Oleh: Omar Sugiharto
Magister Rekayasa Pertahanan Siber, UNHAN RI
Ada sesuatu yang mengemuka dalam cara kita—terutama generasi muda—berinteraksi di media sosial: keengganan untuk mengalah. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi ruang belajar bersama kerap berubah menjadi adu ketegasan. Mengubah pandangan dianggap sebagai kekalahan, bertanya dipersepsikan sebagai keraguan, dan ragu sering disalahartikan sebagai ketidaktahuan.
Fenomena ini kerap dijelaskan sebagai dampak rendahnya literasi digital atau banjir misinformasi. Penjelasan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar. Sebab, bahkan pada topik ringan dan non-akademik, percakapan daring tetap mudah mengeras. Ada dorongan psikologis yang bekerja lebih halus, namun kuat, terutama pada fase usia yang masih mencari pengakuan.
Bagi generasi muda, pengakuan sosial memiliki arti penting. Di ruang nyata, pengakuan tersebut umumnya dibangun melalui proses pendidikan: belajar, berdiskusi, keliru, lalu memperbaiki diri. Sekolah dan kampus menyediakan ruang aman untuk berlatih mengemukakan pendapat, mendengar sanggahan, serta menerima koreksi tanpa kehilangan martabat.
Media sosial menawarkan jalan pintas yang berbeda. Satu komentar bernada tegas—bahkan merendahkan—sering kali cukup untuk membangun citra seolah-olah seseorang lebih tahu. Validasi datang cepat melalui tanda suka dan dukungan sesaat. Dalam situasi seperti ini, mengalah terasa tidak menguntungkan. Bertahan pada posisi, meski rapuh, dianggap lebih aman daripada membuka kemungkinan untuk salah.
Akibatnya, tujuan diskusi pun bergeser. Percakapan tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami, melainkan sebagai ajang mempertahankan posisi. Sikap ragu atau bertanya, yang sejatinya merupakan inti pendidikan, kerap dipandang sebagai kelemahan. Sebaliknya, kesimpulan cepat—meski dangkal—dipersepsikan sebagai kecerdasan. Mengalah tidak dilihat sebagai kedewasaan, melainkan sebagai kegagalan.
Media sosial memperkuat kecenderungan ini melalui lingkungan dengan akuntabilitas yang rendah. Anonimitas dan minimnya konsekuensi membuat bahasa keras terasa aman digunakan. Pernyataan singkat dan emosional lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan yang hati-hati dan bernuansa. Diskusi yang memerlukan waktu dan kesabaran pun kerap tersingkir.
Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membentuk kebiasaan berpikir generasi muda yang reaktif dan defensif. Ruang digital yang semestinya dapat menjadi perpanjangan ruang belajar justru melatih keengganan untuk mendengar dan ketidakmampuan untuk mengalah. Padahal, pendidikan tidak hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan cara berpikir.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan mengalah seharusnya dipahami sebagai bagian dari kecakapan berpikir, bukan sebagai kelemahan karakter. Proses belajar selalu melibatkan kemungkinan salah, koreksi, dan perubahan pandangan. Ketika ruang digital justru mengajarkan sebaliknya—bahwa bertahan pada pendapat apa pun risikonya lebih aman daripada membuka diri—maka ada nilai pendidikan yang perlahan hilang.
Sekolah dan kampus memiliki peran strategis untuk menegaskan kembali bahwa dialog bukanlah arena menang-kalah. Mengubah pendapat setelah memperoleh argumen yang lebih baik merupakan tanda kedewasaan intelektual, bukan kegagalan. Jika nilai ini dapat ditanamkan secara konsisten, ruang digital tidak hanya menjadi tempat berekspresi, tetapi juga perpanjangan dari ruang belajar yang membentuk generasi muda lebih reflektif, terbuka, dan bertanggung jawab dalam kehidupan publik.
Media sosial tidak harus menjadi ruang yang selalu dimenangkan. Ia dapat menjadi ruang belajar, jika kita bersedia memaknainya bukan sebagai ajang pembuktian diri, melainkan sebagai kesempatan untuk tumbuh melalui dialog yang dewasa.***







Be First to Comment