tapi Dewa menentukan lain. Ketika Sengkuni mandi minyak Tala, ada bagian tubuhnya yang tidak tersetuh keaktian minyak ini, yakni di bagian tersembunyi, silit kodhok. Ibaratnya pisau bedah atau bahkan sinar laser takkan menembus kulitnya. Tapi di bagian silit kodhok, dengan ujung jaripun bisa sobek. Benar. Sengkuni akhirnya tewas di tangan Bima Sena dengan kuku Pancanaka. Dia lupa silit kodhoknya. Pandawa pun berjaya. Dan ketika meregang nyawa, Sengkuni sempat cuci tangan, kemudian gigit jari. ***